หน้าหลัก / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 1. Suami yang Selalu Ada

แชร์

Obsesi Gila Suamiku
Obsesi Gila Suamiku
ผู้แต่ง: Elsa Mahesa

Bab 1. Suami yang Selalu Ada

ผู้เขียน: Elsa Mahesa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-14 17:47:35

Meski Ellena sedang merasa tidak enak badan, Mahesa tak sekalipun meredam sentuhannya. Jari-jarinya terus menjelajah setiap lekuk tubuhnya, seolah hasrat yang meluap tak bisa lagi ditahan sedikitpun.

"Mas..." rintih Ellena lemah, tangannya mencoba menahan dada bidang suaminya. "Tolong... jangan sekarang, aku sedang sakit."

Mahesa tak berhenti. Ia justru menekan tubuhnya makin rapat, suara beratnya berbisik tepat di telinga: "Tidak bisa, sayang. Hal seperti ini tak pernah bisa ditunda."

Benar saja, Mahesa sama sekali tak menghiraukan penolakan itu. Gerakannya di atas tubuh Ellena justru makin mantap dan menuntut, tangannya menyusuri kulitnya dengan sentuhan yang hangat sekaligus membakar. Ellena hanya bisa merintih pelan, menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang tak sengaja lolos—sampai jari Mahesa yang basah kuyup menyentuh bibirnya, menutupnya perlahan namun pasti, seolah ingin menelan setiap suara itu miliknya sendiri.

Perlahan namun pasti, keduanya tenggelam dalam arus gairah yang memabukkan. Semua alasan, rasa tidak nyaman, dan keraguan seketika lenyap, berganti menjadi keinginan yang tak terbendung untuk saling memiliki. Mereka bergerak selaras, menyatu dalam setiap tarikan napas dan sentuhan, hingga akhirnya melesat bersama mencapai puncak klimaks yang memuncak.

Saat pagi menjelang, tubuh Ellena masih terasa panas. Belum ada tanda-tanda kondisinya membaik sedikitpun.

"Belum sembuh juga... Padahal biasanya setelah kita begituan, dia langsung pulih," gumam Mahesa pelan dalam hati, cemas mulai menyelimuti dadanya.

Ia kembali menempelkan punggung tangannya ke jidat istrinya. Panasnya justru makin terasa. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Mahesa segera merapikan pakaiannya, lalu dengan sigap mengangkat tubuh Ellena dalam dekapannya dan membawanya segera ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, matanya tak lepas dari wajah wanita itu. Raut wajahnya tampak sangat gelisah. Sementara Ellena hanya terkulai lemah, wajahnya pucat pasi dengan butiran keringat dingin yang masih menetes di keningnya.

Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, mobil akhirnya terparkir di halaman rumah sakit. Mahesa langsung turun, menggendong Ellena erat-erat dan bergegas masuk agar istrinya segera mendapatkan penanganan.

Ellena segera ditangani dengan cepat. Tak lama kemudian, ia sudah terbaring di ranjang rawat dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya.

"Ibu Ellena mengalami kekambuhan pada gangguan asam lambungnya. Sepertinya istri Bapak sedang memikirkannya terlalu berat, sehingga memicu stres yang mengganggu pola makan dan pencernaannya," jelas dokter di hadapan Mahesa.

Mahesa hanya terdiam kaku. Ia tahu persis apa penyebabnya!

Setelah dokter pergi, ia duduk di kursi dekat ranjang, menatap lekat sosok istrinya yang masih terbaring lemah. Tanpa sadar, tangannya bergerak ke mulut—menggigit kuku, kebiasaan lama yang selalu muncul saat ia sedang diliputi rasa bersalah dan pikiran yang berat.

Beberapa saat berlalu, suhu tubuh Ellena perlahan mulai turun. Kelopak matanya bergerak pelan, lalu terbuka perlahan. Begitu melihatnya sadar, Mahesa segera mendekat dan menggenggam tangan istrinya erat.

"Sayang... kamu sudah sadar," suaranya terdengar lega sekaligus lembut.

"Aku... di mana ini, Mas?" tanya Ellena dengan suara serak.

"Di rumah sakit, Sayang. Asam lambungmu kambuh lagi," Mahesa membelai lembut rambut di dahi istrinya. "Ini pasti karena kamu terlalu memikirkan masalah di perusahaan yang sedang krisis itu, kan?"

Ellena hanya diam, tak berani menjawab sepatah kata pun.

"Sayang, aku sudah berkali-kali, ngomong sama kamu, lepasin aja perusahasn itu, toh aku bakal jamin hidup kamu kok." cecar Mahesa menahan kesal.

"Aku nggak bisa, Mas," sahut Ellena sembari menggelengkan kepala pelan. "Perusahaan itu milik keluargaku. Aku adalah satu-satunya penerus yang mereka punya saat ini."

"Iya, aku paham. Tapi coba lihat keadaanmu sekarang." Tangannya terangkat, menunjuk ke arah tubuh Ellena yang masih tampak lemas. "Kamu jadi sering sakit-sakitan, bahkan sampai harus masuk rumah sakit kayak gini?"

Ellena hanya bisa menundukkan kepala. Bibirnya tergigit pelan. Ada begitu banyak bantahan yang ingin ia ucapkan, tetapi tubuhnya yang masih lemah membuatnya tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

Untuk sesaat, pandangannya jatuh pada selang infus yang menempel di lengannya. Pemandangan itu saja sudah cukup menjadi jawaban atas semua kekhawatiran Mahesa.

Melihat istrinya hanya terdiam dengan raut sedih, Mahesa langsung melunakkan sikapnya. Ia merengkuh tubuh Ellena ke dalam pelukannya, lalu mengusap punggung wanita itu dengan gerakan lembut. "Sudah, tidak apa-apa, Sayang. Maafkan aku... aku bicaranya terlalu keras sama kamu."

Ellena membalas dekapan itu dengan sangat erat. Bagi Ellena, Mahesa adalah satu-satunya tempat ia bisa bersandar dengan aman. Di hadapan rekan kerja dan keluarganya, Ellena selalu dituntut untuk terlihat tegar dan mandiri. Hanya di depan suaminya inilah ia berani menumpahkan segala rasa lelah dan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Beberapa saat kemudian, Mahesa perlahan merenggangkan pelukan mereka. "Aku berangkat ke kantor dulu, ya? Kamu benar-benar tidak apa-apa aku tinggal sendirian di rumah sakit?" tanya Mahesa dengan nada suara yang terdengar berat.

"Tidak apa-apa, Mas. Di sini kan banyak dokter dan perawat yang berjaga. Kalau terjadi apa-apa, nanti aku pasti langsung mengabari kamu," tutur Ellena menenangkan.

Mahesa mengangguk pelan. "Baiklah. Aku pergi dulu, ya."

Sebelum berbalik langkah, ia mengecup lembut kening Ellena, lalu jemarinya bergerak mengusap puncak rambut istrinya dengan penuh kasih sayang. "Dah, Sayang."

Mahesa melambaikan tangan sekilas sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang rawat VIP tersebut. Sosok tegapnya perlahan menjauh hingga benar-benar menghilang di balik pintu yang tertutup rapat. Setelah kepergian suaminya, Ellena kembali menyandarkan punggungnya ke ranjang. Tatapannya mendadak kosong, seakan seluruh kekuatan yang ia paksakan muncul tadi ikut menguap pergi bersama langkah kaki Mahesa.

Sekitar tiga puluh menit berselang, Mahesa akhirnya tiba di area kantornya. Sebuah gedung pencakar langit yang megah berdiri kokoh menyambut kedatangan pria itu. Mobil mewah yang ditumpanginya berhenti tepat di depan lobi utama gedung.

Mahesa turun dari kendaraan dengan langkah kaki yang begitu mantap. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak melekat rapi, membungkus proporsi tubuh tegapnya dengan sempurna. Begitu ia melangkah memasuki area dalam gedung, aura dingin dan berwibawa seorang pemimpin langsung terpancar kuat, membuat para karyawan yang kebetulan berpapasan spontan menundukkan kepala demi memberikan salam hormat.

Telepon berdering tanpa henti dari berbagai meja. Beberapa staf tampak setengah berlari membawa tumpukan kertas rundown. Di sudut lain, para editor bergerak cepat di depan monitor, berkejaran dengan ketukan keyboard yang saling bersahutan. Dari ruang audio, terdengar suara kru yang sedang melakukan sound check.

"Segmen tiga pindah ke menit dua belas! Geser bumper-nya sekarang!" teriak seorang produser dari ujung ruangan.

Mahesa menyusuri lorong panjang yang dipenuhi papan jadwal produksi dan monitor yang menampilkan tayangan live. Kru dengan headset sibuk memberi instruksi, sementara tim kreatif berkumpul di depan papan tulis, berdebat seru soal storyboard baru.

Menjelang sore, Mahesa berdiri di dalam control room. Di depannya, deretan layar besar menampilkan grafik performa acara secara real-time, lengkap dengan pergerakan angka penonton yang terus naik-turun.

Matanya tertuju pada satu garis grafik yang perlahan-lahan merangkak naik, melewati angka kompetitor.

Mahesa menaikkan sebelah alisnya, senyum puas tipis muncul di sudut bibirnya. "Bagus. Pertahankan posisinya, apa pun programnya, jaga ritme. Kita harus tetap stabil."

Suaranya terdengar tenang, namun ambisi besar di dalamnya tidak bisa disembunyikan. Para staf mengangguk cepat, langsung kembali fokus ke layar komputer masing-masing.

Langkah Mahesa baru saja mencapai pintu keluar ketika seorang pria berjas menghampirinya.

"Pak Mahesa."

Mahesa menghentikan langkahnya, lalu menoleh tenang ke arah pria yang baru saja memanggilnya.

Dia adalah Dito, Direktur Akuisisi dan Investasi di MH Group.

"Soal Bu Ellena," ucap Dito dengan suara rendah. "Apa penekanannya kita teruskan? Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencana. Tinggal selangkah lagi NTV jatuh ke tangan Anda."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 78. Rahasia dan Pilihan

    Laura langsung menyelinap masuk ke dalam kamar mandi begitu berhasil meloloskan diri dari Kenzo.Begitu daun pintu terkunci rapat, ia menyandarkan punggungnya pada permukaan dingin dinding keramik, lalu meluruhkan napas panjang yang sedari tadi tertahan di tenggorokan."Oke... rileks, La. Jangan panik. Jangan gugup. Tenang..."Ia menepuk-nepuk kedua pipinya pelan, berjuang menguasai diri."Tenang, oke?"Namun, ritme detak jantung di dalam dadanya masih menolak diajak kompromi.Laura mendongak, memaku pandangan pada bayangannya sendiri di balik cermin di atas wastafel. Rona merah di parasnya masih tercetak amat jelas—terlebih tiap kali ingatannya memutar ulang momen tatkala jemari Kenzo menggenggam benda pribadinya tadi."Kenapa juga aku harus se-panik itu, sih?" gumamnya meratapi kecerobohan sendiri.Ia meraup wajahnya gusar, lalu kembali memompa paru-parunya dengan tarikan napas dalam-dalam.Cukup lama Laura terkurung di dalam kamar mandi, murni demi menetralisasi isi kepalanya yang

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 77. Ketika Perasaan Menjadi Misi

    "Ngomong apa kamu barusan, La?"Laura tersentak kecil, refleks memundurkan bahunya."Laura cuma bergumam, Om. Nggak usah dianggap serius," elaknya cepat, berjuang menetralkan raut wajah.Halim memaku pandangannya selama beberapa detik, menyelidik dengan ketenangan yang intimidatif."Kalau begitu, dari mana kamu bisa tahu Kenzo menyimpan rasa pada Ellena?"Laura seketika bungkam.Seluruh pembelaan yang sudah ia susun di kepala mendadak menguap tanpa sisa di hadapan Halim. Pria paruh baya itu terus menatapnya lurus, hingga akhirnya Laura hanya bisa meluruhkan pandangan, menatap ujung sepatunya sendiri."Saya sudah berulang kali menasihati Kenzo agar mengubur perasaan konyolnya pada Ellena," desah Halim pelan, menyisakan keletihan dalam intonasinya. "Tapi tampaknya anak itu masih saja goyah dan gagal menguasai hatinya sendiri."Laura makin salah tingkah, meremas jemarinya yang mendadak dingin. Ia sama sekali tak menduga Halim sudah mengantongi rahasia itu lebih dulu."Laura."Suara Halim

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 76. Saingan yang Mustahil

    Kabar kehamilan bayi kembar itu membanjiri dada Ellena dengan kebahagiaan luar biasa. Air mata harunya tak lagi terbendung, menetes pelan membasahi pipi.Mahesa yang berdiri di samping ranjang periksa tak tinggal diam; ia merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan erat dan hangat. Diusapnya punggung Ellena penuh kasih, lalu ia mengecup kening wanita itu lama, seolah ingin menyerap setiap rasa haru yang memenuhi hati mereka."Bayi kembar, Sayang..." bisik Mahesa penuh kelembutan.Ellena tersenyum di balik tangisnya. "Iya... aku benar-benar tidak menyangka. Ini terasa seperti mimpi."Kehangatan yang menyeruak di ruang pemeriksaan itu bahkan membuat dokter yang memeriksa mereka tak sanggup menahan senyum turut bahagia.Hari demi hari bergulir.Perut Ellena mulai membuncit, kian nyata menandakan kehidupan ganda di dalamnya. Kendati tubuhnya makin lekas lelah, Ellena tetap memaksakan diri menjalani rutinitas. Sebagai CEO, ia merasa bertanggung jawab untuk memantau pekerjaan dan sesekali menamp

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 75. Dua Kehidupan dalam Satu Detak

    Suasana restoran malam itu jauh lebih lengang dibanding biasanya. Denting sendok dan garpu samar terdengar di antara segelintir meja yang masih terisi menjelang tengah malam.Makanan disajikan satu per satu.Laura menikmati santapannya tanpa terburu-buru. Sikapnya berbanding terbalik dengan Kenzo yang duduk di hadapannya—pria itu berkali-kali mencuri pandang dengan raut yang tak sepenuhnya tenang.Pertanyaan itu sebenarnya sudah mengendap di kepala Kenzo sejak mereka melangkah keluar dari kantor. Namun, ia sengaja menahannya hingga santap malam usai. Ia tidak ingin suasana makan malam ini berubah kaku menyerupai sesi interogasi.Begitu piring di hadapan mereka hampir bersih, Kenzo meletakkan sendoknya perlahan."Laura."Laura mendongak, menyahut halus. "Iya, Kak?"Kenzo menggeser gelasnya pelan. "Sebenarnya... kamu dengar omongan saya waktu di rooftop, kan?"Laura terdiam sejenak. Dahinya berkerut tipis sebelum senyum kecil terbit di bibirnya."Omongan yang mana?" tanyanya balik. "Mem

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 74. Di Balik Sikap Tenang Laura

    Sejak perjumpaan tak terduga dengan Laura di rooftop, ada desir ganjil yang terus merayapi batin Kenzo.Sesuatu terasa amat mengganjal.Bukan lantaran Laura melempar ucapan yang janggal. Sama sekali tidak. Perempuan itu bahkan melakoni perannya teramat lihai tanpa menunjukkan gelagat yang mencurigakan.Namun entah mengapa, saban kali Laura berjarak dekat dengannya, Kenzo merasa seolah seluruh gesturnya sedang dikuliti dan diawasi dari jauh.Perasaan mengganggu itu berbuntut hingga ke dalam studio.Tatkala mereka bertahta bersisian di balik meja siaran, Laura bersikap teramat profesional. Manik matanya fokus memindai lembar naskah, sesekali mengajak berdiskusi soal rundown berita, bahkan melempar seloroh ringan seperti sedia kala.Segalanya nampak presisi, tak ada yang cacat.Namun di satu momen tatkala Kenzo tak sengaja berpaling, ia mendapati Laura sedang menancapkan pandangan lurus ke arahnya.Hanya sepersekian detik.Laura dengan tenang meluruhkan kembali tatapannya ke atas kertas

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 73. Percakapan di Rooftop

    Lampu indikator merah di atas kamera menyala terang.Kenzo duduk tegak di balik meja siaran. Wajahnya mendadak tenang dan terkontrol, seolah kecanggokannya bersama Ellena di lift tadi tak pernah terjadi."Pemirsa, seorang buronan kelas atas yang masuk dalam daftar pencarian orang akhirnya berhasil dibekuk oleh jajaran kepolisian sekitar lima belas menit yang lalu. Hingga saat ini, pihak berwenang masih menggelar pemeriksaan intensif."Jemari Kenzo merapikan lembar naskah di hadapannya.Berita berikutnya terasa jauh lebih menghimpit dadanya."Sementara itu, manajemen NTV secara resmi menetapkan keputusan untuk memberhentikan Saudara Damar dari jabatannya..."Ia terus mengalirkan narasi itu tanpa cela.Intonasi suaranya tetap bulat dan stabil. Tak ada jeda ragu, tak ada emosi yang bocor di paras tampannya.Sangat profesional.Begitu deret siaran usai dan lampu studio padam, Kenzo serta-merta mencabut in-ear monitor dari telinganya.Ia sukses menuntaskan tugasnya secara presisi.Namun ge

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status