"Kamu berusaha kabur dariku?"Suara Julian mengalun sangat pelan, hampir menyerupai bisikan, namun getaran dingin di dalamnya sanggup mematikan seluruh pergerakan di dalam ruangan. Pria itu perlahan menurunkan ponselnya dari telinga, memasukkannya kembali ke saku celana tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Maya.Maya membeku. Lidahnya mendadak terasa kelu, sementara darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir. Pegangan tangan Julian di bahunya tidak bertambah kencang, tetapi tatapan pria itu mengunci seluruh keberaniannya hingga tak bersisa."Jawab aku, Maya," ulang Julian. Jarinya bergerak naik, mengusap garis rahang Maya yang mengeras ketakutan. "Kamu memesan tiket satu arah ke Zurich untuk besok pagi?"Maya menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya yang telah tercecer. "Aku... aku bukan mau kabur, Julian.""Lalu apa sebutannya?" Julian tertawa pendek, sebuah tawa kering yang sama sekali tidak tersentuh rasa humor. Pria itu
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-20 อ่านเพิ่มเติม