“Jangan membuatku kehilangan kontrol dan kesabaran,” ucap Pak Jeremy, menyapu sisa benang saliva di sudut bibirku dengan ibu jarinya. Matanya menggelap, napasnya memburu.Tak berhenti di situ, Ia menekan tubuhku lebih erat ke dinding keramik yang dingin. Satu kakinya menyisip di antara kedua pahaku, mengunci posisiku agar tak bisa bergeser sedikit pun.“Pa-Pak… lepas… Chloe menunggu,” cicitku pelan, berusaha menyadarkannya agar mau berhenti.“Biarkan dia menunggu…,” bisik Pak Jeremy tepat di telingaku. Bibirnya sempat menyenggol daun telingaku, memicu sengatan hebat yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Aku menutup mataku rapat-rapat, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Pak Jeremy setelah ini.Di atas wastafel, air keran mengalir pelan—seolah berusaha menyamarkan suara desahan basah yang semakin membuat atmosfer di antara kami terasa penuh ketegangan dan intens. Aku merasa, di dalam bilik sempit ini, dunia seolah menyusut hingga hanya menyisakan deru napas kami yang saling ber
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-12 Mehr lesen