Pagi itu Nismara bangun lebih dulu.Satria masih tertidur di sampingnya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya seolah bahkan dalam tidurpun pria itu takut melepaskan. Nismara menatap wajah itu dalam diam. Garis rahangnya yang tegas terlihat lebih lembut saat tertidur. Bibirnya yang biasanya selalu menyimpan perintah, kini terkatup tenang.Nismara mengulurkan jari, hampir menyentuh pipi Satria, tapi akhirnya menarik tangan itu kembali.Ia tidak boleh memiliki perasaan ini. Perasaan terbiasa dan dalam jika tidak ingin terluka.Pelan-pelan ia keluar dari dekapan, memakai gaun tidur tipis, lalu keluar menuju dapur belakang untuk menyiapkan air hangat. Di koridor, ia bertemu Sastro yang sedang membawa beberapa berkas.“Nismara,” panggil Sastro pelan. “Ndoro Den minta kamu tetap di area rumah utama hari ini. Jangan ke paviliun barat.”Nismara mengangguk. ‘Baik.’ ucapnya tapi tidak keluar dari bibirnya, hanya anggukan.Sastro menatapnya sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ak
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-14 อ่านเพิ่มเติม