Setelah selesai memeriksa Marni, pandangan Mbok dukun kembali menghadap Kanjeng Ibu. "Bagaiamana, Mbok? Benar, bocah ini hamil?" tuntut Kanjeng tidak sabar. "Nuwun sewu, Ndoro besar. Belum terlihat jelas, mungkin karena baru sepuluh hari. Bisa menunggu satu bulan lagi untuk memastikan. Tapi, dari wajah pucatnya sepertinya iya." Suasana mendadak hening. Wajah Marni semakin pucat, tangannya berkeringat dingin. Debaran jantungnya, tidak usah ditanyakan lagi. Rasanya seperti ada genderang perang sedang ditabuh di dalam dada Marni. Namun, ada secuil rasa lega di hatinya setelah mendengar jawaban dari paraji yang memeriksanya. Namun, dari pengamatan Wening, tatapan Mbok dukun terlihat aneh. Matanya menyimpan keraguan, namun sepertinya terlalu takut untuk diungkapkan. Sedangkan Marni hanya tersenyum canggung sembari mengangguk. "Rum, ambilkan upah buat Mbok dukun!" titah Kanjeng Ibu pada pelayan kepercayaannya. Rum membawa satu ekor ayam jago, beras satu karung goni, masih ditamb
Última actualización : 2026-09-19 Leer más