Satu jam berlalu mereka benar-benar bermain catur. Meski Jingga agak kebingungan, tetapi dengan sabar dan telaten Arjuna mengajari gadis itu. Karena malam semakin larut, Jingga menguap beberapa kali. Bahkan, kepalanya nyaris terantuk pada meja. Namun, dengan sigap Arjuna selalu menahan dahinya dengan jemarinya agar tidak membentur meja. Melihat Jingga yang sudah mengantuk berat, Arjuna memilih mengakhiri permainan catur. “Jingga, tidurlah! Kamu sudah mengantuk.”Jingga menegakkan tubuhnya, mengucek matanya beberapa kali. “Tapi … belum selesai, Mas.”“Gak apa-apa. Kita kan cuman main catur juga nunggu ngantuk. Tidurlah sekarang!” Ucap pria itu lalu menengok arloji mahal yang melingkari pergelangan tangannya. “Sudah jam setengah tiga.”“Ya udah, Mas juga tidur.”“Kita tidur. Bareng.”“Hah? Bareng?”“Iya, kamu tidur. Aku juga tidur.”Arjuna tersenyum sembari merapikan kembali papan caturnya. “Makasih ya, Mas,” celetuk Jingga tiba-tiba, memecah keheningan malam.Arjuna yang sedang mera
Last Updated : 2026-09-20 Read more