Jingga menerima bunga itu, menyunggingkan senyum merekah yang sangat tulus hingga matanya menyipit indah. “Terima kasih banyak, Mas Arjuna. Aku suka banget bunganya.”Arjuna tertegun sejenak melihat raut bahagia di wajah istrinya. Rasa bersalah yang sempat menghimpit dadanya perlahan meluruh, digantikan rasa puas.“Mas…” panggil Jingga pelan saat mereka berjalan berdampingan menuju ruang tengah. “Ngomong-ngomong... ada satu hal yang mau aku minta izin sama Mas Arjuna.”Arjuna menghentikan langkahnya, menoleh fokus. “Apa?”“Setelah revisi Sempro ini selesai, aku... mau izin main sebentar ke rumah Nenek di Bogor,” tutur Jingga berhati-hati. “Ke daerah Puncak. Rumah Bibik Lilis, adiknya almarhumah Nenek. Sekalian mau healing sebentar melepaskan penat ujian skripsi. Boleh, kan?”Arjuna menyipitkan mata ragu. Naluri protektifnya seketika menyala mengingat situasi masalah keluarga Widjaya yang belum sepenuhnya terkendali. “Ke Puncak? Sendirian?”“Enggak kok! Aku ajak Karina,” potong Jingga
Last Updated : 2026-10-14 Read more