Dewa menahan napas sekuat tenaga. Kedua tangannya meremas kuat dinding kayu pantry yang sempit. Tubuhnya membeku kaku saat sensasi puncak kenikmatan mendadak meledak hebat. “Sayang, hentikan,” bisik Dewa sangat pelan.Alina tidak memedulikan larangan Dewa, namun Dewa menarik Alina, lalu mencium bibirnya. Ciuman itu terlepas sebentar menyisakan benang saliva yang tertaut. “Aku tidak mau meledak di mulutmu, Alina,” bisik Dewa lagi. Tepat di saat Dewa membenahi celananya dengan napas yang masih memburu kaku, suara langkah kaki Elang yang mondar-mandir di luar pantry mendadak terhenti.“Alinaa! Kamu dimana, sih!” Suara sambungan telepon yang terhubung terdengar jelas menembus celah kayu tebal pantry. Suasana dapur yang hening membuat setiap bisikan Elang terdengar begitu jelas di telinga Alina dan Dewa. "Halo, Sayang... iya, ini aku," bisik Elang dengan suara pelan dan setengah mendesah. "Maaf ya baru angkat, tadi ada sedikit gangguan di rumah." Di dalam pantry yang sempit, Alin
Terakhir Diperbarui : 2026-08-10 Baca selengkapnya