"Aku nggak punya pilihan lain selain nerima, Nindy. Tapi bukan berarti aku nggak berharap kamu bahagia," jawab Fajar, suaranya terdengar tulus meski ada nada berat di sana. "Cuma satu yang mau aku titip. Jaga diri kamu baik-baik. Anak itu juga, meskipun bukan darah dagingku, tetep aja pernah numbuh di rahim yang sama kayak yang seharusnya jadi anakku."Nindy menutup mulutnya sejenak, menahan haru yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Iya, Mas. Makasih."Sambungan telepon itu berakhir tanpa kata perpisahan yang panjang. Nindy meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu menghela napas dalam-dalam."Kamu nggak apa-apa?" tanya Malik sambil mengusap punggung Nindy."Nggak apa-apa, Malik. Cuma... lega aja akhirnya semuanya jelas," jawab Nindy sambil tersenyum tipis. "Fajar orang baik. Aku seneng dia bisa move on."Eleanor kembali dari dapur membawa dua cangkir teh jahe hangat, meletakkannya di atas meja kaca. "Siapa yang telepon tadi?""Fajar, Bu. Ngasih tahu soal surat cerai yang udah resmi,"
Last Updated : 2026-08-10 Read more