แชร์

BAB : 2

ผู้เขียน: Soffia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-09 17:13:01

Rinda dan Jeje kini tengah berjalan di salah satu lorong kampus, hendak lanjut menuju parkiran. Tapi di saat yang bersamaan langkah Rinda terhenti ketika suara gemuruh mulai bersahutan. Langit juga terlihat gelap.

“Wah, mau hujan lebat kayaknya ini,” ujar Jeje.

Rinda langsung tersentak. “Cari Kak Arka,” ujarnya pada Jeje dan gegas berlalu dari sana.

“Mau ngapain?” tanya Jeje malah bingung dengan reaksi khawatir Rinda.

“Headseat nya ada di gue, tadi pagi ketinggalan di meja makan,” ujar Rinda.

Mendengar hal itu, barulah Jeje paham kenapa Rinda sekhawatir itu. Keduanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Karena nggak tahu posisi Arka saat ini.

“Coba telepon, Rin,” usul Jeje.

Rinda segera melakukan hal itu, tapi sayangnya nomer ponsel laki-laki itu dalam keadaan tak aktif. Sementara nomer yang satu, juga tak direspon. Sepertinya mode silent, karena dia dalam situasi mengajar.

“Lo lihat Pak Arka nggak?” tanya Jeje pada seorang mahasiswi yang berpapasan.

“Pak Arka baru aja keluar dari kelas gue.”

“Trus beliau kemana?”

“Nggak tahu. Mungkin ke ruangannya,” jawab mahasiswi itu menerka-nerka. Karena biasanya para dosen setelah habis kelas, akan kembali ke ruangan masing-masing kan.

“Ok, thank’s,” ucap Jeje.

Jadilah, Jeje dan Rinda gegas berlari menuju ruangan Arka berada.

“Kak Rinda, mau kemana?”

Livia yang berpapasan terabaikan begitu saja, saat pemikiran Rinda hanya terfokus pada kondisi Arka. Jangan sampai hujan turun lebih dulu, sebelum keduanya sampai dihadapan kakaknya itu.

Benar saja, saat keduanya sampai di salah satu lorong, terlihat Arka dari kejauhan. Langkah dia tampak terhenti, saat tetesan air hujan itu mulai turun satu persatu membasahi bumi, pun dengan gemuruh yang bersahut-sahutan.

Pandangan mata Arka mulai mengarah pada situasi itu. Tangannya berpegangan pada kursi yang ada di sana. Sedangkan satu tangan memegangi dadanya yang mulai terasa sesak dengan keringat mulai membasahi wajah.

Arka agak tersentak ketika sentuhan itu terasa di kedua telinganya dan dihadapkan langsung pada Rinda.

Jeje mengambil headseat yang ada di dalam tas Rinda, kemudian memberikan benda itu pada dan memasang di kedua telinga Arka.

“Baik-baik saja kan, Kak? Ada yang sakit? Atau kita ke rumah sakit aja.”

Seketika suara gemuruh dan deru hujan yang jatuh menghempas bumi menghilang dari pendengarannya. Hening. Sunyi. Yang terdengar benar-benar hanya suara Rinda dan Jeje.

Arka hanya mengangguk seolah mengatakan kalau kondisinya baik-baik saja.

“Lain kali jangan sampai lupa lagi. Sudah yang kesekian kalinya kamu begini, Kak. Kalau perlu, kamu stok banyak-banyak headseat di dalam tas mu. Aku takut kalau kamu kambuh lagi. Bikin aku panik tahu nggak,” omel Rinda pada kakaknya itu.

“Maaf ...”

Jeje malah tertawa.

“Kenapa kamu?” tanya Arka pada respon yang Jeje berikan.

“Paling suka kalau Kak Arka minta maaf. Kesannya tuh kayak kalah telak gitu loh.”

Sebuah sentilan menerpa kening Jeje hingga tawanya berakhir tragis.

“Lain kali kalau mau nyentil kasih aba-aba dulu gitu loh, Kak. Sakit tau,” gerutu Jeje saat jidatnya terasa panas, bekas setilan yang ia terima dari Arka.

Ketiganya kini berada di ruangan Arka. Menunggu sejenak hujan agar reda. Laki-laki itu menyenderkan kepalanya di meja, dengan lengan sebagai bantalan.

Jeje menyikut lengan Rinda dan berbisik... “Kasih waktu sebentar buat Kak Arka tenang dan istirahat.”

Rinda menyetujui perkataan Jeje, hingga keduanya memilih untuk menunggu hujan agak reda.

“Jadi main ke rumah?” tanya Rinda pada Jeje.

“Nggak deh, Rin. Mau bobok siang. Tapi nanti malam jadi, ya?”

Narinda mengarahkan pandangannya pada Arka. Terlihat, dia mulai melepaskan headset yang masih menutupi indera pendengarannya. Tapi kembali ditahan oleh Rinda.

“Udah nggak apa-apa,” ujar Arka lanjut melepaskan benda itu dan menyimpan ke dalam tas nya.

“Kak, nanti malam aku boleh pergi sama Jeje nggak?”

“Kemana?”

“Cuman nongkrong di cafe,” jawab Jeje.

“Yaudah, nongkrong di rumah aja.”

“Kak ...”

“Tanya sama mama atau papa, ya.”

“Tetap saja aku juga disuruh tanya sama kamu. Makanya sekarang langsung ku tanya,” balas Rinda lagi dengan nada cemberut.

Arka mengangguk. “Tapi pulangnya jangan larut. Lihat, kan. Barusan hujan. Bisa saja nanti malam juga.”

“Kak Arka mau ikut sama kita nggak? Lumayan kan, kita berdua ditemani sama cogan,” ujar Jeje.

“Nggak,” tolaknya langsung.

“Langsung enggak. Sesekali gitu loh, Kak bilang iya. Ah, pelit sekali,” gerutu Jeje.

“Kalau aku yang temani, terlalu mencolok sekali status jomblo kalian. Masa nongkrong ditemani sama kakaknya.”

“Wah, Kak Arka parah nih. Aku merasa tersindir secara langsung nembus ke hati loh ini.”

Narinda malah ngakak. Ya gimana nggak nyindir Jeje, karena sobatnya memang mode jomblo. Sedangkan dirinya punya kekasih.

“Mau ikut aku makan siang?”

Rinda dan Jeje saling lempar pandang.

“Yaudah kalau nggak mau,” lanjut Arka berlalu pergi begitu saja.

“Mau dong, Kak!!”

Keduanya langsung gegas menyusul langkah Arka yang sudah berlalu lebih dulu. Lumayan kalau makan sama Arka, ngajakinnya nggak main-main. Pasti selalu ke restoran mewah dengan makanan-makanan yang super wah.

Sampai di area parkiran, keduanya berpisah. Arka dengan mobilnya, sedangkan Rinda ikut mobil Jeje. Setelah memberikan alamat restoran, Rinda—Jeje tancap gas lebih dulu dan ketemuan di sana nantinya.

Bersiap untuk melajukan kendaraannya, tapi kembali urung karena ponselnya berdering. Terlihat nama Sagara, sahabatnya.

“Ya?”

“Udah balik dari kampus? Makan di luar yok. Sendirian ini.”

“Ini mau makan siang, tapi Jeje sama Rinda ngikut.”

“Shareloc. Aku ikut.”

Percakapan terputus. Arka mengirimkan alamat restoran yang akan ia tuju pada Sagara—sahabatnya. Hendak melajukan kendaraannya, tapi pandangan matanya malah mengarah pada beberapa mahasisiwi yang tampak sedang cek-cok.

Mencoba untuk mengabaikan, tapi kembali berpikir dan memilih untuk turun dari mobil. Sepertinya ini masih permasalahan mereka tadi pagi. Bisa ditebak kan siapa? Yap, Livia dan Melisa. Seperti tak ada capeknya, dua kubu itu seolah jadi musuh bebuyutan dari awal masuk.

Berjalan menghampiri, baru juga mendekat tapi langsung tersentak saat Livia didorong dengan kuat oleh Melisa. Hendak menahan agar dia tak jatuh, tapi justru salah posisi hingga rasa nyeri itu langsung menerpa dadanya.

Arka langsung roboh karena tak bisa menahan dorongan itu, bersamaan dengan Livia yang posisi dia juga jatuh menimpanya.

Livia langsung beranjak dari posisinya saat mendengar suara ringisan itu. Tapi makin kaget saat mendapati justru Arka tengah kesakitan, memegangi dadanya.

“Bapak baik-baik saja, kan?” Livia langsung cemas.

Arka masih berada di posisi dia, meringis menahan sakit dengan tangannya yang masih memegangi dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, hingga rasa sesak dan sakit itu datang secara bersamaan seakan sedang memaksanya untuk berhenti bernapas.

Livia makin khawatir. Kemudian mengarah pada Melisa dan teman-temannya.

“Cepetan bantuin!”

Melisa dkk malah tampak begitu takut. Karena kejadian ini mereka yang lakukan. Livia jatuh menimpa Arka juga karena kelakuannya dan teman-temannya.

Di saat yang bersamaan Hagia datang dengan langkah cepat. Mendapati kondisi Arka yang tak baik-baik saja seperti itu, jelas ia takut dan kaget.

“Ini Pak Arka kenapa, Vi?”

Tak menjawab pertanyaan yang Gia berikan, Livia mengambil kunci mobil milik Arka yang tergeletak di jalanan. Kemudian memberikan pada Gia.

“Buka pintu mobil. Kita ke rumah sakit,” ujarnya pada Gia yang langsung dilakukan oleh sobatnya itu.

Livia beranjak dari posisi duduknya, kemudian membantu Arka untuk bangun. Ia tak tahu kenapa dan apa yang Arka rasakan, tapi melihat raut wajah pucat dan ringisan itu membuatnya yakin jika rasa sakit yang Arka derita bukanlah biasa.

“Kalau terjadi hal yang buruk sama Pak Arka, awas lo!” ancam Livia sebelum meninggalkan lokasi itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 18

    Rinda langsung bergeser, merengkuh Livia dari sisi lain hingga gadis itu kini terkunci di antara dua pelukan yang hangat.“Dengar ya, Livi. Kamu nggak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari siapa pun,” bisik Rinda, suaranya bergetar menahan geram sekaligus pedih. “Kamu berhak merasa aman. Kamu berhak dilindungi di dalam rumahmu sendiri.”“Tapi... beliau Mamaku, Kak,” cicit Livia di sela tangisnya yang mulai membasahi kaus Hagia. Kalimat itu terdengar seperti sebuah pembelaan putus asa, cara Livia menghibur dirinya sendiri agar tidak membenci darah dagingnya sendiri.“Dan kamu anaknya, Vi,” sahut Rinda tegas, menangkup kedua pipi Livia yang basah agar gadis itu menatapnya. “Hubungan darah itu seharusnya membuat kamu disayangi dan didekap, bukan dijadikan samsat pelampiasan amarah.”Tangis Livia pecah semakin hebat. Pertahanan egonya lebur total. Jeje, yang biasanya memegang rekor paling cerewet, kini hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Tangannya bergerak ritmis, m

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 17

    “Pak Arka kenapa?”Pertanyaan Livia seketika memotong sisa tawa di udara. Rinda mengembuskan napas panjang, bahunya merosot seolah beban berat baru saja diletakkan di sana. Di sebelahnya, Jeje memilih bungkam, memberikan ruang penuh bagi Rinda untuk mengambil alih kendali pembicaraan.Hagia pun ikut terdiam di sudut tempat tidur. Gadis itu awalnya hanya berniat mampir untuk memastikan keadaan sahabatnya pasca-insiden, tetapi atmosfer ruangan yang mendadak berubah pekat membuatnya terseret ke dalam pusaran obrolan yang jauh lebih serius.“Vi, aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu,” ujar Rinda, memajukan tubuhnya dengan tatapan mengunci manik mata Livia.“Apa, Kak?” Livia berkedip polos.“Kamu benar-benar suka sama Kak Arka?”Livia sempat kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Pertanyaan macam apa ini? pikirnya. Bukankah selama ini dia sudah sekampung memperlihatkan ketertarikannya pada dosen super-menyebalkan itu? Bahkan Rinda sendiri yang paling sering menjadikannya bahan ledekan.

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 16

    Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 15

    Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 14

    Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 13

    Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status