LOGINPrameswari berdiri kaku. Kalimat Bramantya yang membandingkannya dengan Nismara membuat dadanya sesak oleh amarah. Jemarinya meremas mantel tipis yang ia kenakan hingga kusut, namun sebelum ia sempat membalas, pintu depan rumah berarsitektur Indische itu didorong terbuka kasar dari luar.Langkah sepatu kulit menapak berat di atas lantai ubin. Prameswari menoleh cepat dengan jantung berdebar.Seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan setelan beskap karesidenan melangkah masuk. Tongkat kayu berukir di tangan kanannya menghentak ubin dengan bunyi nyaring. Pria itu adalah Raden Arya Pradipta. Wajahnya yang biasa tenang kini memerah kaku oleh kemurkaan."Prameswari!" bentak Raden Arya, suaranya yang berat memenuhi ruang tamu yang sepi. "Apa yang kamu lakukan di sini?"Prameswari tersentak, mundur satu langkah. "Bapak...""Kamu berlari ke kota sendirian tanpa memberitahuku?" Raden Arya melangkah mendekat, mengabaikan Bramantya yang berdiri di dekat meja jengki. "Kamu pikir tindakan ter
"Cepat sedikit, Pak!" bentak Prameswari pada pengemudi di depannya, padahal dia sendiri tidak tahu apakah langkah yang diambilnya sudah benar tapi dia takut kehilangan senjatanya untuk menahan Satria.Satu jam kemudian, mobil sedan itu berhenti di depan pelataran rumah beratap sirap dengan pagar kayu jati yang tinggi di sudut kota karesidenan. Bangunannya berarsitektur Indische* bergaya lama, terasing dari pemukiman warga, dan tampak sepi di bawah naungan pohon trembesi.Prameswari mendorong pintu sedan bahkan sebelum roda mobil benar-benar berhenti. Langkah sepatu bertumit tingginya beradu keras dengan ubin semen teras saat ia menerobos pintu depan tanpa mengetuk.Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah ke pintu rumah itu, dia berharap Bramantya bisa diajak kerja sama."Bram!" panggil Prameswari setengah berteriak.Dari balik pintu ruang tengah, seorang pria berpenampilan rapi dengan setelan jas dril putih khas priyayi kolonial melangkah keluar seraya memegang cangkir ku
"Kamu nggak bisa memutuskan ini sendiri, Nismara," pangkas Satria kaku, napas hangatnya menyapu pelipis Nismara saat pelukannya di pinggang wanita itu makin mengencang.“Kamu tahu, apapun yang kamu mau aku akan berikan tapi jangan pernah bermimpi untuk pergi dariku!” imbuhnya penuh penekanan.Nismara merasakan hangatnya dekapan Satria di punggung dan pinggangnya. Aroma khas minyak kayu cendana bercampur debu perkebunan dari tubuh pria itu tercium jelas, tapi Nismara tidak tinggal diam. Kedua tangannya tertahan di dada kemeja Satria, memberi jarak tipis di antara mereka. "Aku nggak memutuskannya sendiri, Mas Satria," sahut Nismara pelan, matanya menatap kancing kemeja pria itu sebelum perlahan mendongak. "Mas Satria yang memulainya sejak membiarkan surat itu tersembunyi. Mas Satria ingin memegang kendali atas hidupku, atas tempat tinggalku, bahkan atas alasanku untuk bertahan di Tirtawening."Satria mengetatkan rahangnya menahan amarah. "Aku melakukan itu untuk melindungimu dari Rade
"Nismara, kamu berhutang penjelasan padaku!" desak Satria begitu Prameswari dan Mbok Na melangkah pergi meninggalkan kaputren.Nismara mengangguk pelan. "Iya, seperti Mas Satria juga berhutang penjelasan padaku."Satria menatap Nismara dengan tatapan penuh tanda tanya. Sepasang alis tebalnya bertaut kaku di atas matanya."Sebelum Mas Satria meminta penjelasanku, apa Mas Satria bisa jelaskan kenapa Mas Satria sembunyikan semua hal ini dariku?" lanjut Nismara lurus.Satria diam. Tatapan mata elangnya yang biasa tajam dan mengintimidasi itu tiba-tiba saja meredup. Ia tidak langsung menjawab, membiarkan keheningan tegang mengendap di antara mereka di koridor kayu yang sepi."Tidak bisa menjelaskan?" desis Nismara pelan namun tegas. "Aku menunggu Mas Satria menjelaskannya sendiri, tapi sampai detik ini aku tidak mendapatkannya. Kebetulan kehadiran Ndoro Ayu memaksaku melakukannya."Satria menghembuskan napas berat. Pria tegap itu melangkah satu tapak maju, mencoba meraih jemari Nismara, na
Nismara tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Satria yang berdiri mematung di ambang pintu. Raut tegap pria itu tak mampu menyembunyikan nada terkejut yang dalam. Sepasang mata elang Satria menatap lembaran kertas segel tua di jemari Nismara dengan kening berkerut—sebab setahunya, dokumen tua milik almarhum Haryo itu tersimpan rapat di dalam kotak besi terkunci di ruang kerjanya.Kapan Nismara mengambilnya?"Nismara..." panggil Satria rendah, suara baritonnya mengudara kaku menahan berbagai tanya."Maafkan saya sudah lancang, Mas Satria," tutur Nismara lembut namun penuh penekanan jernih. Pandangannya beradu lurus dengan mata Satria. "Tapi saya harus melakukan ini untuk melindungi diri."Prameswari yang tadinya terisak mendadak berdiri kaku. Isak tangis buatan yang membasahi pipinya seolah mengering seketika, tergantikan oleh keraguan liar yang memenuhi dadanya."Nis-Nismara... aku tidak tahu apa maksudmu!" ceplos Prameswari gagap, jemarinya meremas kain jaritnya sendiri.Nismara meny
Satria mendekati Prameswari, menyambar lengannya kemudian setelah itu menyeretnya keluar.“Apalagi yang kamu rencanakan, hm? Surat pemeriksaan apa? Status? Sebelum pemerintah itu ada tradisi ini sudah ada. Jadi, tidak ada yang bisa mempertanyakan status Nismara lagi di sini!” gertak Satria.Prameswari menatap Satria dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.“Mas-Mas Satria…lepaskan dulu! Ini Sakit. Aku hanya menyampaikan surat ini…Pangarsa sesepuh setuju kalau keberadaan Nismara sudah tidak berguna di sini, karena….”“Karena apa?” potong Satria.“Karena tradisi itu hanya berlaku jika istri sah sedang hamil! Mas Satria sendiri yang membuat kami melaporkan ini karena Mas Satria tidak bisa diajak kerjasama” jelas Prameswari.“Ini usaha terakhirmu, Prameswari! Surat ini tidak berlaku disini karena tradisi di sini lebih kuat dari surat-surat itu. Mungkin Kanjeng Eyang sudah terlalu tua dan pikun.” sindir Satria.Prameswari langsung diam.Nismara hanya melihat dari kejauhan, Prameswari masih b







