"Ah, aku cuman bercanda kok, Mas. Soalnya kayaknya kamu terlalu tegang," ujar Alina, tersenyum tipis. Elang berdecak, lalu menggeleng. "Aku harus ke kantor sekarang," ujar Elang tergesa-gesa, meraih tas kerjanya dan langsung melangkah lebar menuju pintu depan tanpa menoleh lagi. "Tunggu, Mas." "Apa lagi, Lin?" "Kamu mau apa setelah ini, Mas?" "Kamu masih tanya? aku harus cari modal dulu, aku harus cari pinjaman lain. Kamu harusnya mikir, Lin. Karna kamu, suamimu ini terancam bangkrut." "Lagian kenapa kamu ngga mau setuju dengan perjanjian pengamanan harta yang aku minta sih Mas? Kalau kamu setuju kan semuanya selesai." "Halah! Itu sama saja kamu ngga percaya suamimu. Udahlah, kamu cuman bikin aku pusing! aku pergi dulu." Di dalam hatinya, Alina bersorak dingin. Umpannya termakan sempurna. Elang kini terpaksa masuk ke dalam perangkap baru, mengulur waktu dengan bunga pinjaman darurat yang membumbung tinggi, sementara bank mulai menaruh curiga pada kondisi peru
Last Updated : 2026-08-25 Read more