Lamunan Davin buyar saat Cantika menggoyangkan pergelangan tangannya. Waktu rasanya cepat sekali berputar bagi Davin. Sudah berbulan-bulan dia berharap terjadi keajaiban hingga Cantika bisa berjalan, sayangnya keajaiban itu tidak kunjung datang.“Sayang, kamu sedang memikirkan apa?” tanya Cantika lembut.“Aku—”Davin sedikit linglung. Hingga dia tak bisa menjawab pertanyaan Cantika. “Undangan yang bagaimana yang kamu suka. Sayang? Atau tidak ada yang kamu suka di antara undangan yang ada di atas meja?” tanya Cantika menatap penuh puja pada Davin. “Kamu saja yang pilih, Ca. Aku bingung dan aku tidak yakin seleraku bagus,” jawab Davin pasrah dan memilih menjatuhkan dirinya ke atas sofa. “Aku inginnya kita memilih berdua ya,” rengek Cantika mendorong kursi rodanya mendekati Davin.“Memang waktunya udah dekat ya?” tanya Davin hampir tak percaya.“Iya, hanya dua bulan lagi Sayang. Aku juga sudah memilih beberapa gedung. Nanti kita lihat ke sana!” “Kamu atur sendiri aja, Ca! Aku ada rap
Last Updated : 2026-09-06 Read more