Nindy meremas amplop putih di tangannya hingga kertas tebal itu terlipat tidak beraturan. Air matanya mengalir makin deras membasahi pipinya yang pucat. Ia menahan napas seraya menggelengkan kepala secara berulang di depan suaminya."Nggak, Mas... aku nggak akan pernah mau tanda tangan kertas ini," ucap Nindy seraya membuang amplop tersebut ke atas meja kaca di belakangnya.Fajar tidak mengambil kembali amplop itu. Laki-laki itu melangkah melewati Nindy menuju kamar tidur utama, lalu membuka pintu lemari pakaian secara perlahan. Ia menarik sebuah tas jinjing besar dari rak atas, kemudian mulai memindahkan beberapa kemeja dan celana kain miliknya ke dalam tas.Nindy berlari kecil menyusul ke dalam kamar, lalu memegang lengan kemeja Fajar dari samping. "Mas Fajar, stop! Kamu mau ke mana?!""Aku mau pindah ke rumah ibuku dulu sementara waktu," jawab Fajar tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat baju."Kita bisa bicarain ini baik-baik, Mas," bujuk Nindy seraya menarik tas
Terakhir Diperbarui : 2026-08-05 Baca selengkapnya