เข้าสู่ระบบFajar mengepalkan jemari tangan kanannya di atas meja seraya mengerutkan keningnya tajam. "Berita memalukan apa lagi yang Ibu bicarakan malam-malam begini?"Marni membersihkan tenggorokannya sejenak, lalu berbicara dengan nada suara yang penuh provokasi. "Dokter Malik itu baru saja menerima skorsing dan izin praktiknya dibekukan sementara oleh pihak rumah sakit pusat! Ini kesempatan bagus buat kamu menyewa pengacara dan melaporkan dokter itu ke polisi karena dia sudah menghancurkan rumah tangga kamu!"Fajar memejamkan matanya rapat-rapat seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Laki-laki itu menahan lidahnya sejenak agar tidak langsung membentak ibunya melalui saluran telepon. "Ibu tolong berhenti mencampuri urusan kehidupan mereka lagi. Perceraian Fajar sama Nindy sudah selesai secara sah di pengadilan agama, jadi Fajar sudah tidak punya hak apa pun untuk menuntut mereka."Marni mendengkus kasar dari balik telepon seraya menunjukkan sikap keras kepalanya. "Kamu itu terlal
Pukul delapan pagi tepat, Malik melangkah tegap memasuki ruang Rapat Komite Etik di lantai empat gedung Rumah Sakit Pusat. Laki-laki itu menarik kursi kayu berukir di ujung meja tebal, lalu mendudukkan tubuh besarnya di hadapan jajaran Direksi dan Dewan Etik Kedokteran. Atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa sangat dingin dan tegang.Ketua Dewan Etik membetulkan posisi kacamata di hidungnya, lalu membuka tumpukan berkas laporan di atas meja. Pria paruh baya itu menatap Malik secara tajam seraya berbicara dengan nada suara resmi. "Dokter Malik, kami menerima laporan resmi terkait dugaan penukaran jadwal ruang praktik Dokter Sita dan penanganan pasien pribadi atas nama Nindy."Malik menegakkan posisi duduknya, menyilangkan kedua jemari tangannya di atas meja, lalu membalas tatapan Ketua Dewan Etik tanpa ragu. "Terima kasih atas kesempatan klarifikasi ini, Dokter. Saya ingin menegaskan bahwa seluruh tindakan medis yang saya lakukan pada pasien Nindy murni berdasarkan pro
Eleanor mengusap air mata di pipinya menggunakan tisu, kemudian menatap anak laki-lakinya dengan raut wajah penuh penyesalan. "Waktu Ibu bikin surat perjanjian lima miliar itu sama ayahnya Nindy tujuh tahun lalu, Bahar yang jadi pengacara pribadi keluarga kita, Malik. Dia yang pegang semua dokumen asli, kuitansi, sama salinan surat kuasa dari ayah Nindy."Malik mengepalkan tangannya di atas paha seraya mendengarkan penjelasan tersebut. "Terus kenapa dokumen itu tidak Ibu ambil waktu memecat dia tiga tahun lalu?""Ibu pikir dia udah menyerahkan semua berkas kantor waktu dipecat karena kasus penggelapan uang itu," jawab Eleanor seraya suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Ibu tidak tahu kalau ternyata dia diam-diam menyimpan salinan kuitansi itu dan terus mencari celah buat membalas dendam ke keluarga kita."Malik menarik napas panjang melalui hidung, lalu menghembuskannya secara perlahan melalui mulut. "Lalu soal jadwal Dokter Sita? Dari mana dia tahu kalau Malik sengaja tukar ruang
Ponsel Malik yang tergeletak di atas meja kaca tiba-tiba berdering sangat nyaring memecah keheningan ruangan. Malik meraih benda elektronik itu, melihat nomor tidak dikenal tertera di layar panggil, lalu menggeser tombol hijau ke atas.Malik menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo?"Suara berat seorang pria paruh baya terdengar tertawa pelan dari ujung telepon. "Selamat malam, Dokter Malik. Kamu sudah baca dokumen hadiah dari saya di meja kerjamu?"Malik berdiri kaku seraya mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada ponsel. "Tuan Bahar. Bagaimana bisa dokumen pribadi keluargaku ada di tanganmu?!""Saya memegang seluruh salinan perjanjian asli dan surat kuasa lama dari almarhum Ayah Nindy yang belum pernah dicabut secara hukum," balas Bahar dengan nada suara mengancam yang sangat dingin."Dan kalau keluarga Sastrowardoyo tidak mau skandal pemalsuan perjanjian dan manipulasi medis ini saya bongkar ke media serta dewan etik dokter esok pagi, kamu harus menyiapkan ganti rugi rekening kantor say
Malik mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih di atas meja kayu.Selama tujuh tahun ini, ia meyakini bahwa kebangkrutan keluarga dan kepergiannya ke luar negeri murni sebuah kebetulan pahit, namun malam ini kebenaran di depan matanya membongkar seluruh manipulasi tersebut.Suara gesekan pintu kayu yang terbuka pelan membuyarkan fokus Malik. Nindy melangkah masuk ke dalam ruang kerja seraya mengucek matanya yang masih mengantuk, lalu berjalan mendekati meja tempat Malik duduk.Gaun rumahan longgar berwarna krem menutupi tubuh Nindy yang sedang mengandung dua bulan lebih. Wanita itu menghentikan langkah kakinya dua tindak di samping kursi Malik seraya memperhatikan raut wajah pria itu yang sangat pucat.Nindy memegang bahu tegap Malik secara lembut, lalu bertanya, "Malik... kamu belum tidur jam segini?"Malik refleks menutup tumpukan kertas itu menggunakan telapak tangan besarnya, kemudian menoleh menatap mata Nindy secara langsung. "Aku cuma lagi merapika
Nindy tersenyum tulus seraya menarik gaunnya kembali ke bawah. "Rasa kram panggulku juga udah hilang total sejak malam itu.""Itu bukti kalau aliran darah dan hormon reproduksimu udah pulih total," balas Malik seraya mengecup kening Nindy cukup lama. "Mulai hari ini, kamu nggak boleh ngerjain pekerjaan rumah yang berat-berat lagi."Pintu utama apartemen tiba-tiba terdengar diketuk dari luar secara berulang kali. Malik mengernyitkan keningnya heran, lalu berdiri dari tepi tempat tidur."Siapa yang datang siang-siang gini?" gumam Malik seraya berjalan keluar kamar menuju pintu depan.Malik memutar gagang pintu utama, lalu membelalakkan matanya saat melihat sosok wanita paruh baya berpenampilan anggun berdiri di depan ambang pintu. Wanita itu adalah Eleanor, ibu kandung Malik yang datang membawa tempat makanan hangat."Ibu?" sapa Malik heran seraya membuka pintu lebih lebar. "Ibu kok nggak telepon dulu sebelum ke sini?"Eleanor tersenyum manis seraya melangkah masuk ke dalam ruang tamu.







