Share

56 - Kejutan

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-08-30 21:42:22

"Nona Maya tidak ada lagi di dalam ruang kerja Anda!"

Kalimat Sean memukul dada Julian bagai benturan keras. Dalam sekejap, aura tenang dan penuh kendali yang baru saja dipamerkan Julian meluap tanpa bekas. Pria itu berdiri begitu cepat hingga kursi tunggal di belakangnya bergeser kasar.

"Apa maksudmu tidak ada?!" seru Julian, suaranya menggelegar menembus sunyinya ruang tamu.

Setitik rasa panik yang sangat jarang melintas di wajah tegap itu kini tercetak jelas. Pikiran Julian langsung melayang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   100: Hamil

    Suara deburan ombak yang menghantam dinding dermaga terdengar sayup-sayup dari balik jendela kayu. Di dalam kamar tidur yang sederhana itu, Maya membungkuk di atas ember kecil di sisi tempat tidur, mencengkeram erat pinggirannya sementara tubuhnya bergetar hebat. Rasa mual yang luar biasa kembali menyerang lambungnya tanpa ampun, menguras sisa-sisa tenaga setelah perjalanan panjang yang melelahkan.Miranda bergegas masuk dengan membawa segelas air hangat dan handuk kecil di tangannya. Wanita itu langsung berlutut di lantai, menepuk-nepuk punggung adiknya dengan lembut lalu membantu Maya menegakkan tubuhnya."Minumlah perlahan, Maya," bisik Miranda cemas, menyodorkan gelas tersebut ke bibir adiknya.Maya menerima gelas itu dengan tangan gemetar, meneguk sedikit air hangat untuk meredakan rasa pahit di kerongkongannya. Napasnya masih memburu, peluh dingin membasahi pelipisnya.Miranda menatap wajah pucat Maya lekat-lekat, mengamati setiap perubahan ekspresi yang terukir di sana. Sebua

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   99: Kabur Untuk Selamanya

    "Jangan pernah coba-coba menguji batas kesabaranku, Maya."Kalimat peringatan itu masih aterngiang di kepala Maya saat ia membuka mata di tengah gelapnya kamar utama. Malam telah merayap jauh, meninggalkan keheningan total di dalam penthouse mewah tersebut. Julian tertidur lelap di sisi ranjang, sebelah tangannya masih melingkar protektif di pinggang Maya dengan cengkeraman bawah sadar yang kuat.Maya menahan napas. Ini adalah celah terkecil yang ia miliki, dan mungkin kesempatan terakhir sebelum pengawasan Julian semakin diperketat pasca pernikahan mereka.Dengan gerakan sangat perlahan, Maya mengangkat tangan Julian dari pinggangnya, menggantinya dengan guling agar pria itu tidak menyadari kehilangannya. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk. Maya turun dari ranjang tanpa alas kaki, bergerak dalam remang-remang cahaya lampu kota yang menembus tirai kaca. Ia tidak membawa tas mewah, tidak membawa ponsel yang tertanam pelacak GPS, dan tidak mengambil satu pun perhiasan

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   98 - Malam Pertama

    "Jangan coba-coba membuang muka dariku, Maya."Bisikan rendah itu meluncur tepat di samping telinga Maya, mengunci wanita tersebut dalam kungkungan berat tubuh Julian di atas ranjang. Kain gaun pengantin hitam legam yang dikenakannya terasa semakin menyesakkan dada, berpadu dengan kepenatan fisik dan mental yang telah mencapai batas maksimal setelah prosesi pemberkatan paksa tadi.Maya mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, berusaha menepis gelombang pusing yang mendadak kembali menyerang kepalanya. Rasa mual di lambungnya terasa semakin nyata, sebuah reaksi penolakan biologis yang tidak bisa ia kendalikan meski otaknya terus memerintahkan tubuhnya untuk tetap kuat.Julian tidak memberikan waktu bagi Maya untuk bernapas atau memulihkan diri. Pria itu menangkup rahang Maya dengan satu tangan, memaksa wajah pucat wanita tersebut untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap gulita. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanya kilau dominasi mutlak seorang p

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   97 - Sah Menjadi Nyonya Vane

    "Tanda tangani, Maya."Perintah itu meluncur tanpa ampan dari bibir Julian Vane, memecah keheningan kaku di ruang pemberkatan privat lantai dasar penthouse. Di atas meja altar berlapis kayu mahoni gelap, dokumen tebal dengan stempel resmi terbuka lebar. Ujung pena bermata emas terulur tepat di antara jemari Maya yang gemetar hebat.Maya menatap ujung pena tersebut seolah benda itu adalah bilah pisau yang siap menorehkan luka permanen. Kepalanya masih terasa pening, sisa-sisa gelombang mual tadi pagi berputar pelan di dalam lambung, memperburuk ketegangan mental yang sudah berada di ambang batas. Sekeliling ruangan terasa menyempit. Sean berdiri tegak tanpa ekspresi di sisi kiri altar, sementara sang pendeta sipil menunduk patuh menunggu detik-detik pengesahan ikatan tersebut.Tidak ada jalan mundur. Julian berdiri terlalu dekat, mengawasi setiap gerak-gerik wanita di sampingnya dengan sorot mata predator yang tidak memberi celah sedikit pun untuk melarikan diri.Dengan napas tertahan,

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   96 - Janji Palsu

    "Jangan membuatku harus naik ke kamar ini dua kali untuk menyeretmu, Maya."Suara Julian yang berat dan tajam itu bergeming di ambang pintu kamar, menghentikan langkah ragu Maya yang baru saja menyentuh kain hitam legam gaun pengantin tersebut.Maya menarik napas dalam-dalam, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, lalu dengan tangan bergetar meraih gaun itu dari manekin. Tidak ada lagi jalan untuk mengelak. Desakan mual yang masih samar-samar berdenyut di perutnya iaabaikan sekuat tenaga, memaksa dirinya bergerak cepat sebelum Julian kehilangan sisa kesabarannya yang tipis.Beberapa menit kemudian, Maya melangkah keluar dari kamar ganti. Gaun pengantin hitam bergaya minimalist-chic itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis pinggang dan kontur tubuhnya yang jenjang, namun sekaligus memberikan aura kelam bagaikan gaun pemaksaan menuju algojo. Wajahnya dipoles tipis, menyamarkan pucat pasinya, meski sorot mata kecut dan ketakutan di balik manik matanya tidak bi

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   95 - Gaun Hitam Sang Pengantin

    Ancaman itu masih menggantung, berpadu dengan kepanikan yang bergemuruh di dada Maya. Namun, Julian tidak memberinya waktu barang sedetik pun untuk memproses ketakutan tersebut. Pria itu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang masih mencengkram tepi wastafel dengan napas memburu.Belum genap sepuluh menit ia berusaha menenangkan gejolak mual di lambungnya, pintu kamar utama diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Sean masuk bersama dua pelayan wanita berwajah kaku, membawa sebuah manekin berbalut kain hitam yang berdiri tegak di atas roda dorong."Gaun ini bukan pilihan, Nona Maya. Ini adalah seragam untuk status baru Anda," suara Sean terdengar datar namun mutlak, memecah keheningan yang menyesakkan.Di atas manekin itu, sebuah gaun pengantin bergaya minimalist-chic berwarna hitam legam tergantung tanpa cela. Tidak ada renda putih, tidak ada kesan suci atau romantis; yang ada hanyalah siluet tegas yang memancarkan aura kematian dan kepemilikan mutl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status