Share

Bab 11

Author: Aray Fu
last update publish date: 2026-08-09 21:21:02

“Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.

Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?

“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.

“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.

Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.

“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.

Karin mendongak. “Iya, Pak.”

“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”

“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”

Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”

“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”

“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada masalah atau hal yang belum kamu pahami bisa langsung bertanya padaku.”

Karin menghela nafas berat, Gavin menahannya di dalam ruangan. Rasanya ruangan itu menjadi sesak dan pengap bagi Karin. Apalagi suhu pendingin ruangan yang begitu dingin.

Tidak ada pilihan bagi Karin, sebab Gavin sepertinya tipe bos yang sulit dibantah kecuali dengan alasan yang kuat. Karin berjalan keluar mengambil laptopnya di depan, di meja kerjanya yang seharusnya.

Sebenarnya, Karin juga masih sedikit kaku dengan laptop itu. Sebab, laptop itu baru saja diserahkan oleh tim IT untuknya. Selama ini, Karin bekerja di divisi HRD dengan menggunakan computer.

“Bagaimana dengan Rio? Apakah dia masih mengganggumu?” tanya Gavin di sela-sela kesibukan mereka dengan layar masing-masing.

Karin menggelengkan kepalanya. “Untuk saat ini aman, Pak.”

“Berapa lama tunangan dengannya?”

“Satu tahun.”

“Hmmm.”

Gavin hanya mengangguk singkat, kemudian ia kembali fokus dengan layar di depannya. Sesekali ia tampak bergumam sendiri, sedangkan Karin tetap mencoba fokus, meskipun ia beberapa kali memergoki Gavin mencuri pandang padanya.

“Jadi, malam itu kamu datang ke club karena baru putus dengannya?” tanya Gavin lagi saat sedang coffe break sebentar.

“Iya,” jawab Karin dengan enggan, sebab ia tidak ingin mengingat lagi malam terkutuk itu. Baginya, kalau ada waktu yang ingin dilupakan, sudah pasti malam itu.

Bahkan, ia sempat memiliki pintu doraemon agar bisa pergi sejauh mungkin, menjauh dan melupakan malam itu. Tapi, lelaki yang malam itu tidur satu selimut dengannya malah dengan sengaja mengungkitnya.

Tahukah Gavin kalau hati Karin kembali hancur, ia merasa tidak memiliki masa depan lagi karena yang selama ini jaga kini sudah koyak. Tapi, ia tidak bisa menuntut pertanggungjawaban pada Gavin, sebab ia tahu Gavin sudah punya istri.

Ia tahu bagaimana rasanya sakit hati, ia juga paham bagaimana rasanya dikhianati. Ia tidak mau istri Gavin merasakan hal yang sama. Dan ia akan memilih menyimpan peristiwa itu di dalam hatinya yang paling dalam, menguburnya bersama dengan lukanya.

Biarlah hanya ia, Gavin dan Tuhan yang tahu tentang malam itu.

“Kamu gak mau aku bertanggung jawab?” tanya Gavin.

Karin menatap Gavin sebentar lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, pak. Anggap saja semua tidak pernah terjadi.”

“Tapi, aku sudah—“

“Itu akan menjadi aib bagi diriku sendiri, Pak. Sekarang, kita di kantor sebaiknya kita hanya membahas tentang pekerjaan. Tidak perlu membahas hal pribadi,” jawab Karin sambil menelan ludah.

Jawaban Karin itu justru semakin membuat Gavin kagum dan membuatnya tertantang. Bagaimana tidak? Kalau itu terjadi pada gadis lain dan mereka tahu siapa Gavin, ia rasa tidak mungkin tidak menuntut, sekalipun mereka pikir Gavin sudah beristri.

Tapi, tidak dengan Karin. Meskipun itu pertama kali baginya, tapi ia tidak ingin ada wanita lain yang tersakiti. Ia rela menderita, asalkan tidak menyakiti orang lain.

“Aku paham. Tapi, bagaimana kalau aku mau bertanggung jawab?” tanya Gavin lagi.

Karin menggeleng dan memaksakan senyumannya. “Pak, aku tahu rasanya sakit hati dikhianati. Jadi, aku tidak mau membuat orang lain merasakan hal yang sama. Tunangan berkhianat aja sakitnya sampai ke tulang, bagaimana kalau suami? Pasti hancur lebur. Alangkah jahatnya aku kalau sampai membuat rumah tangga Bapak hancur. Padahal, malam itu aku juga salah. Aku mabuk, seharusnya aku tidak menyentuh minuman laknat itu.”

“Maksud kamu? Istri siapa?” tanya Gavin.

“Istri Pak Gavin lah.”

“Karin, aku tidak—“

Tok! Tok!

“Ada orang,” potong Karin cepat sehingga Gavin tidak bisa menyelesaikan ucapannya.

“Masuk!” ucap Gavin sambil menghela nafas berat.

Pintu ruangan terbuka, Frengki berdiri di depan pintu dan sedikit terkejut saat melihat Karin berada di dalam ruangan Gavin. Tapi, tidak ada yang aneh, sebab ia melihat Karin tampak begitu sibuk dengan pekerjaannya.

Dan Frengki juga tahu seperti apa Karin bekerja.

“Ada apa, Pak Frengki?” tanya Gavin.

“Ini, Pak. Ada yang perlu saya diskusikan dengan Pak Gavin.”

“Mari silakan duduk, biarkan saja Karin mendengarkan sambil bekerja. Ia akan sambil mencatatnya,” jawab Gavin.

Karin hanya mengangguk, sekalipun dalam hatinya menggerutu. ‘Emangnya dia pikir aku ini apa? Bisa kerja sambil multitasking begini? Kenapa harus dicatat segala sih?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 12

    Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 11

    “Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 10

    "Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 9

    “Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 8

    Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 7

    “Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status