Kenan tersenyum lebar. Pria itu menyambut keinginan Rania dengan membuka kaos yang dipakainya. "Aku juga mau, Sayang. Ayo!"Kenan mencumbu Rania bahkan tangannya berselancar di area sensitif istrinya itu. "Ay, ih, bukan ini!" cicit Rania kesal sambil menyingkirkan tangan Kenan. "Lalu?"Rania mengusap perutnya. "Aku mau es alpukat pake nangka sama pakek parutan kelapa muda."Kenan terdiam, lalu menjatuhkan badannya di atas kasur. Sambil menatap langit-langit ia berkata, "Ya ampun Yang, aku pikir kamu mau itu." Raut kecewa nampak jelas di wajah Kenan. Rania mengecup kening Kenan. "Maaf. Tapi, kan, kata dokter jangan dulu, Ay."Kenan mengembuskan napas kasar. "Tapi, gimana ini, Sayang? Udah di ubun-ubun."Kenan terlihat ngenes. Rania tertawa. "Dasar omes!"Kenan menoleh. "Kamu tidak kasihan padaku, Sayang?"Tawa Rania mereda. "Aku, sih, mau aja, Ay," katanya malu-malu. "Tapi, apa aman buat calon buah hati kita?"Kenan bangkit. "Jangan, Sayang. Tidak apa-apa. Aku bisa nahan.""Tapi
Last Updated : 2026-11-06 Read more