Pintu kaca galeri bergetar pelan saat Sandra melangkah mendekat, moncong pistol berperedam suaranya tidak bergeming sedikit pun dari dada tegap Daman. "Lepaskan wanita itu sekarang, Daman... Kamu sudah melangkah terlalu jauh dari batas profesionalitasmu," ancam Sandra berartikulasi dingin. Daman tidak menggeser posisi berdiri sedikit pun, justru merapatkan tubuh molek Arini ke balik punggung lebarnya. "Aa... anu, Daman... Wanita lampir ini mau menembak kita?!" cicit Arini membelalak ketakutan, meremas kemeja Daman kencang. "Tetap di belakang saya, Arini... Jangan lepas genggaman tangan Anda," pangkas Daman bersuara datar dan tenang. Sandra tertawa sinis, menatap Arini dengan kilatan mata penuh kecemburuan yang membakar dada. "Kamu cuma Pajangan Berwarna milik Hardian, Nyonya Muda... Kenapa kamu membiarkan Daman membahayakan nyawanya cuma buat main-main dengan
Last Updated : 2026-09-07 Read more