로그인Ruangan rapat di lantai paling atas Oslo Enterprise mendadak terasa jauh lebih dingin daripada beberapa menit yang lalu.
Aku masih berdiri di sisi meja konferensi, menatap beberapa lembar foto yang berserakan di atas permukaan kayu hitam mengilap. Tidak ada suara selain dengungan pelan pendingin ruangan dan lalu lintas kota Singapura yang samar terdengar dari balik dinding kaca.
Aku mengulurkan tangan.
Jemariku mengambil satu foto
Kedatanganku pagi ini disambut kerumunan wartawan di pintu masuk gedung Orchid Foundation.“Ya ampun, Jared, ayo kita lewat pintu belakang saja.”“Maaf, Nyonya, pintu belakang sedang diperbaiki. Untuk sementara, hanya pintu depan yang bisa digunakan.”Sial, aku sampai lupa. Bagian belakang gedung Orchid memang sedang direnovasi untuk pembangunan gedung baru.Dengan enggan, aku menghadapi para wartawan yang langsung mengerumuniku. Petugas keamanan gedung dan Jared segera membantuku melewati mereka, mengawalku sampai ke dalam gedung.“Nyonya Valentino, bisakah Anda memberikan keterangan mengenai kasus penyerangan yang dilakukan Ariel William? Apa motif di balik tindakannya?”Aku memilih diam. Tak satu pun pertanyaan mereka kujawab. Kejadian tiga bulan lalu itu sudah cukup menyita waktu dan pikiranku. Aku tidak ingin media kembali mengangkatnya menjadi berita panjang yang belum tentu memberikan informasi berarti bagi siapa pun.“Bagaimana hubungan Tuan Valentino dengan wanita bernama Atik
Detektif Charlie menjabat tangan Sean sebelum duduk di sofa yang berhadapan dengan kami. Wajahnya tegas, dengan sikap formal yang membuatnya terkesan kurang ramah. Aku bisa membayangkan orang-orang menghormatinya karena pembawaannya seperti itu. Mungkin seseorang yang bekerja sebagai penyidik memang harus menjaga sikap profesional saat berhadapan dengan orang lain, supaya mereka bisa mendapatkan keterangan yang benar tanpa terpengaruh suasana.“Kami sudah memeriksa seluruh bukti yang diserahkan asisten Anda dan menghubungkannya dengan kasus yang sedang kami tangani. Kami sangat menghargai bukti akurat yang Anda berikan, Tuan Valentino.”“Lalu, apa yang membuat Anda datang kemari?”Aku melirik Sean. Wajahnya sudah berubah dingin, dengan tatapan yang sanggup membuat orang berpikir dua kali sebelum berbicara sembarangan. Detektif Charlie berdeham, berusaha mengabaikan sorot mata suamiku yang mengintimidasi. Sepertinya, ksatria hitam dan putihku memang punya bakat membuat orang lain kehil
Mama Ramia datang menghampiriku dengan langkah setengah berlari. Papa Abraham menyusul di belakangnya bersama Rani. Aku langsung bangkit dari bangku dan memeluk Mama Ramia erat-erat. Begitu berada dalam pelukanku, tangisnya pecah. Setelah beberapa saat, dia melepaskan pelukan dan memeriksa tubuhku dari ujung kepala hingga kaki. Matanya sudah basah oleh air mata.“Bagaimana keadaanmu? Kamu terluka? Bagaimana dengan bayinya? Dia baik-baik saja?”Kepanikan terdengar jelas dalam setiap pertanyaannya. Aku segera meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan bayiku tidak terluka. Barulah sedikit ketenangan muncul di wajahnya, meski kecemasan itu belum sepenuhnya hilang.Papa Abraham juga memelukku, lalu Rani menyusul. Kakak perempuan Sean itu menangis di bahuku, membuatku ikut sesak. Aku ingin menenangkan mereka, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi bagaimana mungkin aku bisa terdengar meyakinkan ketika diriku sendiri nyaris hancur karena ketakutan?“Sean akan baik-baik saja,”
Tubuhku seketika menegang. Aku mengenali suara itu.Mataku beralih ke cermin di atas wastafel. Ariel berdiri di ambang pintu toilet, menatapku dengan senyum yang membuat darahku terasa membeku. Namun, bukan wajahnya yang pertama kali membuatku kehilangan napas, melainkan sosok Zafrina yang tergeletak di dekat kakinya. Matanya terpejam rapat.Aku tidak tahu apakah perempuan itu pingsan atau sudah mati. Aku berbalik untuk memastikan keadaannya, tepat ketika Joana keluar dari balik bilik toilet dan mendapati kami bertiga di sana.“Jangan bergerak, Nona. Atau aku akan menembaknya.”Ancaman Ariel membuat isi perutku serasa terpelintir. Dia mengeluarkan pistol dari balik tubuhnya, lalu berjalan mendekatiku dengan langkah santai, seolah-olah kami sedang bertemu untuk minum kopi, bukan dalam situasi yang bisa merenggut nyawa seseorang.“Berhenti, atau aku akan berteriak!” seruku.Begitu kata-kata itu keluar, aku sendiri merasa bodoh. Apa yang bisa kulakukan dengan ancaman sekonyol itu di hada
Begitu memasuki dapur, aku mendengar Sean mengumpat. Kedua tangannya terangkat, satu memegang gelas susu, sementara bagian depan kemeja dan dasinya sudah basah kuyup. Dia meletakkan gelas itu di meja bar, kemudian meraih serbet dengan wajah kesal.Aku segera menghampirinya untuk membantu.“Percuma kamu membersihkannya. Ganti baju saja,” kataku.Serbet yang semula berada di tangannya berpindah ke tanganku. Aku meletakkannya di dekat gelas susu, lalu menatap wajahnya yang masih menunjukkan kekesalan akibat kejadian beberapa detik lalu. Tanganku bergerak membuka simpul dasinya.“Pagi ini kita akan terlambat,” keluhnya.Aku tersenyum sambil sibuk membuka kancing kemeja putihnya. Setelah semua kancing terlepas, Sean menarik kemeja itu dari tubuhnya. Aroma tubuhnya yang begitu kusukai langsung memenuhi indra penciumanku.“Untuk sarapan, kamu mau makan apa? Nyonya Liam baru datang siang nanti.”“Aku mau panekuk. Biar aku yang membuatnya. Kamu sana, ganti baju.”Aku beranjak darinya dan menuj
Suara Sam baru saja terdengar ketika Sean menarik jarinya dari tubuhku. Dia mengambil tisu, membersihkan cairan yang menempel di jarinya, lalu membantuku merapikan pakaian. Dia mengancingkan kembali pakaian dalam dan blazerku satu per satu.Setelah kondisiku kembali seperti semula, aku turun dari pangkuannya. Sensasi orgasme tadi masih menyisakan sedikit kelemahan di kakiku. Aku harus berpegangan pada Sean ketika keluar dari mobil, lalu menyambut tangannya yang terulur untuk membantuku berjalan.“Perlu kugendong? Jalanmu seperti orang mabuk, Sayang,” bisiknya saat kami memasuki klinik Dokter Grace.Aku meliriknya tajam. Sean justru terkekeh melihat reaksiku.“Kamu curang di dalam mobil, Sayang,” tuduhku.Dia membalas dengan senyum polos yang sama sekali tidak meyakinkan. Seolah-olah bukan dia yang baru saja membuatku kehilangan keseimbangan.Sean hendak membuka pintu ruang praktik Dokter Grace ketika Atika keluar dari dalamnya. Aku terkejut melihat perempuan itu. Tatapanku terpaku pad







