INICIAR SESIÓNRinda dan Jeje kini tengah berjalan di salah satu lorong kampus, hendak lanjut menuju parkiran. Tapi di saat yang bersamaan langkah Rinda terhenti ketika suara gemuruh mulai bersahutan. Langit juga terlihat gelap.
“Wah, mau hujan lebat kayaknya ini,” ujar Jeje.
Rinda langsung tersentak. “Cari Kak Arka,” ujarnya pada Jeje dan gegas berlalu dari sana.
“Mau ngapain?” tanya Jeje malah bingung dengan reaksi khawatir Rinda.
“Headseat nya ada di gue, tadi pagi ketinggalan di meja makan,” ujar Rinda.
Mendengar hal itu, barulah Jeje paham kenapa Rinda sekhawatir itu. Keduanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Karena nggak tahu posisi Arka saat ini.
“Coba telepon, Rin,” usul Jeje.
Rinda segera melakukan hal itu, tapi sayangnya nomer ponsel laki-laki itu dalam keadaan tak aktif. Sementara nomer yang satu, juga tak direspon. Sepertinya mode silent, karena dia dalam situasi mengajar.
“Lo lihat Pak Arka nggak?” tanya Jeje pada seorang mahasiswi yang berpapasan.
“Pak Arka baru aja keluar dari kelas gue.”
“Trus beliau kemana?”
“Nggak tahu. Mungkin ke ruangannya,” jawab mahasiswi itu menerka-nerka. Karena biasanya para dosen setelah habis kelas, akan kembali ke ruangan masing-masing kan.
“Ok, thank’s,” ucap Jeje.
Jadilah, Jeje dan Rinda gegas berlari menuju ruangan Arka berada.
“Kak Rinda, mau kemana?”
Livia yang berpapasan terabaikan begitu saja, saat pemikiran Rinda hanya terfokus pada kondisi Arka. Jangan sampai hujan turun lebih dulu, sebelum keduanya sampai dihadapan kakaknya itu.
Benar saja, saat keduanya sampai di salah satu lorong, terlihat Arka dari kejauhan. Langkah dia tampak terhenti, saat tetesan air hujan itu mulai turun satu persatu membasahi bumi, pun dengan gemuruh yang bersahut-sahutan.
Pandangan mata Arka mulai mengarah pada situasi itu. Tangannya berpegangan pada kursi yang ada di sana. Sedangkan satu tangan memegangi dadanya yang mulai terasa sesak dengan keringat mulai membasahi wajah.
Arka agak tersentak ketika sentuhan itu terasa di kedua telinganya dan dihadapkan langsung pada Rinda.
Jeje mengambil headseat yang ada di dalam tas Rinda, kemudian memberikan benda itu pada dan memasang di kedua telinga Arka.
“Baik-baik saja kan, Kak? Ada yang sakit? Atau kita ke rumah sakit aja.”
Seketika suara gemuruh dan deru hujan yang jatuh menghempas bumi menghilang dari pendengarannya. Hening. Sunyi. Yang terdengar benar-benar hanya suara Rinda dan Jeje.
Arka hanya mengangguk seolah mengatakan kalau kondisinya baik-baik saja.
“Lain kali jangan sampai lupa lagi. Sudah yang kesekian kalinya kamu begini, Kak. Kalau perlu, kamu stok banyak-banyak headseat di dalam tas mu. Aku takut kalau kamu kambuh lagi. Bikin aku panik tahu nggak,” omel Rinda pada kakaknya itu.
“Maaf ...”
Jeje malah tertawa.
“Kenapa kamu?” tanya Arka pada respon yang Jeje berikan.
“Paling suka kalau Kak Arka minta maaf. Kesannya tuh kayak kalah telak gitu loh.”
Sebuah sentilan menerpa kening Jeje hingga tawanya berakhir tragis.
“Lain kali kalau mau nyentil kasih aba-aba dulu gitu loh, Kak. Sakit tau,” gerutu Jeje saat jidatnya terasa panas, bekas setilan yang ia terima dari Arka.
Ketiganya kini berada di ruangan Arka. Menunggu sejenak hujan agar reda. Laki-laki itu menyenderkan kepalanya di meja, dengan lengan sebagai bantalan.
Jeje menyikut lengan Rinda dan berbisik... “Kasih waktu sebentar buat Kak Arka tenang dan istirahat.”
Rinda menyetujui perkataan Jeje, hingga keduanya memilih untuk menunggu hujan agak reda.
“Jadi main ke rumah?” tanya Rinda pada Jeje.
“Nggak deh, Rin. Mau bobok siang. Tapi nanti malam jadi, ya?”
Narinda mengarahkan pandangannya pada Arka. Terlihat, dia mulai melepaskan headset yang masih menutupi indera pendengarannya. Tapi kembali ditahan oleh Rinda.
“Udah nggak apa-apa,” ujar Arka lanjut melepaskan benda itu dan menyimpan ke dalam tas nya.
“Kak, nanti malam aku boleh pergi sama Jeje nggak?”
“Kemana?”
“Cuman nongkrong di cafe,” jawab Jeje.
“Yaudah, nongkrong di rumah aja.”
“Kak ...”
“Tanya sama mama atau papa, ya.”
“Tetap saja aku juga disuruh tanya sama kamu. Makanya sekarang langsung ku tanya,” balas Rinda lagi dengan nada cemberut.
Arka mengangguk. “Tapi pulangnya jangan larut. Lihat, kan. Barusan hujan. Bisa saja nanti malam juga.”
“Kak Arka mau ikut sama kita nggak? Lumayan kan, kita berdua ditemani sama cogan,” ujar Jeje.
“Nggak,” tolaknya langsung.
“Langsung enggak. Sesekali gitu loh, Kak bilang iya. Ah, pelit sekali,” gerutu Jeje.
“Kalau aku yang temani, terlalu mencolok sekali status jomblo kalian. Masa nongkrong ditemani sama kakaknya.”
“Wah, Kak Arka parah nih. Aku merasa tersindir secara langsung nembus ke hati loh ini.”
Narinda malah ngakak. Ya gimana nggak nyindir Jeje, karena sobatnya memang mode jomblo. Sedangkan dirinya punya kekasih.
“Mau ikut aku makan siang?”
Rinda dan Jeje saling lempar pandang.
“Yaudah kalau nggak mau,” lanjut Arka berlalu pergi begitu saja.
“Mau dong, Kak!!”
Keduanya langsung gegas menyusul langkah Arka yang sudah berlalu lebih dulu. Lumayan kalau makan sama Arka, ngajakinnya nggak main-main. Pasti selalu ke restoran mewah dengan makanan-makanan yang super wah.
Sampai di area parkiran, keduanya berpisah. Arka dengan mobilnya, sedangkan Rinda ikut mobil Jeje. Setelah memberikan alamat restoran, Rinda—Jeje tancap gas lebih dulu dan ketemuan di sana nantinya.
Bersiap untuk melajukan kendaraannya, tapi kembali urung karena ponselnya berdering. Terlihat nama Sagara, sahabatnya.
“Ya?”
“Udah balik dari kampus? Makan di luar yok. Sendirian ini.”
“Ini mau makan siang, tapi Jeje sama Rinda ngikut.”
“Shareloc. Aku ikut.”
Percakapan terputus. Arka mengirimkan alamat restoran yang akan ia tuju pada Sagara—sahabatnya. Hendak melajukan kendaraannya, tapi pandangan matanya malah mengarah pada beberapa mahasisiwi yang tampak sedang cek-cok.
Mencoba untuk mengabaikan, tapi kembali berpikir dan memilih untuk turun dari mobil. Sepertinya ini masih permasalahan mereka tadi pagi. Bisa ditebak kan siapa? Yap, Livia dan Melisa. Seperti tak ada capeknya, dua kubu itu seolah jadi musuh bebuyutan dari awal masuk.
Berjalan menghampiri, baru juga mendekat tapi langsung tersentak saat Livia didorong dengan kuat oleh Melisa. Hendak menahan agar dia tak jatuh, tapi justru salah posisi hingga rasa nyeri itu langsung menerpa dadanya.
Arka langsung roboh karena tak bisa menahan dorongan itu, bersamaan dengan Livia yang posisi dia juga jatuh menimpanya.
Livia langsung beranjak dari posisinya saat mendengar suara ringisan itu. Tapi makin kaget saat mendapati justru Arka tengah kesakitan, memegangi dadanya.
“Bapak baik-baik saja, kan?” Livia langsung cemas.
Arka masih berada di posisi dia, meringis menahan sakit dengan tangannya yang masih memegangi dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, hingga rasa sesak dan sakit itu datang secara bersamaan seakan sedang memaksanya untuk berhenti bernapas.
Livia makin khawatir. Kemudian mengarah pada Melisa dan teman-temannya.
“Cepetan bantuin!”
Melisa dkk malah tampak begitu takut. Karena kejadian ini mereka yang lakukan. Livia jatuh menimpa Arka juga karena kelakuannya dan teman-temannya.
Di saat yang bersamaan Hagia datang dengan langkah cepat. Mendapati kondisi Arka yang tak baik-baik saja seperti itu, jelas ia takut dan kaget.
“Ini Pak Arka kenapa, Vi?”
Tak menjawab pertanyaan yang Gia berikan, Livia mengambil kunci mobil milik Arka yang tergeletak di jalanan. Kemudian memberikan pada Gia.
“Buka pintu mobil. Kita ke rumah sakit,” ujarnya pada Gia yang langsung dilakukan oleh sobatnya itu.
Livia beranjak dari posisi duduknya, kemudian membantu Arka untuk bangun. Ia tak tahu kenapa dan apa yang Arka rasakan, tapi melihat raut wajah pucat dan ringisan itu membuatnya yakin jika rasa sakit yang Arka derita bukanlah biasa.
“Kalau terjadi hal yang buruk sama Pak Arka, awas lo!” ancam Livia sebelum meninggalkan lokasi itu.
“Heh, ini kalian berdua lagi ngapain, sih?”“Bu, Melisa rusakin HP saya,” ujar Livia pada Clara —dosen di kampus ini. Lebih tepatnya lagi, Clara adalah kakak dari Justin. Jangan salah, karena mereka berdua adalah anak pemilik dari kampus ini.Wanita itu mengarah pada ponsel milik Livia yang kondisinya sudah pecah. Kemudian mengarah pada Melisa.“Kamu kenapa merusak HP milik Livia, Melisa?” tanya Clara pada gadis yang masih terlihat petantang-petenteng itu.“Karena dia nggak mau ngasihin HP nya ke saya, Bu. Saya cuman mau mastiin sesuatu kok di HP nya. Malah pelit banget.”Seperti dihadapkan pada pertengkaran bocah SD. Itulah yang Clara rasakan saat ini.“Dengar ya, Melisa. HP ini milik Livia, kamu nggak boleh seenaknya begitu dengan barang yang bukan milik kamu. Ini sampai rusak begini loh HP dia. Jadi, ini bagaimana urusan selanjutnya?”“Bu Clara, kan saya juga sudah memberikan alasan kenapa HP itu rusak.” Melisa kekeuh dengan sikapnya yang ia anggap sudah benar.Clara sampai menarik
“Gi, sorry ya. Gara-gara gue, lo jadinya ikut-ikutan kena.”“Udah udah, tenang. Perkara seorang Pak Justin doang mah gempil,” respon Hagia.“Pala lo gempil. Setidaknya lo juga harus sadar, nyali sebesar apa yang harus kita pakai kalau menghadapi dosen lagi mode bringas sedang ngamuk,” balas Livia pada respon santai“Makanya, lo berdua kalau nyari perkara sama gue liat-liat sikon deh. Secara tidak langsung Pak Justin itu melindungi gue. Tapi tenang ... hati gue masih terfokus buat Pak Arka kok,” terang Melisa.Hagia berlalu dari sana menyusul Justin yang sudah berlalu pergi, sedangkan Livia tetap berada di posisinya. Mengingat nama Arka, ia mengecek ponselnya. Siapa tahu dosen itu membalas pesan darinya.“Ini punya ataupun enggak nomernya Pak Arka, tetap saja dia nggak bakalan muncul. Minimal update status gitu loh atau pake foto profil gitu. Ini polosan doang. Ck, serius nih udah di jam segini masih offline,” bergumam sendiri memikirkan Arka.Jangankan online, bahkan pesannya dari sem
Kalau bukan memikirkan tugas, sepertinya hari ini ia akan memilih untuk izin tak masuk kuliah. Iya, itu juga rencana. Tapi jika mamanya tak memberikan izin juga nggak akan bisa terjadi.Setelah selesai mandi dan berbenah diri, mengarah pada kedua lengannya yang tampak seperti habis kena amuk. Dan pada nyatanya memang begitu. Bekas sabetan rotan masih terpampang jelas di sana.Pintu kamar diketuk dari arah luar, jangan berpikir jika itu adalah mamanya.“Non!”“Iya, Bik,” sahut Livia berjalan menuju arah pintu dan membukanya. Mendapati Bik Tini yang ada di sana.Wanita paruh baya itu diam, tapi memasang ekpressi sedih saat mengarah pada luka di lengan Livia.“Bik ...”“Hem, maaf Non. Bibik obati lukanya, ya. Biar cepat pulih.”Livia mengangguk, kemudian mengajak Bik Tini masuk ke dalam kamarnya. Keduanya duduk berhadapan.“Non, lain kali kalau butuh bantuan Bibik bilang aja, ya. Jangan kabur-kaburan sendiri begitu. Bibik sedih tahu ngeliat Non begini. Udah jadi anak baik, penurut, tapi
“Berhenti kamu!”Langkah Livia mendadak terhenti saat baru berniat untuk naik anak tangga darurat yang posisinya ada di halaman belakang. Padahal sudah memastikan jika mamanya benar-benar sedang sibuk tadi saat melarikan diri, tapi ternyata hal sial memang tak kenal waktu.Memejamkan mata, berdo’a agar diberikan kesempatan hidup untuk kesekian kalinya setelah berhadapan dengan wanita ini.Berbalik badan, mendapati seorang wanita paruh baya yang kini sedang memberikan tatapan tajam padanya.“Ma ...”“Dari mana kamu?!”“Aku ...”“Sudah mama bilang berkali-kali jangan pernah keluyuran malam! Kamu bisa nggak sesekali mendengarkan apa yang mamamu ini peringatkan?”“Ma, aku nggak keluyuran. Aku cuman mengambil bukuku di rumah teman.”“Jangan banyak alasan!”“Aku beneran.”“Lalu, ngapain kamu sampai kabur dengan cara begini? Pertanda jika apa yang kamu lakukan itu salah besar, Livia!”Livia memilih bungkam, tangannya mengepal seakan semua perasaannya kini harus ia tahan. Karena kalau ia luap
Arka menatap Livia fokus, kemudian bersidekap dada. “Tanganmu kenapa?” Livia memasang ekpressi bingung dengan pertanyaan yang Arka tanyakan, kemudian mengecek tangannya. Malah mendapati luka gores di dekat lengan kirinya. “Oo, mungkin tadi nggak sengaja kegores pagar, Pak.”“Kamu serius manjat tembok?”Livia tertawa. “Iya, Pak. Soalnya saya kabur.”“Gadis nakal.”“Ya kalau minta izin dulu, sudah pasti mama saya nggak bakalan ngasih izin pergi di jam malam. Yaudah saya kabur. Daripada harus menghadapi emosinya Pak Dion besok.”Arka membuka laci nakas yang ada di sampingnya, kemudian mengambil plester di sana. Meraih tangan Livia, kemudian menempel benda itu di luka goresnya.Livia mendadak jadi batu. Nggak expect dapat tindakan seperti ini dari Arka. Udah mode pepet jalur cepat, tetap aja susah banget dapatkan ni cowok. Selalu mengatainya bocah lagi. Tiba-tiba gara-gara luka kecil doang, jadi bisa merasakan sentuhan tangan Arka. Ternyata nggak jauh berbeda dari sikapnya yang dingin, s
Rinda tak bisa berkata apa-apa lagi dan ini bukanlah ocehannya yang pertama. Bahkan sudah sekian kali ia berikan saran, tapi Sean tetap kukuh dengan pendiriannya.“Termasuk Kak Prisha?”“Apa hubungan dengannya?”“Kak Prisha itu mau sama kamu. Dia juga tahu dengan detail seperti apa kondisi kamu, Kak. Serius, kamu nggak mau sama dia?” tanya Rinda memastikan.“Rinda, kamu sudah dewasa kan. Sebuah hubungan akan lebih baik tercipta dengan modal perasaan. Anggap saja Mas Zian yang cinta sama kamu, tapi kamu enggak. Masihkah kamu mau menjalaninya?” tanya Arka balik.“Ya enggak lah, ngapain juga,” balas Rinda cepat.“Nah, itu jawabanku,” balas Arka.“Tapi kayaknya mama sama papa memang sedang mengusahakan hal itu, Kak.”Kening Arka berkerut karena bingung dengak balasan Narinda. “Maksudmu?”“Ya ... sepertinya mama sama papa sedang mengusahakan agar kamu sama Kak Prisha,” jelas Rinda lebih detail.“Aku yang punya perasaan dan aku yang akan menjalaninya. Jadi, nggak akan pernah terjadi sebua







