“Pak, ada orang!” seruku panik.Aku refleks mendorong dada Pak Jeremy semampuku. Dengan tangan gemetar, aku buru-buru membenahi kemeja dan merapikan rok. Rasanya jantungku mau copot saat itu juga.Sebaliknya, Pak Jeremy santai banget. Pria itu cuma tersenyum tipis, lalu membenahi dasinya seolah tidak terjadi apa-apa.“Masuk!” serunya tenang.Pintu kaca terbuka. Yudha melangkah masuk membawa segepok berkas tebal. “Pak, ini berkas-berkas yang akan saya handover ke Siena,” ucapnya.Pak Jeremy mengangguk sekilas. “Okay. Bantu saya jelaskan pekerjaan dia apa saja.”Yudha langsung menoleh padaku. “Meja kamu ada tepat di depan ruangan ini, Siena. Tugas utama kamu handle jadwal Pak Jeremy, filter tamu yang mau ketemu beliau, sama urus dokumen masuk dari divisi lain. Detailnya ada di berkas ini.”“Mengerti, Pak Yudha,” jawabku cepat.“Okay. Yudha, kamu bisa kembali. Dan kamu Siena, di sini dulu.”Aku yang semula sudah siap meraup kertas-kertas itu ke pelukanku langsung urung dan berhenti di te
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-07 Mehr lesen