Ruang kerja di kediaman Wijaya Hutomo dingin. AC menderu, tapi tidak sedingin suasana di dalam.Layar laptop besar menampilkan peta Jakarta, Merak, dan jalur ke Pulau Dewata. Di meja berserakan foto Debi, tiket bus, dan rekaman CCTV terminal.“Dia pasti ke stasiun atau pelabuhan kecil.” kata Run sambil menunjuk peta. “Terminal besar udah panas. Polisi juga udah kita titip pesan.”Reza mengangguk. Wajahnya tegang. “3 Naga, sebar tim. Cek semua tiket keluar kota atas nama Debi. Bandara Soetta, Halim, Stasiun Senen, Gambir, Pelabuhan Merak, Tanjung Priok. Jangan ada yang lolos.”Kay dan Taxi langsung pamit keluar. Frans duduk di sofa, merangkul Rosa yang dari tadi diam. Di pangkuannya ada album foto lama. Foto dia dan Debi waktu SMA. Pelukan, baju kembaran, tawa lepas.“Mas... aku bodoh ya?” bisik Rosa. Suaranya serak. “16 tahun. Aku tidur satu rumah sama ular. Aku nggak pernah curiga sama adikku sendiri.”Frans mengusap punggungnya pelan. “Bukan salahmu, Sayang. Kamu tulus. Dia yang bus
Last Updated : 2026-09-15 Read more