Nindy tertawa kecil mendengar itu, menoleh ke arah Malik. "Kedengerannya masih aneh di telinga aku.""Nanti juga terbiasa," balas Malik sambil mengecup pelipis Nindy lembut. "Kamu udah mikir belum, kita bakal tinggal di apartemen ini terus, atau cari rumah baru?"Nindy mengernyitkan dahi, memikirkan pertanyaan itu sejenak. "Kamu ada rencana pindah, Malik?""Aku cuma mikir, sebentar lagi anak kita lahir. Apartemen ini nyaman, tapi mungkin kurang cocok buat anak kecil yang butuh ruang main," jelas Malik sambil mengusap perut Nindy pelan. "Aku pengin punya halaman kecil, tempat dia bisa lari-larian nanti."Nindy tersenyum membayangkan itu, hatinya terasa hangat. "Aku suka ide itu, Malik. Tapi kita nggak buru-buru, kan? Aku masih pengin nikmatin apartemen ini dulu, apalagi banyak kenangan kita di sini.""Nggak buru-buru," jawab Malik sambil menggenggam tangan Nindy. "Mungkin kita cari-cari dulu pelan-pelan, sambil nunggu anak kita lahir. Kalau udah nemu yang cocok, baru kita pindah."Nind
Last Updated : 2026-08-14 Read more