“Sssh ….”Di bawah cahaya rembulan yang menerangi malam, Erlangga kembali mengecup bibir Nora, kali ini lebih lama, seolah ingin menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Satu tangannya terangkat, membelai lembut pipi sang istri, sementara tangan lainnya merengkuh pinggang Nora, mendekatkannya ke dalam pelukan.Nora memejamkan mata, membalas kecupan itu dengan kelembutan yang sama. Di antara mereka, tak ada kata-kata yang diperlukan. Hanya ada debar jantung, embusan napas yang saling beradu, dan perasaan yang perlahan menemukan jalannya untuk diungkapkan.Angin malam berembus melewati lembah Lauterbrunnen, membawa hawa dingin pegunungan yang menusuk kulit. Di kejauhan, siluet tebing-tebing tinggi berdiri megah di bawah langit bertabur bintang, sementara gemuruh air terjun terdengar samar, menjadi irama alami yang mengiringi kebersamaan mereka.Erlangga melepaskan kecupan itu sesaat, lalu menempelkan dahinya pada dahi Nora. Tatapannya menyusuri wajah sang istri, sebelum jemarinya kem
Zuletzt aktualisiert : 2026-10-20 Mehr lesen