“Relax, Sien…. Kamu terlalu sensitif,” bisiknya rendah.Tangan besarnya perlahan menurunkan celana dalamku melewati lutut, sebelum akhirnya melemparkannya begitu saja ke lantai. Saat udara dingin kamar berhembus menerpa kulit polosku yang kini tanpa sehelai benang pun, tubuhku rasanya lumpuh. Aku benar-benar lemas dan pasrah di bawah kendalinya.Usapan jemarinya di paha bagian dalamku merambat makin naik, menelusuri lipatan sensitif yang membuat seluruh syarafku menegang.“Ah…. Boss……” desahku dengan suara serak menahan napas saat jemarinya tak sengaja menyentuh inti tubuhku.Aku memejamkan mata, berusaha menikmati setiap sentuhan yang diberikan Pak Jeremy—walau jujur saja, rasa gugup dan takut masih mendominasi dibanding nikmat itu sendiri.“Kamu sudah siap menerimaku, Sien?” bisik Pak Jeremy. “Kamu sudah basah” Jemarinya bergerak begitu lihai di area intimku, menyentuh titik-titik sensitif yang melumpuhkan seluruh persendianku. Ada dorongan kuat dari dalam sana, sebuah sensasi hang
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-05 Mehr lesen