Mendengar perkataan Frans yang mengatakan Nadin ada di kamarnya, Mahesa merasa sedikit tenang. Napasnya yang tadinya memburu karena perjalanan tiga jam, kini perlahan teratur. Dia tidak takut Nadin pergi, karena gadis itu ada di sini, di rumah orang tuanya sendiri. "Nadin... dia ada di atas, di kamarnya," Frans tersenyum, mencoba mencairkan suasana. Tak lama, Rosa datang menghampiri suaminya dengan wajah cemas. "Mas... Jesi kenapa? Mamah dengar dia menangis histeris sekali di kamarnya, pintu dibanting keras," Rosa bertanya sambil memegang lengan Frans erat. Frans mengusap punggung tangan istrinya. "Sayang, nanti Mas jelaskan di dalam ya. Jangan khawatir. Oh iya, perkenalkan, ini Pak Mahesa Adipati, pengusaha muda yang sukses itu. Ternyata dia teman SMA Nadin dulu!" Rosa langsung mengalihkan fokusnya. Dia menatap Mahesa dari atas ke bawah. Tampan, tinggi, kulit bersih mulus, rahang tegas, jas mahal. Sempurna. Tipe menantu idaman. "Selamat malam, Pak Mahesa. Ya ampun, suat
Last Updated : 2026-09-21 Read more