Home / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 6. Pertemuan Pertama

Share

Bab 6. Pertemuan Pertama

Author: Elsa Mahesa
last update publish date: 2026-07-14 19:19:30

"Kalau begitu, Om... kita berangkat sekarang saja."

Kenzo segera bangkit dari sofa, lalu melangkah menuju lantai atas. Tidak butuh waktu lama bagi pria itu untuk turun kembali dengan penampilan yang jauh lebih segar. Kemeja santainya sudah berganti dengan pakaian yang lebih formal, bahkan tatanan rambutnya kini terlihat jauh lebih rapi daripada beberapa menit lalu.

Halim memperhatikan perubahan penampilan keponakannya itu dari atas ke bawah, lalu menyeringai tipis. "Antusias banget, Ken?" sindir Halim. "Perasaan kemarin susahnya setengah mati Om bujuk kamu buat ikut ke Jakarta."

Kenzo hanya tersenyum kecil sambil merapikan letak jam tangan di pergelangan kirinya. "Papa selalu berpesan, apa pun jalur pekerjaan yang sudah kita pilih, harus dijalani dengan sungguh-sungguh." Pria muda itu menatap Halim dengan sepasang mata yang memancarkan keseriusan. "Karena Kenzo sudah memutuskan untuk datang ke sini, artinya saya juga harus memberikan impresi yang terbaik."

Halim mengamatinya lekat-lekat, mencoba membaca apakah ada maksud tersembunyi di balik ketegasan keponakannya tersebut. "Semoga memang itu alasan utamamu," gumam Halim dengan suara rendah. "Bukan karena ada motif lain."

Kenzo hanya terkekeh pelan tanpa berniat memberikan jawaban atau bantahan apa pun.

Tidak berselang lama, keduanya segera meninggalkan kediaman mereka. Mobil sedan hitam milik Halim melaju membelah jalanan kota menuju rumah sakit swasta tempat Ellena berada.

Sayangnya, perjalanan mereka hari itu tidak berjalan semulus yang diharapkan. Arus kendaraan di salah satu jalur protokol pusat kota tampak padat merayap, bahkan nyaris tidak bergerak sama sekali.

"Astaga... kenapa pula harus terjebak macet di jam-jam seperti ini," gerutu Halim kesal sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya pada kemudi mobil.

Berbeda dengan sang paman yang terus-menerus mengeluh, Kenzo justru lebih banyak memilih diam. Pandangannya lurus menembus kaca depan kendaraan, seolah-olah pikirannya sedang mengembara ke tempat lain.

Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba memutar kepalanya. "Om."

"Hm? Kenapa?" sahut Halim tanpa menoleh.

"Bagaimana kalau kita mampir sebentar ke toko buat beli bunga?" usul Kenzo.

Halim melirik keponakannya itu sekilas dengan tatapan datar. "Bunga? Untuk apa?"

"Ya... sebagai bentuk simpati. Beliau kan saat ini sedang dirawat di rumah sakit," jelas Kenzo retoris.

Halim langsung menggelengkan kepala tanda menolak usulan tersebut. "Tidak usah repot-repot. Kita datang ke sana dalam kapasitas profesional sebagai orang kantor, bukan sebagai kerabat dekat."

Jawaban lugas dan agak kaku dari pamannya itu membuat Kenzo hanya bisa mengangguk-angguk paham. Ia pun memilih untuk tidak lagi memperpanjang obrolan mengenai hal tersebut.

Untungnya, beberapa menit kemudian titik kemacetan mulai terurai. Sedan hitam itu kembali menambah kecepatan hingga akhirnya berhasil bergerak memasuki area pelataran parkir rumah sakit.

Begitu tiba di rumah sakit, Halim dan Kenzo segera melangkah masuk melewati pintu lobi utama. Setelah memastikan nomor kamar rawat di meja informasi, keduanya langsung menaiki lift menuju lantai khusus paviliun VIP.

Pintu lift berdenting terbuka, menyambut mereka dengan aroma khas antiseptik yang menguar tipis. Koridor lantai itu tampak begitu lengang dan tenang; hanya ada satu-dua perawat yang sesekali melintas pelan sambil mendorong troli berisi perlengkapan medis.

Dengan langkah yang pasti, Halim berjalan memimpin di depan hingga akhirnya langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu kokoh dengan pelat nomor VIP 305. Halim mengetuk permukaan pintu sebanyak tiga kali secara perlahan.

"Masuk," terdengar sahutan samar Ellena dari arah dalam.

Halim pun memutar gagang pintu dengan hati-hati. Begitu melangkah masuk, tatapannya langsung tertuju pada Ellena yang tengah bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang. Raut wajah wanita itu masih tampak pucat, sementara selang infus masih terpasang rapi di punggung tangan kirinya.

"Selamat sore, Bu. Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Halim dengan nada suara yang direndahkan, penuh kesopanan.

Ellena menggelengkan kepala pelan sembari menyunggingkan senyuman tipis yang ramah. "Tidak apa-apa, Halim. Lagipula, justru saya sendiri yang meminta kalian untuk datang ke sini."

Halim kembali mengangguk sopan dengan tersenyum ramah, ia bergeser sedikit ke samping, memberi ruang yang lebih lega.

"Oh iya, Bu. Izinkan saya memperkenalkan seseorang secara resmi." Ia menepuk pelan bahu pria muda di sebelahnya. "Ini keponakan saya, Kenzo Kazbegi Kaze. Orang yang saya ceritakan ditelepon. Calon news anchor NTV."

Kenzo langsung melangkah maju dan membungkukkan badannya dengan gestur yang sangat sopan. "Selamat sore, Bu Ellena. Perkenalkan, saya Kenzo. Sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu langsung dengan Anda. "

Atensi Ellena kini sepenuhnya tertuju pada pria di hadapannya. Secara visual, sosok nyata di depannya ini sama persis dengan foto yang ia amati di CV. Posturnya tegap atletis, penampilannya sangat rapi, dan sorot matanya memancarkan rasa percaya diri yang matang—bukan jenis percaya diri yang berlebihan atau arogan.

"Kamu... sudah punya pengalaman jadi news anchor?" tanya Alena langsung pada intinya. Nada suaranya terdengar tenang, namun tetap menyiratkan wibawa seorang pemimpin yang jeli.

"Kalau sebagai pembawa acara berita formal memang belum pernah, Bu. Tapi, saya sudah cukup lama aktif di dunia penyiaran sebagai komentator olahraga, khususnya cabang baseball," jawab Kenzo dengan intonasi bariton yang lugas dan tertata rapi.

Ellena manggut-manggut pelan. "Berarti kamu memang sudah cukup akrab dengan atmosfer di depan kamera dan mikrofon."

"Betul sekali, Bu," sela Halim cepat, mencoba memberikan poin tambahan. "Bahkan sebelum terjun ke dunia komentator, Kenzo ini adalah atlet baseball profesional di Jepang."

"Oh, ya?" Ellena tampak mulai tertarik dengan latar belakang tamunya ini. "Kamu tampaknya masih sangat muda. Kenapa tidak melanjutkan karier cemerlang sebagai atlet?"

Ekspresi Kenzo sedikit berubah menjadi lebih serius, ada kilat kenangan samar di matanya. "Saya sempat mengalami cedera yang cukup parah di bagian bahu kanan, Bu. Tim dokter menyarankan saya untuk pensiun dini agar cederanya tidak sampai berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang."

"Hmm..." Alena mengangguk pelan, tampak menimbang-nimbang cerita tersebut di dalam kepalanya.

Beberapa detik kemudian, ia kembali menatap Kenzo dengan saksama. "Baiklah. Mulai besok, kamu akan langsung masuk ke tahap masa percobaan sebagai news anchor. Saya ingin melihat sendiri bagaimana pembawaan, artikulasi, dan caramu menguasai panggung di depan kamera nanti. Setelah melihat hasilnya, baru saya akan memutuskan apakah kamu layak untuk bergabung dengan tim NTV atau tidak."

Kenzo langsung mengangguk tanpa ragu.

"Saya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik."

Ellena menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Semoga insting saya kali ini tidak salah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 152. Ketika Semuanya Terbongkar

    Mahesa baru beberapa langkah memasuki lobi rumah sakit ketika kepalanya mendadak berputar balik.Kenzo.Pria itu masih di atas. Dan Mahesa tidak mungkin membiarkannya lolos begitu saja.Ia berbalik cepat, melangkah lebar menuju barisan lift. Begitu pintunya terbuka, Mahesa masuk dan menekan tombol lantai atas tanpa ragu.Jari-jarinya mengetuk paha dengan gelisah. Ucapan Kenzo terus terngiang-ngiang dan membakar kepalanya.Ellena sempat transfusi darah.Salah satu bayinya kritis.Dan pria itu tahu soal hubungannya dengan Malhera.Pintu lift berdenting dan terbuka.Mahesa langsung melesat keluar. Matanya menyapu lorong sampai akhirnya menemukan Kenzo yang masih berdiri santai di sana, bersandar pada pagar pembatas.Tatapan mereka bertabrakan. Kenzo cuma menyunggingkan senyum tipis.Napas Mahesa memburu saat ia mengikis jarak. Tanpa aba-aba, ia menyambar kerah baju Kenzo dan mendorongnya kasar sampai punggung pria itu menabrak dinding.“Brengsek. Berani-beraninya kamu kurang ajar sama sa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 151. Di Balik Panggilan

    Mahesa tidak sanggup hanya duduk menunggu. Setelah memerintahkan orang-orangnya bergerak untuk mencari Ellena, ia sendiri ikut turun ke jalan. Satu demi satu rumah sakit di Milan ia datangi langsung. Namun hasilnya nihil. Nama Ellena tidak pernah terdaftar di bagian penerimaan pasien. Mahesa melangkah cepat keluar dari rumah sakit kesekian. Wajahnya makin tegang saat melirik layar ponsel yang tetap sepi. Tidak ada kabar. Sama sekali. Ia menekan nomor orang kepercayaannya. “Gimana?” “Belum ada perkembangan, Pak. Tim masih menyisir.” “Terus cari. Jangan ada yang terlewat.” Mahesa memutus sambungan. Ia masuk kembali ke mobil dan langsung menyebutkan nama rumah sakit berikutnya pada sang sopir. Di sepanjang jalan, kepalanya terus berputar. Kenapa Ellena nekat terbang ke Milan tanpa bilang apa-apa? Kenapa istrinya tidak menghubunginya? Dan yang paling membikin kalut, kenapa ponselnya mendadak mati total? Beberapa saat kemudian, Mahesa kembali keluar dari rumah sakit

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 150. Mencari Ellena

    Bi Minah memejamkan mata rapat-rapat sebelum akhirnya menyerah pada desakan Mahesa.“I-Ibu Ellena... dia ke luar negeri, Pak. Menyusul Pak Mahesa.”“Apa?” Suara Mahesa pelan, nyaris tak terdengar. “Sejak kapan?” tanyanya lagi. Kali ini, nadanya naik satu oktav. “Cepat jawab, Bi.”“Sejak tiga hari yang lalu, Pak. Ibu bilang mau menyusul Pak Mahesa ke Milan.”“Tiga hari yang lalu...”Mahesa terdiam. Napasnya berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha mencerna maksud dari ucapan Bi Minah.“Kenapa dia nggak ada kasih kabar? Terus dia berangkat sama siapa?”“Bibi beneran nggak tahu, Pak. Ibu cuma bilang mau nyusul ke Milan. Cuma itu.”Mahesa tidak membalas lagi.Telepon langsung ia matikan begitu saja.Ia menurunkan ponsel dari telinganya perlahan. Ekpresinya berubah total—ada campuran bingung, cemas, dan frustrasi yang memuncak. Perubahan raut wajah itu tidak luput dari perhatian Malhera yang sejak tadi duduk memenanginya.“Mas, ada apa?” tanya Malhera, menyadari aura yang mendad

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 149. Di Balik Diam Bi Minah

    Rasa tidak enak itu masih mengganggu Mahesa.Bahkan setelah urusan bisnisnya beres, kepalanya tetap riuh. Ada yang mengganjal.Ia meraih ponsel di meja, lalu memeriksa layarnya lagi.Nihil. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada satu pun panggilan dari Ellena sejak kemarin.Keningnya berkerut. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan nama istrinya dan menelepon.Nada sambung berdering... terus berdering. Sampai akhirnya terputus sendiri tanpa ada jawaban.“Kenapa nggak diangkat, sih?” gumamnya heran. Ia melirik jam tangan. "Bukannya di Jakarta sekarang jam kerja? Harusnya Ellena sudah bangun dan pegang ponsel."Perasaan gelisahnya malah makin menjadi-jadi. Mahesa memijit pangkal hidungnya, lalu mengetik pesan singkat. Ia menanyakan kabar Ellena, menyisipkan rasa khawatirnya, dan bertanya kenapa seharian kemarin istrinya menghilang tanpa kabar.Setelah pesan terkirim, ia mengembuskan napas berat. Matanya terpejam sejenak, mencoba menata pikiran yang mulai membayangkan hal yang tidak-tidak

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 148. Tekad di Koridor Sunyi

    Beberapa waktu kemudian, Ellena dipindahkan ke ruang pemulihan.Tubuhnya masih begitu lemas, tapi kepalanya terus diisi satu hal.“Bayiku...”Seorang perawat melangkah mendekati bangsalnya. “Bu Ellena, bayi perempuan Ibu saat ini masih di ruang perawatan intensif ya. Dokter masih harus memantau pernapasannya dulu.”Ellena mendongak, menatap perawat itu lekat-lekat. “Saya boleh melihatnya?”“Boleh, Bu. Tapi jangan terlalu lama berdiri dulu ya.”Perawat itu dengan sigap membantu Ellena berpindah duduk ke kursi roda.“Saya antar, Bu,” sahut Kenzo pelan.Tanpa banyak canggung, Kenzo mengambil alih pegangan kursi roda dan mendorongnya perlahan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan bayi.Sepanjang jalan, Ellena hanya membisu.Jemarinya meremas erat ujung selimut di pangkuan, sementara fokusnya tak pernah beralih dari bayangan bayi perempuan yang baru saja dibawanya ke dunia.Begitu sampai di depan ruangan, Kenzo memperlambat dorongannya.Mata Ellena langsung tertancap pada se

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 147. Firasat yang Tak Terjelaskan

    Tangisan bayi itu masih enggan terdengar.Dokter dan tim perawat bergerak cepat mengerumuni meja resusitasi. Jemari mereka cekatan melakukan penanganan awal, menepuk-nepuk telapak kaki dan mengusap punggung mungil itu untuk memicu respons pertama kehidupan.Namun, ruangan itu masih diselimuti sunyi yang mencekam.Ellena yang masih bersandar lemas dengan napas patah-patah mulai menangkap kejanggalan di sekitarnya.Matanya yang berat perlahan terbuka penuh. Ia mengoper pandangan—dari raut tegang para medis, lalu tertuju pada tubuh kecil yang tak bergerak di sudut ruangan.“Kenapa...?” bisiknya parau, nyaris tak terdengar.Tak ada satu pun tenaga medis yang menyahut; fokus mereka sepenuhnya terkunci pada bayi itu.Ellena beralih menatap Kenzo, mencari pegangan.“Ken...”Kenzo menunduk rapat.“Kenapa anakku nggak nangis?”Pertanyaan itu menghantam dada Kenzo hingga tenggorokannya terasa tersumbat. Ia menelan ludah payah. Jujur, dadanya sendiri bergemuruh hebat dihinggapi ketakutan yang sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status