INICIAR SESIÓNKabar buruk yang datang hampir berbarengan membuat Ellena dan Mahesa terpaksa mengakhiri pagi santai mereka lebih cepat. Keduanya buru-buru berangkat ke kantor masing-masing.Ellena sampai lebih dulu di Gedung NTV. Tanpa sempat menarik napas longgar, ia langsung menerobos masuk ke ruang rapat darurat, tempat seluruh jajaran redaksi sudah berkumpul dengan raut tegang."Bagaimana ini bisa terjadi lagi?" tanya Ellena to the point, menatap stafnya satu per satu. "Kenapa masalah seperti ini terus berulang?"Halim menghembuskan napas berat. "Jujur, saya juga bingung, Bu."Ellena terdiam sejenak. Tangannya refleks menopang dagu, merangkai berbagai kemungkinan di kepalanya."Ini aneh..." Tatapannya makin tajam. "Agus sudah resmi keluar dari NTV, tapi sabotase masih terus terjadi."Ia melangkah perlahan mengelilingi meja rapat."Artinya..." Ellena menjeda kalimatnya.Suasana ruang rapat seketika hening mencekam."...di kantor ini masih ada pengkhianat lain yang main belakang."Pernyataan itu s
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ruangan kembali senyap, hanya menyisakan irama napas teratur dari mereka berdua yang masih saling memeluk erat di atas sofa.Kepala Mahesa bersandar nyaman di dada Ellena, napasnya berat dan tenang—tanda kelelahan benar-benar menyergapnya. Ellena terbangun lebih dulu. Kelopak matanya perlahan terbuka, dan hal pertama yang ia lihat adalah raut wajah lelah suaminya yang tampak damai.Jemarinya bergerak pelan, menyisir helai rambut hitam itu dengan penuh kasih sayang, menatap lekat-lekat sosok yang begitu berarti baginya.Merasa ada usapan lembut di rambutnya, Mahesa mengerang pelan. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya matanya terbuka sepenuhnya.Ellena tersenyum tipis, berbisik dengan suara serak khas orang yang baru terbangun. “Sayang, kamu capek, ya?”Alih-alih menjawab, Mahesa justru tersenyum malu, rona merah samar menjalar di pipinya. Ia tiba-tiba salah tingkah dan buru-buru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.Kekehan
Sesampainya di rumah, pikiran Ellena tetap tidak bisa tenang.Bayangan Agus yang mengenakan seragam ALTV terus berputar-putar di kepalanya. Bagaimana bisa? Bukankah pria itu baru saja dipecat dari NTV? Lalu, kenapa sekarang malah mendadak bekerja di stasiun TV milik suaminya?Ellena terduduk di sofa ruang tamu. Tanpa sadar, ia menggigit kecil ujung jarinya—kebiasaan lama yang selalu muncul tiap kali kepalanya dipenuhi pikiran berat.Saking larutnya dalam spekulasi, Ellena sampai tidak mendengar suara pintu depan yang terbuka."Sayang..."Suara lembut itu terdengar tepat di dekat telinganya, disusul sepasang lengan yang merengkuh bahunya hangat dari belakang.Ellena sedikit tersentak. "Mas... sudah pulang?""Iya," Mahesa tersenyum, tetap mempertahankan posisinya. "Lagi melamunkan apa, hm? Kelihatannya serius sekali."Ellena menoleh sekilas. Jujur, dorongan untuk langsung mempertanyakan keberadaan Agus di ALTV sangat kuat. Namun, ia buru-buru menahannya. Hari ini hari ulang tahun Mahesa
Cuaca Jakarta siang itu sedang terik-teriknya.Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Waktu istirahat makan siang akhirnya tiba.Suasana kantin Gedung NTV yang biasanya sepi mendadak riuh oleh presensi para karyawan. Denting sendok beradu piring, derai tawa, dan obrolan ringan bersahutan mengisi ruangan, mencairkan kepenatan usai berkutat dengan tenggat waktu sejak pagi.Di salah satu sudut meja, Halim, Irfan, dan Kenzo tampak menikmati santap siang mereka sembari sesekali bertukar pikiran mengenai materi siaran esok hari.Namun... tak semua orang menghabiskan jeda siang itu di dalam kantin.Di saat mayoritas staf sibuk menyantap makan siang, Damar justru melangkah tergesa meninggalkan area gedung. Ia masuk ke kabin mobilnya, lalu membelah kepadatan arus lalu lintas ibu kota yang tengah terik-teriknya.Tak sampai setengah jam kemudian, kendaraannya sudah merapat di halaman Gedung ALTV.Tanpa buang-buang waktu, Damar melangkah tegap menuju lift, mengarah ke lantai teratas tempat ruang
Meski dadanya mulai dipenuhi rasa cemburu, Mahesa tetap berusaha berbicara dengan tenang."Oh... begitu. Ya sudah, langsung pulang ke rumah ya, Sayang, jangan mampir ke mana-mana lagi. Rapat Mas sebentar lagi juga selesai.""Iya, Sayang," sahut Ellena diselingi senyum. "Aku tunggu di rumah, ya. Bye.""Bye."Sambungan telepon itu terputus.Seketika itu pula, sisa-sisa kehangatan di wajah Mahesa menguap tanpa bekas.Dengan gerakan lambat, ia meletakkan ponselnya di atas sofa ruang kerja, lalu menyandarkan tubuhnya sembari menghembuskan napas berat. Sorot matanya mendingin, menikam hampa ke depan."Kenzo..." bisiknya, menyebut nama itu dengan nada ganjil. "Ternyata kamu mulai berani menyelinap ke kehidupan Ellena."Mahesa mengusap wajahnya kasar. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya mengeras menahan geram."Tidak..." sergahnya pelan pada diri sendiri, penuh penekanan dingin. "Ellena tidak boleh bergantung pada siapa pun di dunia ini."Ia menyunggingkan senyum miring. "Dia cuma boleh berga
Usai rapat evaluasi itu dibubarkan, Kenzo bersiap-siap untuk beranjak pulang.Jarum jam menunjukkan tepat pukul tiga sore. Langit Jakarta yang sejak siang mendung akhirnya tak sanggup lagi menahan beban; hujan deras pun runtuh, membasahi pelataran Gedung NTV.Kenzo tak langsung bergegas menuju area parkir. Ia memilih berdiam diri di bawah kanopi lobi, bersandar santai di salah satu pilar sembari menikmati derai air yang turun kian lebat."Lumayan sejuk juga..." bisiknya pelan pada diri sendiri. "Beberapa hari ini Jakarta rasanya menyengat banget."Ia memejamkan mata sejenak, meresapi embusan angin sore.Tak lama berselang...Terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi beberdu dengan lantai granit lobi.Kenzo membuka mata. Entah mengapa, irama langkah kaki itu terasa familier di telinganya.Bahkan sebelum ia sempat memutar tubuh, sebuah suara lembut sudah lebih dulu menyapa, "Kenzo."Kenzo berbalik spontan. "Eh... Bu Ellena."Ellena mengulas senyum ramah, mengambil posisi berdiri di samp







