Julian langsung meraih tetikus dan mematikan layar komputer tersebut dengan satu gerakan kasar. Ia bahkan menarik kabel daya dari balik meja hingga layar monitor itu padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan tipis di sudut ruang kerja.Pria itu terkeh rendah, sebuah cibiran penuh nada meremehkan terpancar dari wajahnya. "Siapa pun yang menyiapkan jebakan ini, aku tidak akan percaya," gumamnya datar. "Aku, Julian Vane, hanya percaya dengan bukti."Maya menahan napas, menatap Julian yang masih berdiri sangat dekat dengannya. Pesan berwarna merah di layar tadi masih terbayang jelas di benaknya. Kalimat itu terngiang-ngiang, menanamkan benih keraguan yang makin membesar di dalam dadanya."Julian..." suara Maya bergetar pelan. "Pesan itu... apa maksudnya? Ayahku membunuh ayahmu?"Julian bergeming sejenak. Pria itu menunduk, menatap wajah Maya yang kini diliputi rasa cemas dan kebingungan. Jemari Julian yang panjang terulur, mengusap lembut rahang Maya, mengunci pandangan wanita itu agar hanya
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-29 อ่านเพิ่มเติม