"Nyali kamu tinggi juga sampai menawarkan persyaratan kepada saya," sinis Angkasa. Mata dinginnya memicing ke arah Asha sambil menyeringai tipis. Gadis itu mengangguk pelan. "Kita sama-sama diancam, kan?" Angkasa mendekat dan menumpukan satu tangannya di atas kepala Asha. Gadis itu sempat tersentak lantaran gerakan Ketua BEMnya yang secepat kilat tiba-tiba kembali menyudutkannya ke dinding. "Kenapa saya harus menerima persyaratan dari kamu?" sahut pria itu dingin. Asha menarik napas pelan sebelum menjawab. "Aku bisa jadi umpan untuk memancing pengancamnya." Gadis itu mengulum bibirnya, napasnya tertahan, wajah Angkasa terlalu dekat. "Setelah dipikir-pikir… pengancamnya gak langsung sebarkan foto itu secara luas, artinya dia punya keperluan dengan aku dan kamu," sambung Asha. Pria itu menatapnya lama, seolah memindai seluruh wajah Asha. Beberapa jenak kemudian, Angkasa kemudian menjauh, melurusk
Terakhir Diperbarui : 2026-08-07 Baca selengkapnya