Gerimis sore jatuh pelan di gerbang besi hitam. Mobil hitam tanpa plat berhenti di depan kediaman Wijaya Hutomo. Reza turun pertama. Napasnya ditahan. Di belakangnya Kay, Run, dan Taxi. Jas mereka masih rapi walau baru dari lokasi terbakar. Tok. Tok. Tok. Pintu diketuk. Klik. Yang buka langsung Frans. Kemeja putih, lengan digulung. Mata sembab, tapi begitu lihat Reza matanya langsung berbinar. "Reza? Akhirnya." Frans langsung ulur tangan, genggam erat. "Saya udah nunggu kabar dari kamu. Tiap hari nunggu." Reza menunduk sopan. "Iya, Pak. Maaf baru bisa lapor. Saya bawa teman." Frans baru sadar ada 3 pria di belakang. Auranya berat. Diam, tapi bikin ruangan berasa lebih kecil. "Oh... silakan masuk semuanya. Mari, mari." Di ruang tamu, AC dingin. Aroma melati dari vas bunga. "Mau minum apa? Pasti haus sehabis jalan jauh," kata Frans sambil duduk. "Air putih saja, Pak. Terima kasih," jawab Reza. "Jangan sungkan, Nak." Frans menoleh ke dapur. "Bi, tolong ba
Last Updated : 2026-09-11 Read more