แชร์

Bab 5. Tidak Ada Jalan Kembali

ผู้เขียน: Carlota M
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-01 10:53:59

Map hitam itu masih berada di pangkuanku sejak aku meninggalkan gedung Oslo Enterprise.

Aku bahkan tidak langsung meminta sopir taksi mengantarku pulang. Mobil berhenti di tepi Singapore River, sementara aku hanya duduk diam menatap lalu lalang orang di luar jendela.

Tanganku kembali membuka map itu.

Perjanjian pernikahan.

Aku membaca setiap halaman untuk kedua kalinya, berharap ada bagian yang tadi salah kubaca.

Tetapi tidak.

Sean benar-benar menuliskan semuanya dengan jelas.

Rumah.

Saham Oslo Enterprise.

Perlindungan hukum.

Rekening bersama.

Bahkan jika pernikahan kami berakhir suatu hari nanti, sebagian aset itu tetap menjadi milikku.

Aku menutup map itu pelan.

"Pria itu benar-benar sudah gila."

Tidak ada laki-laki waras yang menyerahkan sebanyak ini kepada perempuan yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari.

Kecuali...

Ia sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku kembali teringat tatapan Sean saat mengatakan syarat terakhirnya.

"Setelah kontrak Aurora Beauty selesai... kau harus meninggalkan dunia hiburan."

Kalimat itu terus berputar di kepalaku.

Dunia hiburan bukan sekadar pekerjaan.

Itu mimpiku.

Aku membangunnya sedikit demi sedikit sejak Ayah meninggal. Saat Mama sibuk mempertahankan butik Anille A. agar tetap berdiri, aku memilih mengejar jalanku sendiri. Aku ingin berhasil bukan karena nama keluarga Moreno, melainkan karena usahaku.

Sekarang...

Sean memintaku melepaskan semua itu.

Aku menyandarkan kepala ke kursi.

Mengapa rasanya semua jalan selalu berakhir di pria itu?

Ponselku bergetar.

Caroline Calling.

Aku menghela napas sebelum mengangkatnya.

"Aku masih hidup, Carry."

"Syukurlah. Aku hampir mau bikin laporan orang hilang."

Aku terkekeh pelan.

"Terlalu berlebihan."

"Tidak juga. Kau tahu? Aku sudah membayangkan tiga kemungkinan."

"Apa saja?"

"Pertama, kau menceburkan diri ke Marina Bay."

Aku memutar mata.

"Kedua, kau kabur ke Thailand."

"Carry..."

"Ketiga..." Ia berhenti sejenak. "Kau membunuh Sean Valentino."

Aku tidak bisa menahan tawa.

"Yang terakhir lumayan menarik."

"Nah, kan! Berarti kondisi mentalmu masih aman."

Tawa kecilku perlahan mereda.

Caroline langsung menangkap perubahan nada suaraku.

"Dia menekanmu lagi?"

Aku menatap map hitam di pangkuanku.

"Dia memberiku pilihan."

"Hm?"

"Pilihan yang sebenarnya bukan pilihan."

Caroline diam beberapa detik.

"Lagi di mana?"

"Di tepi sungai."

"Tunggu di situ. Jangan ke mana-mana."

"Carry, tidak usah. Aku cuma ingin sendiri."

"Tidak."

Nada suara Caroline berubah menjadi suara manajer yang biasa memarahiku kalau aku telat datang syuting.

"Kau boleh menangis."

"Kau boleh marah."

"Kau bahkan boleh melempar sepatu mahalmu ke sungai kalau itu membuatmu lega."

Aku mengerutkan hidung.

"Tapi kau tidak boleh menghadapi semuanya sendirian."

Dadaku mendadak sesak.

Aku menunduk sambil menggenggam map itu lebih erat.

"Aku capek, Carry."

Suara yang keluar nyaris seperti bisikan.

"Sekali ini saja..." lanjutku lirih, "...aku benar-benar capek."

Di seberang telepon, Caroline tidak langsung menjawab.

"Aku lima belas menit lagi sampai."

"Lalu kita cari kopi."

"Aku traktir."

Aku tersenyum tipis.

"Memangnya itu bisa menyelesaikan masalahku?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Paling tidak, kalau nanti kau memutuskan menikah sama Sean, kau masih sempat menikmati kopi gratis sebelum jadi istri konglomerat."

Aku tertawa sambil menggeleng.

"Dasar."

"Nah, itu baru Mikaila yang kukenal."

Panggilan berakhir.

Aku memandang lagi map hitam di pangkuanku.

Aneh.

Di antara semua orang yang sedang mendorongku menuju Sean...

Caroline adalah satu-satunya yang tidak pernah menyuruhku memilih.

Ia hanya memastikan...

...apa pun keputusan yang kuambil nanti, aku tidak menjalaninya sendirian.

~~~

Benar saja, sekitar lima belas menit kemudian sebuah Mini Cooper putih berhenti di pinggir jalan.

Caroline keluar dengan langkah cepat. Rambut panjangnya yang diikat rendah bergoyang mengikuti langkahnya, sementara kacamata hitam yang bertengger di atas kepala membuatnya tampak seperti selebritas yang baru selesai pemotretan.

Begitu melihatku, dia langsung berhenti.

"Ya ampun..."

Tatapannya menyapu wajahku dari atas sampai bawah.

"Kau kelihatan seperti habis kehilangan seluruh tabungan."

Aku tertawa pelan.

"Rasanya lebih buruk."

Caroline mendekat, lalu tanpa banyak bicara langsung duduk di sampingku.

"Apa dia mengancammu lagi?"

Aku tidak langsung menjawab.

Sebagai gantinya, kuberikan map hitam itu kepadanya.

Caroline mengernyit sebelum membuka halaman pertama.

Dia membaca sekilas.

Lalu berhenti.

"Ini..."

Aku hanya mengangguk pelan.

"Kontrak pernikahan."

Caroline mengembuskan napas panjang.

"Astaga, pria itu benar-benar serius."

"Aku juga berharap dia bercanda."

Dia menutup map itu lagi.

"Aku tidak mau membacanya di sini."

"Kenapa?"

"Karena kalau ternyata isinya membuat tekanan darahku naik, aku bisa tercebur ke sungai."

Aku akhirnya tertawa kecil.

Tawa pertama yang benar-benar keluar dari bibirku sejak meninggalkan kantor Sean.

Caroline menoleh sambil tersenyum puas.

"Nah, begitu lebih bagus."

"Apanya?"

"Kau masih bisa tertawa."

Aku menggeleng pelan.

"Carry... aku benar-benar bingung."

"Aku tahu."

Dia berdiri lalu menepuk bahuku pelan.

"Ayo."

"Ke mana?"

"Ke tempat Eden."

"Riverstone?"

Caroline mengangguk.

"Kalau kita membahas kontrak miliaran dolar di pinggir sungai begini, nanti orang mengira kita sedang merencanakan pencucian uang."

Aku spontan memukul pelan lengannya.

"Mulutmu itu."

"Realistis."

"Tidak lucu."

"Lucu."

Aku memutar mata, tetapi tanpa sadar sudut bibirku kembali terangkat.

Caroline memang selalu punya cara aneh untuk mengembalikan kewarasanku.

Kami berjalan berdampingan menuju area parkir.

Beberapa menit kemudian mobil Caroline melaju meninggalkan kawasan Singapore River menuju Riverstone Café, sebuah kafe bergaya industrial di Robertson Quay yang dimiliki Eden.

Tempat itu sudah seperti markas kecil kami sejak beberapa tahun terakhir.

Tempat kami merayakan keberhasilan.

Mengutuk kegagalan.

Dan, sepertinya...

Hari ini menjadi tempatku mencari jawaban atas pria bernama Sean Valentino.

~~~

Begitu pintu Riverstone Café terbuka, aroma kopi yang baru digiling langsung memenuhi indera penciumanku.

Suasana sore mulai ramai. Beberapa pelanggan duduk menghadap jendela besar yang memperlihatkan Singapore River, sementara sebagian lainnya sibuk bekerja dengan laptop.

Eden yang sedang meracik kopi di balik bar mengangkat wajah ketika melihat kami.

"Wah..."

Dia melepas celemeknya.

"Dari ekspresi kalian, sepertinya hari ini aku harus menyiapkan kopi yang lebih pahit."

Caroline menunjukku.

"Buatkan yang manis untuk dia."

"Lho?"

"Supaya hidupnya tidak terlalu pahit."

Aku mendengus pelan.

"Lucumu makin hari makin dipertanyakan."

Eden terkekeh.

"Kalian duduk saja. Aku bawakan kopi."

Kami memilih meja pojok, tempat favorit kami sejak dulu.

Begitu duduk, Caroline kembali membuka map hitam yang sejak tadi dibawanya.

"Kita mulai?"

Aku mengangguk pelan.

Eden datang beberapa menit kemudian membawa tiga cangkir kopi dan sepotong cheesecake.

"Aku tidak pesan kue."

Eden menggesernya ke depanku.

"Aku yang traktir."

Aku mengangkat alis.

"Kasihan."

Aku memelototinya.

"Eden."

"Apa?"

"Wajahmu seperti orang yang sedang memikirkan akhir dunia."

Caroline menyela sambil menusuk cheesecake itu menggunakan garpu.

"Padahal yang dipikirkan cuma Sean Valentino."

"Carry."

"Oke, aku diam."

Lima detik kemudian...

"Enggak deng."

Aku memijat pelipisku.

Caroline benar-benar tidak bisa diam.

"Sean itu sebenarnya umur berapa?"

"Tiga puluh dua."

"Oke."

"Terus?"

"Tidak apa-apa."

Dia mengangguk-angguk sendiri.

"Usia matang."

Aku menatapnya datar.

"Aku mulai menyesal menghubungimu."

"Jangan."

Dia tersenyum lebar.

"Nanti hidupmu terlalu sepi."

Eden menggeleng pelan melihat tingkah Caroline sebelum akhirnya membuka halaman pertama kontrak.

Berbeda dengan Caroline yang membacanya sambil berkomentar, Eden benar-benar teliti.

Ruangan di antara kami perlahan menjadi sunyi.

Sesekali hanya terdengar bunyi halaman yang dibalik.

Beberapa menit kemudian Eden menutup map itu perlahan.

"Aneh."

Aku menatapnya.

"Apa?"

"Kontrak ini."

"Aneh bagaimana?"

Eden menyandarkan tubuhnya.

"Kalau aku berdiri di posisi Sean, kontrak ini merugikan."

Caroline langsung mengangguk.

"Banget."

"Dia memberikan perlindungan finansial penuh."

"Ya."

"Kalau kalian bercerai..."

Dia menunjuk salah satu halaman.

"...sebagian besar aset yang diberikan tetap menjadi milikmu."

Aku mengangguk pelan.

"Itu juga yang membuatku takut."

"Kenapa?"

Aku menghela napas panjang.

"Karena tidak ada orang waras yang melakukan itu."

Caroline mengangkat telunjuk.

"Kecuali dua kemungkinan."

Aku dan Eden menoleh bersamaan.

"Apa?"

"Satu."

Dia mengangkat satu jari.

"Sean sangat bodoh."

Aku langsung menggeleng.

"Itu jelas bukan."

"Nah."

Dia mengangkat jari kedua.

"Berarti kemungkinan kedua."

Aku mulai punya firasat buruk.

"Dia benar-benar menginginkanmu."

Aku mendesah pelan.

"Carry..."

"Aku serius."

Caroline menopang dagunya.

"Coba pikir."

"Dia menyelamatkanmu di Montez."

Aku diam.

"Dia mengantarmu pulang."

Aku masih diam.

"Dia mencarimu."

Diam lagi.

"Sekarang dia mempertaruhkan miliaran dolar hanya supaya kau menjadi istrinya."

Caroline menatapku lurus.

"Menurutmu itu perilaku pria normal?"

Aku membuka mulut.

Namun tidak ada jawaban yang keluar.

Karena jauh di lubuk hatiku...

Aku juga mulai mempertanyakan hal yang sama.

Eden memutar cangkir kopinya perlahan.

"Aku setuju Sean menginginkanmu."

Aku menoleh cepat.

"Kau juga?"

"Tapi bukan itu yang membuatku khawatir."

"Apa?"

Tatapan Eden berubah serius.

"Pria seperti Sean Valentino terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan."

Kalimat itu membuat senyum Caroline perlahan menghilang.

"Dan sekarang..."

Eden menatap kontrak di atas meja.

"...dia menginginkanmu."

Keheningan jatuh di antara kami bertiga.

Aku kembali melihat map hitam itu.

Tiba-tiba benda itu tidak lagi terlihat seperti kontrak pernikahan.

Melainkan...

Sebuah pintu.

Yang sekali kubuka, mungkin tidak akan pernah bisa kututup lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Obsesi Sang Billioner   Bab 135. Ketika Kebohongan Atika Terbongkar

    Berita tentang skandal itu hampir memenuhi seluruh media. Kali ini, Atika benar-benar menusukku dari belakang. Sean bahkan harus pulang lebih awal karena kejadian tersebut.Pagi itu, ketika aku hendak berangkat ke kantor, Sean baru saja tiba di apartemen.“Sayang, kamu baik-baik saja?”Dia langsung memelukku begitu kami bertemu di ruang keluarga. Aku mengangguk dalam pelukannya.Sejujurnya, aku sedikit panik dan takut. Bukan karena tuntutan Atika, melainkan karena memikirkan bahaya yang mungkin ditimbulkannya. Aku khawatir dia akan bertindak di luar kendali, sama gilanya seperti Ariel dulu.Setelah melepaskan pelukan, Sean menciumi hampir seluruh wajahku hingga aku tertawa geli.“Sudahlah. Aku tahu kamu khawatir, dan aku juga merasakan hal yang sama. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana Atika bisa melakukan semua ini hanya dalam semalam,” kataku jujur.Kehadiran Sean sedikit menenangkan perasaanku.“Kamu sudah sarapan?” tanyaku.Dia mengangguk.“Hari ini aku akan ikut ke Orchid bersama

  • Terjebak Obsesi Sang Billioner   Bab 134. Fitnah yang Menjadi Senjata

    Saat Atika kembali dari toilet, dia sama sekali tidak menyadari bahwa aku sudah mengutak-atik ponselnya. Aku meletakkan benda itu kembali ke tempat semula, lalu menghabiskan jus alpukatku.“Aku akan mempertimbangkan saranmu,” kata Atika setelah duduk dan kembali menyantap makanannya yang tersisa.Aku hanya tersenyum tipis sambil menikmati hidangan penutup. Aku memesan pai buah beri dingin yang rasanya manis dan lezat.“Semoga ke depannya kita bisa lebih sering berkomunikasi. Kurasa Sean tidak ingin ikut campur dalam urusan ini,” ujarku, sengaja kembali memancing reaksinya. Aku tahu betul bahwa sasaran utama Atika sebenarnya adalah Sean.“Benarkah? Bukankah lebih baik kalau Sean mengetahui masalah ini? Bukankah dia yang memberiku resor itu?”Aku mengunyah potongan pai dengan santai, seolah sedang mempertimbangkan perkataannya.“Tapi bukankah kamu ingin aku membeli perusahaanmu? Resor itu juga sudah menjadi milikmu. Kalau kamu memang ingin masalah ini selesai dengan baik, tentukan pilih

  • Terjebak Obsesi Sang Billioner   Bab 133. Jebakan di Balik Tawaran Atika

    Joana mendapati aku sedang bersiap-siap menemui Atika ketika dia membuka pintu ruang kerjaku.“Memangnya kamu mau ke mana, Mika? Tadinya aku berencana mengajakmu makan siang,” katanya sambil menyampaikan rencananya.Aku tersenyum kecil sembari merapikan penampilanku di depan cermin.“Aku mau makan siang bersama Atika.”Aku menyemprotkan parfum ke leher dan kedua pergelangan tanganku.“Serius? Kamu mau memberitahunya kalau rencana pembelian perusahaan itu batal?” Joana bertanya lagi. Kini dia sudah berdiri di sampingku.Aku mengembuskan napas panjang.“Mungkin saja. Tapi aku sudah menyiapkan rencana cadangan. Kamu tidak perlu khawatir. Cukup bersiap menghadapi segala kemungkinan dan tunggu instruksiku mengenai masalah ini. Mengerti?”Aku menoleh ke arahnya. Joana mengangguk mantap.“Bagus. Sampai nanti.”Setelah menepuk bahunya, aku tersenyum lalu meninggalkan ruanganku.Kali ini, aku sengaja meminta Jared mengantarku. Siapa tahu aku membutuhkan bantuan atau terjadi sesuatu yang tidak

  • Terjebak Obsesi Sang Billioner   Bab 132. Menjerat Sang Pembohong

    “Ya ampun, Mika! Aku senang sekali kau mengajakku ke sini. Kebetulan aku memang sedang butuh hiburan.”Caroline langsung berceloteh begitu tiba di apartemenku. Dia memelukku erat sebelum aku mengajaknya ke dapur untuk membantu membawa belanjaan yang dibawanya.“Apa yang akan kita masak untuk makan siang?” tanyaku sambil memperhatikan Caroline yang sibuk mengeluarkan berbagai bahan makanan dan meletakkannya di atas meja dapur berbahan granit baru di dekat kompor.Caroline tampak berpikir sejenak.“Bagaimana kalau ayam panggang?”“Boleh juga. Aku akan membuat ayam panggang kalau kau setuju.”Aku membuka bagian pendingin lemari es dan memeriksa isinya satu per satu sebelum mengambil seekor ayam utuh yang sudah dibersihkan dan dibuang bagian dalamnya.“Tidak masalah. Aku sudah menyiapkan tumis sayuran, kentang tumbuk, dan salad sayuran. Oh, kau mau mencoba ini?” Caroline mengangkat sebuah kemasan makanan. “Kimchi. Makanan Korea.”Aku memang tidak terlalu akrab dengan kuliner Korea, tetapi

  • Terjebak Obsesi Sang Billioner   Bab 131. Pertemuan yang Tak Seharusnya Kulihat

    Pakaian bayi yang kulihat kali ini benar-benar menggemaskan. Sudah hampir setengah jam aku berada di toko tersebut, sibuk menjelajahi deretan pakaian dan perlengkapan bayi yang dipajang dengan begitu menarik.Hari ini hari Minggu. Tidak ada pekerjaan mendesak yang harus kuselesaikan di apartemen, jadi aku memutuskan keluar untuk mencari beberapa perlengkapan bagi calon bayiku. Aku bahkan meminta Jared mengemudikan mobil karena sedang malas menyetir sendiri.Setelah memilih beberapa potong pakaian dan perlengkapan bayi, aku juga memutuskan membeli sebuah kereta bayi. Jared membantuku membawa semua belanjaan ke mobil, sementara aku masih ingin berkeliling sebentar.Rasanya belum puas kalau langsung pulang.Pusat perbelanjaan cukup ramai pada akhir pekan. Kebanyakan orang memanfaatkan hari libur untuk menyelesaikan berbagai keperluan atau sekadar menikmati waktu luang. Aku pun begitu. Jika sudah waktunya libur, aku benar-benar ingin melepaskan diri dari urusan pekerjaan dan tidak menyent

  • Terjebak Obsesi Sang Billioner   Bab 130. Rahasia Atika

    Kiriman yang dipesan Ronald untukku akhirnya tiba hari ini. Aku langsung membuka amplop cokelat berukuran besar itu dan memeriksa isinya. Jantungku berdegup lebih cepat begitu melihat deretan foto di dalamnya.Foto-foto Atika.Perempuan itu rupanya telah dibuntuti dan diam-diam difoto tanpa sepengetahuannya. Namun, bukan keberadaannya yang pertama kali menarik perhatianku, melainkan sesuatu yang tampak berbeda dari penampilannya.Perutnya sudah rata. Tidak ada lagi tonjolan yang biasanya terlihat pada perempuan hamil.Keningku berkerut. Berbagai kemungkinan mulai bermunculan dalam pikiranku. Jika dugaanku benar, seharusnya Atika sudah melahirkan.Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada kehamilan dan bayinya?Pikiran tentang Atika membuatku gelisah. Aku harus meminta penjelasan langsung dari Ronald.Aku: Ron, aku ingin penjelasan tentang foto-foto yang kau kirimkan.Sambil menunggu balasannya, aku kembali memeriksa dokumen yang harus kutandatangani. Setelah memasukkan foto-foto itu ke d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status