“Tunggu di kamar,” bisik Kaisar. Kaira menatap pria itu ragu sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama. Sambil menutup pintu sedikit rapat, jantung Kaira berdegup kencang. Namun, setelah beberapa saat, Kaira mengernyitkan dahi. Suasana di luar terdengar begitu tenang. Tidak ada suara teriakan Davina seperti yang ia duga. ‘Apa itu bukan Mbak Davina?’ pikir Kaira dalam hati. Didorong oleh rasa penasaran, Kaira diam-diam membuka pintu kamar. Ia melangkah menuju ruang depan dan mengintip dari balik sudut dinding yang menyembunyikannya. Ternyata memang bukan Davina, melainkan Jevan. Pemuda itu tampak menyodorkan sebuah kantong kertas berlogo apotek. “Besok Pak Kaisar nggak perlu ke kantor dulu,” kata Jevan dengan cemas. “Kalau sampai minta obat kayak gini, Bapak sepertinya benar-benar nggak sehat." Kaisar menerima kantong obat itu seraya menjawab, “Aku nggak apa-apa, Jevan.” “Nggak apa-apa bagaimana, Pak?” Jevan mendengus pelan, memberanikan diri menegur atasannya
Última actualización : 2026-09-09 Leer más