Dewa menarik cangkir kopinya perlahan, namun pandangannya sama sekali tidak terlepas dari wajah Alina. Matanya mengunci Alina dengan tatapan yang tajam, dalam, dan penuh intensitas. Alina berusaha keras mengalihkan pandangan ke arah lain, tetapi aura dingin dan intimidatif dari adik iparnya itu seakan mengikat geraknya. Tubuh Alina gemetar pelan, dadanya makin berdesir hebat hingga dia benar-benar tidak kuat lagi untuk menatap balik mata Dewa. Elang membalik lembaran dokumennya dengan acuh, sama sekali tidak menyadari ketegangan panas yang terjadi di depan matanya. "Paket apa ya?" gumam Elang seraya memijat pelipisnya. "Aku juga lupa pernah pesan apa. Lin, coba kamu ambilkan paketnya, jangan lama-lama.” Alina mengangguk kaku, buru-buru membalikkan badan untuk melarikan diri dari tatapan Dewa. Jemarinya yang masih bergetar menyambar kotak paket berukuran sedang yang semalam diletakkan di dekat pintu, lalu membawanya kembali ke meja makan. "Ini, Mas," ucap Alina pelan, menye
Last Updated : 2026-08-06 Read more