Panas matahari siang menusuk kulit Arkan bagaikan jarum-jarum api. Tanpa ada lagi aliran hangat dari telur hitam yang biasanya membalut nyawa dan staminanya, tiap jengkal serabut otot Arkan menjerit kesakitan.Namun, di sinilah perubahan besar itu dimulai.Arkan tidak lagi berlatih dengan asal menerjang. Ia menelan bulat-bulat rasa paniknya, belajar menerima rasa sakit bukan sebagai musuh, melainkan sebagai petunjuk. Di bawah bimbingan Guru Jian yang sangat peka, Arkan mulai mengeja kembali dasar-dasar kekuatan fisik murni dari nol."Atur napasmu, Arkan! Jangan biarkan rasa sakit mendikte ritme dadamu!" bentak Guru Jian dari bawah naungan pohon purba, matanya yang tajam mengawasi setiap sendi pergerakan Arkan. "Saat tubuhmu berada di titik terlemah, napas adalah satu-satunya jembatan antara kesadaran dan staminamu!"Arkan memejamkan mata sesaat di tengah ayunan kakinya yang gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam lewat hidung, merasakannya mengalir mengikat paru-parunya yang membakar, l
Dernière mise à jour : 2026-09-07 Read More