Share

Bab 12

Author: Aray Fu
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-09 21:55:20

Minggu pagi…

Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.

“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.

Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.

Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.

Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.

Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”

Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.

“Apa itu?” tanya Gavin.

“Kado untuk Keenan.”

Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak perlu bawa apa-apa. Dia itu butuh teman, dan kehadiran kamu sudah membuatnya sangat senang.”

“Gapapa, anggap saja ini hadiah perkenalan. Lagian, isinya gak mahal kok.”

“Okelah.”

Gavin melajukan mobilnya dengan perlahan, seolah ia tidak ingin kebersamaan itu berakhir begitu saja. Sesekali ia melirik kearah Karin, wanita itu berpenampilan sangat sederhana, bahkan make up nya saja sangat tipis. Tapi, justru karena itu kecantikannya benar-benar memancarkan aura yang hebat, sehingga mata Gavin sulit sekali menghindar dari gadis cantik di sebelahnya ini.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah besar yang terletak dalam komplek elit. Rumah dengan cat putih, berdiri kokoh tiga lantai dan begitu mobil Gavin memasuki halaman, suara Keenan terdengar begitu riang.

“Dia sudah menunggu kamu, sudah gak sabar,” ujar Gavin tersenyum.

“Aku jadi merasa seperti anak kecil,” jawab Karin asal.

Gavin tertawa. “Tapi, kamu adalah orang pertama kalinya yang bisa membuat Keenan akrab dalam sekali pertemuan. Biasanya, ia tidak menyukai orang baru. Tapi, dengan kamu dia malah menanyakan kamu terus.”

“Apakah aku sekecil itu sampai-sampai Keenan mau berteman denganku?” tanya Karin penasaran.

“Entahlah.”

“Mama datang!” teriak Keenan yang berlari keluar dari pintu menyambut Karin.

Karin turun dengan dada bergemuruh, ia takut panggilan itu akan membuat salah sangka. Ia takut, Keenan memanggilnya Mama membuat ibu kandung Keenan marah.

Tapi, bagaimana cara memberitahu anak kecil itu? Ia sudah terlanjur nyaman dengan panggilan itu.

“Hai Keenang, tante bawakan kado untuk kamu,” sambut Karin langsung memeluk Keenan.

“Bukan tante, tapi Mama…”

“Oh iya. Maaf ya.”

Tangan mungil Keenan menarik tangan Karin, mengajak Karin masuk ke dalam rumah. Benar seperti yang dikatakan oleh Gavin, yang paling membuat Keenan senang bukanlah kadonya, melainkan diri Karin.

Sebab, kado yang dibawa oleh Karin, langsung diserahkan pada pengasuhnya, disuruh buka dan berikan isinya padanya, itu pesan Keenan.

“Hati-hati, Keen,” ujar Gavin menyusul dari belakang.

Ruangan tengah rumah itu sudah disulap menjadi arena bermain, berbagai macam mainan Keenan ada disana. Sepertinya, ini adalah permintaan khusus dari Keenan.

“Mama, lihatlah…” ujar Keenan menunjuk dengan bangga pada permainanya.

“Wow, ini hebat sekali. Jadi, hari ini kita mau main apa?” tanya Karin.

“Main semuanya, Mama.”

“Oh, baiklah.”

Sementara itu, Gavin tidak ikut bermain. Sebab, ia diabaikan oleh Keenan, ia sudah mendekat, tapi anak kecil itu seolah tidak melihatnya. Keenan begitu bersemangat untuk bermain bersama dengan Karin.

Gavin memilih untuk berenang di halaman belakang, ia tidak ingin mengganggu Keenan dan Karin bermain. Sebelumnya, ia sudah berpesan kepada Karin, kalau ia akan mengantarkan gadis itu sore harinya. Jadi, hari ini Karin akan seharian berada di rumahnya.

Keenan terus mengajak Karin bermain, dari satu permainan ke permainan lainnya. Dan ternyata, hadiah yang Karin bawa untuk Keenan adalah buku mewarnai dan juga pensil warna.

“Kita mewarnai dulu yuk,” ajak Karin yang sudah lelah sejak tiba tanpa jeda terus bermain. Ia bahkan belum sempat menikmati suguhan yang diantarkan pembantu rumah itu.

Namun, sesuatu yang tidak Karin pahami. Sejak kedatangannya di rumah ini, ia tidak melihat ibunya Keenan. Sejak tadi, Keenan hanya didampingi oleh Bi Murni, pengasuhnya.

Dan, Karin pikir mengapa Gavin berani mengajaknya ke rumah, karena memang saat ini istrinya sedang tidak ada di rumah.

Karin semakin merasa bersalah. Ia datang ke rumah ini, bermain dengan Keenan ketika nyonya rumah sedang tidak ada.

Hingga akhirnya, setelah makan siang Keenan kelelahan dan tertidur dalam pelukan Karin. Sebelumnya, ia meminta Karin membacakan buku cerita, dan ia benar-benar tidur.

“Bi, ini gimana? Apakah mau dipindahkan ke kamar?” tanya Karin pada Bi Murni.

“Nanti saja, Non. Tunggu sampai benar-benar lelap.”

Bi Murni tampak sibuk merapikan mainan yang berantakan, sedangkan Karin mengelus wajah dan kepala Keenan dengan lembut yang membuat anak kecil itu semakin nyenyak.

“Bi…” panggil Karin pelan.

“Iya, Non. Capek ya?”

“Bukan itu, Bi. Maaf kalau sedikit lancang bertanya. Ini Mamanya Keenan kemana ya? Apa beliau gak marah aku datang kesini membuat rumahnya berantakan begini?” tanya Karin.

Ia penasaran, akhirnya setelah memastikan momentumnya tepat, Karin langsung melontarkan pertanyaan itu pada Bi Murni.

Bi Murni tersenyum. “Loh, Non Karin gak tahu?”

“Gak tahu apa, Bi?”

“Pak Gavin itu duda. Sejak Keenan kecil mereka bercerai.”

“Duda?” Karin membeo.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 12

    Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 11

    “Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 10

    "Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 9

    “Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 8

    Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 7

    “Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status