แชร์

Bab 2. Menekan Tanpa Jejak

ผู้เขียน: Elsa Mahesa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-14 17:59:11

"Teruskan," jawab Mahesa tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi ingat, bermainlah dengan bersih. Jangan sampai ada pihak yang mencurigai pergerakan kita."

"Baik, Pak," sahut Dito mantap dari seberang telepon. "Saya akan pastikan semuanya berjalan rapi sesuai rencana."

Mahesa langsung mengakhiri obrolan itu, seulas senyuman yang sarat akan kelicikan terukir di sudut bibirnya. Ia kembali masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, lalu melajukannya kembali menuju rumah sakit.

Di tengah perjalanan, pandangannya tidak sengaja tertumbuk pada sebuah toko bunga. Tanpa berpikir panjang, ia memutar kemudi dan memarkirkan kendaraannya tepat di depan toko tersebut.

Mahesa melangkah masuk ke dalam ruangan yang harum itu. Tatapannya menyusuri deretan tanaman hias yang tersusun rapi, hingga akhirnya pandangannya tertahan pada serangkai bunga tulip berwarna biru yang tampak mencolok.

"Saya ambil bunga yang ini. Tolong dirangkai seindah mungkin, ya," puji Mahesa pada pelayan toko.

"Baik, Pak. Mohon ditunggu sebentar."

Beberapa menit kemudian, buket bunga berukuran sedang itu telah selesai dikemas dengan cantik.

"Silakan, Pak. Bunga tulip birunya."

"Terima kasih."

Mahesa menerima buket tersebut, lalu berjalan kembali menuju mobilnya. Keramahan palsu di wajahnya sama sekali tidak memudar sejak tadi. Kabar keberhasilan dari Dito barusan benar-benar membuat langkah kakinya terasa jauh lebih ringan.

Tidak butuh waktu lama, kendaraan mewah milik Mahesa kembali memasuki area rumah sakit.

Mahesa berjalan santai menyusuri koridor sambil membawa buket tulip biru di tangan kanannya. Begitu tiba di depan ruang rawat VIP, ia sempat menarik napas pelan sejenak untuk mengatur ekspresi wajahnya sebelum memutar gagang pintu.

Klik.

Ellena yang semula sedang melamun langsung menoleh ke sumber suara. Senyumannya perlahan mulai menghiasi wajah pucatnya begitu melihat sosok Mahesa melangkah masuk.

"Sayang. Tadi aku sempat mampir sebentar ke toko bunga. Semoga kamu suka."

Sepasang mata Ellena seketika berbinar cerah. "Tulip biru... cantik banget, Mas."

"Masih kalah cantik sama kamu, sayang." goda Mahesa, membuat rona merah muncul di pipi istrinya.

Ellena tersenyum malu sambil mendekap buket bunga tersebut dengan perasaan haru. Mahesa kemudian mengambil posisi duduk di sisi ranjang, lalu tangannya bergerak mengusap rambut Ellena.

"Masih ada yang sakit?"

Ellena menggelengkan pelan. "Nggak ada, Mas. Cuma badannya saja yang masih agak lemas."

Mahesa mengangguk-angguk paham. Namun, tak berselang lama, ia menyadari bahwa binar kebahagiaan di wajah Ellena perlahan-lahan meredup, digantikan oleh gurat kecemasan.

"Kenapa, Sayang?" tanya Mahesa lembut, nadanya terdengar sangat perhatian. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?"

Ellena terdiam selama beberapa saat, tampak bimbang sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang yang terasa berat. "Pak Dito datang lagi menemui aku hari ini, Mas."

Mahesa tetap mempertahankan wajah tenangnya yang sempurna, seolah-olah ia baru pertama kali mendengar nama orang kepercayaannya itu.

"Dia bilang... kalau aku tidak bisa segera melunasi semua kewajiban dan utang perusahaan dalam waktu dekat, NTV terpaksa akan dilempar dan jatuh ke tangan MH Group," tutur Ellena dengan suara bergetar.

Mahesa sengaja menundukkan pandangannya sejenak, berpura-pura ikut prihatin dan berpikir keras. "Sebenarnya... aku sudah mencoba membicarakan masalah ini dengan pihak internal mereka, Sayang."

Ellena langsung menoleh cepat dengan tatapan penuh harap. "Benarkah, Mas?"

Mahesa mengangguk pelan dengan raut wajah yang dibuat penuh rasa bersalah. "Sudah. Tapi kamu tahu sendiri kan, urusan bisnis di tingkat korporasi besar memang tidak pernah berjalan mudah. Apalagi yang memegang kendali penuh atas kasus ini adalah Pak Dito."

Mahesa memaksakan sebuah senyuman tipis, sengaja memperlihatkan sorot mata yang tampak menyembunyikan beban berat demi menarik simpati. "Bahkan posisi aku sendiri di perusahaan tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan yang sudah disepakati oleh dewan direksi."

Ellena langsung didera rasa bersalah yang teramat sangat. "Maafin aku, Mas... kehadiranku malah terus-menerus membuatmu ikut terbebani."

Mahesa segera meraih jemari Ellena, lalu menggenggamnya dengan begitu erat dan lembut. "Jangan pernah meminta maaf untuk hal seperti itu, Ellena, aku ini suamimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk selalu berada di sisimu, apa pun yang terjadi."

Pertahanan Ellena runtuh. Ia tidak mampu lagi membendung air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya. Wanita itu langsung memeluk tubuh Mahesa dengan sangat erat.

Mahesa membalas pelukan hangat itu, tangannya menepuk-nepuk dan mengusap pelan punggung istrinya yang bergetar karena terisak.

"Semua pasti akan baik-baik saja, Sayang," bisik Mahesa lirih. "Percayalah padaku."

Ellena hanya bisa mengangguk pelan di dalam dekapan nyaman tersebut, merasa sangat beruntung memiliki suami yang begitu suportif.

Tekanan yang menghimpit Ellena ternyata juga menyelimuti seluruh kantor NTV. Di ruang produksi, beberapa staf tampak berdiskusi.

"Terus kita harus bagaimana? Semua cara sudah dicoba, tapi hasilnya tetap zonk," keluh salah satu staf produksi sambil memijat pelipisnya.

Irfan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengembuskan napas berat. “Mungkin memang zamannya sudah berubah. Penonton sekarang mana peduli sama berita berbobot.”

“Omong kosong!” Sentakan keras itu memotong kalimat Irfan, membuat suasana ruangan mendadak tegang.

Irfan langsung menatap tajam ke arah Halim. “Gak usah sok keras. Turunkan tensimu. Situasi lagi kacau kayak gini, gak usah gampang kepancing emosi.”

Damar langsung menengahi sebelum keadaan makin panas. “Sudah, sudah. Jangan malah berantem. Mending kita fokus cari jalan keluar.”

Irfan berdiri dari kursinya, lalu merapikan berkas-berkas di atas meja dengan kasar. “Sudahlah, buat malam ini cukup.”

Damar menggeser posisi duduknya, lalu menegur Halim dengan suara rendah. “Lim, jangan memperkeruh suasana, lah. Irfan juga lagi pusing.”

Meskipun Damar berbicara dengan nada yang masih santun, Halim justru membalasnya dengan tatapan sinis. “Gak usah sok ngatur deh. Kamu sendiri punya solusi gak? Jangan cuma pintar ngomong.”

“Daripada makin lama di sini dan ujung-ujungnya ribut, mending saya cabut seperti Irfan.” ucap Damar berusaha meredam emosinya.

“Ya sudah, pulang sana!” teriak Halim, suaranya menggema di ruangan yang mendadak kosong itu.

Kini, Halim benar-benar sendirian. Akhirnya dia berdiri, menyambar kunci mobil, meninggalkan area kantor.

Ia memacu mobilnya menuju sebuah kelab malam di pusat kota. Begitu sampai, dia langsung memarkirkan kendaraannya, Halim berjalan ke arah meja bar.

Seorang bartender datang menghampirinya dari balik meja. “Mau minum apa, Pak?”

“Kasih saya racikan yang paling keras,” sahut Halim, suaranya datar tanpa ekspresi.

Si bartender yang sudah biasa menghadapi pelanggan stres langsung cekatan meracik minuman, lalu menyodorkan gelas pertama. Halim mengambil minuman itu sampai tandas dalam sekali teguk.

"Lagi."

Gelas kedua datang, lalu gelas ketiga. Bartender itu mulai ragu saat hendak menuangkan lagi. “Masih mau lanjut, Pak?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 152. Ketika Semuanya Terbongkar

    Mahesa baru beberapa langkah memasuki lobi rumah sakit ketika kepalanya mendadak berputar balik.Kenzo.Pria itu masih di atas. Dan Mahesa tidak mungkin membiarkannya lolos begitu saja.Ia berbalik cepat, melangkah lebar menuju barisan lift. Begitu pintunya terbuka, Mahesa masuk dan menekan tombol lantai atas tanpa ragu.Jari-jarinya mengetuk paha dengan gelisah. Ucapan Kenzo terus terngiang-ngiang dan membakar kepalanya.Ellena sempat transfusi darah.Salah satu bayinya kritis.Dan pria itu tahu soal hubungannya dengan Malhera.Pintu lift berdenting dan terbuka.Mahesa langsung melesat keluar. Matanya menyapu lorong sampai akhirnya menemukan Kenzo yang masih berdiri santai di sana, bersandar pada pagar pembatas.Tatapan mereka bertabrakan. Kenzo cuma menyunggingkan senyum tipis.Napas Mahesa memburu saat ia mengikis jarak. Tanpa aba-aba, ia menyambar kerah baju Kenzo dan mendorongnya kasar sampai punggung pria itu menabrak dinding.“Brengsek. Berani-beraninya kamu kurang ajar sama sa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 151. Di Balik Panggilan

    Mahesa tidak sanggup hanya duduk menunggu. Setelah memerintahkan orang-orangnya bergerak untuk mencari Ellena, ia sendiri ikut turun ke jalan. Satu demi satu rumah sakit di Milan ia datangi langsung. Namun hasilnya nihil. Nama Ellena tidak pernah terdaftar di bagian penerimaan pasien. Mahesa melangkah cepat keluar dari rumah sakit kesekian. Wajahnya makin tegang saat melirik layar ponsel yang tetap sepi. Tidak ada kabar. Sama sekali. Ia menekan nomor orang kepercayaannya. “Gimana?” “Belum ada perkembangan, Pak. Tim masih menyisir.” “Terus cari. Jangan ada yang terlewat.” Mahesa memutus sambungan. Ia masuk kembali ke mobil dan langsung menyebutkan nama rumah sakit berikutnya pada sang sopir. Di sepanjang jalan, kepalanya terus berputar. Kenapa Ellena nekat terbang ke Milan tanpa bilang apa-apa? Kenapa istrinya tidak menghubunginya? Dan yang paling membikin kalut, kenapa ponselnya mendadak mati total? Beberapa saat kemudian, Mahesa kembali keluar dari rumah sakit

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 150. Mencari Ellena

    Bi Minah memejamkan mata rapat-rapat sebelum akhirnya menyerah pada desakan Mahesa.“I-Ibu Ellena... dia ke luar negeri, Pak. Menyusul Pak Mahesa.”“Apa?” Suara Mahesa pelan, nyaris tak terdengar. “Sejak kapan?” tanyanya lagi. Kali ini, nadanya naik satu oktav. “Cepat jawab, Bi.”“Sejak tiga hari yang lalu, Pak. Ibu bilang mau menyusul Pak Mahesa ke Milan.”“Tiga hari yang lalu...”Mahesa terdiam. Napasnya berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha mencerna maksud dari ucapan Bi Minah.“Kenapa dia nggak ada kasih kabar? Terus dia berangkat sama siapa?”“Bibi beneran nggak tahu, Pak. Ibu cuma bilang mau nyusul ke Milan. Cuma itu.”Mahesa tidak membalas lagi.Telepon langsung ia matikan begitu saja.Ia menurunkan ponsel dari telinganya perlahan. Ekpresinya berubah total—ada campuran bingung, cemas, dan frustrasi yang memuncak. Perubahan raut wajah itu tidak luput dari perhatian Malhera yang sejak tadi duduk memenanginya.“Mas, ada apa?” tanya Malhera, menyadari aura yang mendad

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 149. Di Balik Diam Bi Minah

    Rasa tidak enak itu masih mengganggu Mahesa.Bahkan setelah urusan bisnisnya beres, kepalanya tetap riuh. Ada yang mengganjal.Ia meraih ponsel di meja, lalu memeriksa layarnya lagi.Nihil. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada satu pun panggilan dari Ellena sejak kemarin.Keningnya berkerut. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan nama istrinya dan menelepon.Nada sambung berdering... terus berdering. Sampai akhirnya terputus sendiri tanpa ada jawaban.“Kenapa nggak diangkat, sih?” gumamnya heran. Ia melirik jam tangan. "Bukannya di Jakarta sekarang jam kerja? Harusnya Ellena sudah bangun dan pegang ponsel."Perasaan gelisahnya malah makin menjadi-jadi. Mahesa memijit pangkal hidungnya, lalu mengetik pesan singkat. Ia menanyakan kabar Ellena, menyisipkan rasa khawatirnya, dan bertanya kenapa seharian kemarin istrinya menghilang tanpa kabar.Setelah pesan terkirim, ia mengembuskan napas berat. Matanya terpejam sejenak, mencoba menata pikiran yang mulai membayangkan hal yang tidak-tidak

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 148. Tekad di Koridor Sunyi

    Beberapa waktu kemudian, Ellena dipindahkan ke ruang pemulihan.Tubuhnya masih begitu lemas, tapi kepalanya terus diisi satu hal.“Bayiku...”Seorang perawat melangkah mendekati bangsalnya. “Bu Ellena, bayi perempuan Ibu saat ini masih di ruang perawatan intensif ya. Dokter masih harus memantau pernapasannya dulu.”Ellena mendongak, menatap perawat itu lekat-lekat. “Saya boleh melihatnya?”“Boleh, Bu. Tapi jangan terlalu lama berdiri dulu ya.”Perawat itu dengan sigap membantu Ellena berpindah duduk ke kursi roda.“Saya antar, Bu,” sahut Kenzo pelan.Tanpa banyak canggung, Kenzo mengambil alih pegangan kursi roda dan mendorongnya perlahan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan bayi.Sepanjang jalan, Ellena hanya membisu.Jemarinya meremas erat ujung selimut di pangkuan, sementara fokusnya tak pernah beralih dari bayangan bayi perempuan yang baru saja dibawanya ke dunia.Begitu sampai di depan ruangan, Kenzo memperlambat dorongannya.Mata Ellena langsung tertancap pada se

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 147. Firasat yang Tak Terjelaskan

    Tangisan bayi itu masih enggan terdengar.Dokter dan tim perawat bergerak cepat mengerumuni meja resusitasi. Jemari mereka cekatan melakukan penanganan awal, menepuk-nepuk telapak kaki dan mengusap punggung mungil itu untuk memicu respons pertama kehidupan.Namun, ruangan itu masih diselimuti sunyi yang mencekam.Ellena yang masih bersandar lemas dengan napas patah-patah mulai menangkap kejanggalan di sekitarnya.Matanya yang berat perlahan terbuka penuh. Ia mengoper pandangan—dari raut tegang para medis, lalu tertuju pada tubuh kecil yang tak bergerak di sudut ruangan.“Kenapa...?” bisiknya parau, nyaris tak terdengar.Tak ada satu pun tenaga medis yang menyahut; fokus mereka sepenuhnya terkunci pada bayi itu.Ellena beralih menatap Kenzo, mencari pegangan.“Ken...”Kenzo menunduk rapat.“Kenapa anakku nggak nangis?”Pertanyaan itu menghantam dada Kenzo hingga tenggorokannya terasa tersumbat. Ia menelan ludah payah. Jujur, dadanya sendiri bergemuruh hebat dihinggapi ketakutan yang sa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status