"Tatap mataku dan katakan kalau kamu membencinya, Maya."Suara serak Julian memecah keheningan kamar yang remang. Pria itu masih mengungkung tubuh Maya di atas ranjang, membiarkan bobot tubuh tegapnya menekan halus kehangatan paha Maya di bawah selimut sutra.Maya berpaling, berusaha menyembunyikan rona merah yang membakar pipinya. Sentuhan Julian yang mengusap jejak air matanya tadi masih meninggalkan sengatan panas di permukaan kulitnya. Hipnotis itu nyata. Setiap kata bujukan Julian yang manipulatif secara ajaib sanggup meredam kepanikan di dadanya, menggantikannya dengan rasa ketergantungan asing yang menakutkan.Julian menyenggol pelan rahang Maya dengan ujung hidungnya, menyusuri garis leher wanita itu hingga memicu gedebuk jantung Maya yang kian melaju liar."Jawab aku, Maya," desis Julian rendah. Jemari tebalnya merayap menyusup di bawah ikatan selimut, membelai pinggang polos Maya yang hanya terbalut pakaian dalam tipis. Usapannya begitu santai namun penuh klaim kepemilikan.
Terakhir Diperbarui : 2026-08-16 Baca selengkapnya