Keano menatap Brian lama, membiarkan keheningan itu menggantung sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Jelaskan.”Brian menarik napas dalam-dalam, mencoba menyusun kalimat yang bisa menyelamatkannya dari kehancuran yang sudah di depan mata. “Saya melakukan ini semua karena dorongan Melissa, Pak. Dia yang terus mendesak saya supaya bisa naik jabatan.”Keano menatap Brian dengan sorot mata yang meragukan, alisnya sedikit terangkat tanpa berkata apa-apa.Melihat Keano menatapnya semakin tajam, Brian panik, buru-buru menambahkan penjelasannya. “Saya tidak bohong, Pak! Makanya Pak Herman mau membantu saya waktu itu, karena beliau ‘kan pamannya Melissa. Semua ini rencana mereka berdua, Pak, saya hanya—”“Lalu kenapa kamu tidak menolak,” potong Keano cepat, suaranya sedingin es, “kalau memang kamu merasa terpaksa dan tidak mampu?”Pertanyaan itu telak menghantam, membuat Brian tergagap. Dia meneguk ludah kasar, keringat dingin semakin deras membasahi pelipisnya.“Si-siapa yang tidak mau, Pak, k
Last Updated : 2026-09-16 Read more