Layar perangkat di pergelangan tanganku memudar kembali menjadi hitam, tetapi denyut nadiku justru memacu dua kali lipat. Napasku tertahan di dada. Aku mengunci kedua tanganku pada gagang Glock-19, menolak membiarkan getaran ketakutan merusak akurasi bidikanku.Pria di depanku, bayangan yang menginvasi tempat perlindungan terdalamku, berhenti bergerak saat menyadari sorot mataku telah berubah. Ilusi afeksi itu patah.Tiba-tiba, ia tertawa. Suara tawa itu pelan, nyaris tanpa emosi, dan menggema kering di dinding koridor. Ia melangkah satu inci ke depan, membiarkan bias lampu darurat berwarna merah menyapu wajahnya secara utuh.Di bawah cahaya temaram itu, aku melihatnya. Rahang yang sama, tulang pipi yang sama, dan postur mengintimidasi yang seratus persen menyerupai suamiku. Namun, saat kelopak matanya terangkat penuh, tidak ada kegelapan obsidian yang selalu membakarku dengan gairah protektif. Yang menatapku kini adalah sepasang mata biru safir. Indah, beku, dan benar-benar kosong da
آخر تحديث : 2026-10-14 اقرأ المزيد