Daman menurunkan moncong pistolnya dua senti, menatap pintu kayu dengan urat leher menegang keras. "Mundur ke belakang saya, Arini," bisik Daman pelan, memasang tubuh tegapnya sebagai tameng hidup. Arini berdiri dari tepi kasur, memegangi pinggang Daman seraya menatap pintu dengan rasa cemburu yang mendadak membakar dadanya. Daman membuka kait kunci pintu menggunakan tangan kiri, membiarkan daun pintu terbuka pelan. Sandra berdiri di ambang pintu dengan balutan gaun merah ketat, tersenyum sinis sambil mengayunkan sebuah flashdisk hitam di jemari lentiknya. "Lama tidak berjumpa, Daman... Kamu makin kelihatan gagah, ya," sapa Sandra melangkah masuk tanpa diundang. Aroma parfum sintetis tajam milik Sandra langsung memenuhi ruangan, berbenturan keras dengan wangi mawar alami Arini. "Jangan melangkah lebih jauh, Sandra... Sebutkan tujuanmu ata
Last Updated : 2026-09-04 Read more