เข้าสู่ระบบArka menatap Livia fokus, kemudian bersidekap dada. “Tanganmu kenapa?”
Livia memasang ekpressi bingung dengan pertanyaan yang Arka tanyakan, kemudian mengecek tangannya. Malah mendapati luka gores di dekat lengan kirinya. “Oo, mungkin tadi nggak sengaja kegores pagar, Pak.”
“Kamu serius manjat tembok?”
Livia tertawa. “Iya, Pak. Soalnya saya kabur.”
“Gadis nakal.”
“Ya kalau minta izin dulu, sudah pasti mama saya nggak bakalan ngasih izin pergi di jam malam. Yaudah saya kabur. Daripada harus menghadapi emosinya Pak Dion besok.”
Arka membuka laci nakas yang ada di sampingnya, kemudian mengambil plester di sana. Meraih tangan Livia, kemudian menempel benda itu di luka goresnya.
Livia mendadak jadi batu. Nggak expect dapat tindakan seperti ini dari Arka. Udah mode pepet jalur cepat, tetap aja susah banget dapatkan ni cowok. Selalu mengatainya bocah lagi. Tiba-tiba gara-gara luka kecil doang, jadi bisa merasakan sentuhan tangan Arka. Ternyata nggak jauh berbeda dari sikapnya yang dingin, sentuhan dia pun terasa dingin.
“Terimakasih, ya,” ucap Arka.
“Tiba-tiba bilang makasih.” Livia sampai ngelag dikit perkara kata terimakasih yang Arka berikan padanya. Apalagi posisinya masih terpaku gara-gara dia pakein plester di tangannya.
“Karena kamu sudah bawa saya ke rumah sakit lebih awal. Kalau tidak, mungkin next time posisi saya sebagai dosen kamu akan digantikan oleh dosen lain,” jelas Arka.
“Bapak mau resign?” tanya Livia.
“Ya, resign karena nyawa saya nggak tertolong, mungkin,” lanjut Arka.
“Jangan bicara aneh-aneh. Saya belum dapetin Bapak loh. Masa udah mau resign dari dunia saja. Perjuangan saya sia-sia dong jadinya. Minimal harus ngalah gitu loh sama saya,” balas Livia dengan ocehan panjangnya.
Bisaan banget kan gadis ini. Padahal ia serius banget menjelaskan, dia malah terkesan main-main. Harga dirinya sebagai seorang dosen serasa nggak ada harganya dihadapan gadis ini.
“Ngalah apa maksudmu?”
Livia merogoh sakunya, kemudian menyodorkan ponsel miliknya pada Arka. “Boleh minta nomer HP pribadi Bapak, kan?”
“Buat apa?”
“Kan alasannya sudah saya bilang tadi di kampus.”
“Livia, kamu itu mahasiswi saya.”
“Kalau di dalam kelas iya, Pak. Sisanya saya cuman gadis biasa yang bakalan pepetin Bapak terus sampai dapat,” terangnya dengan tampang percaya diri.
“Nggak jelas kamu. Mending belajar yang benar. Ngapain dosen mu kamu pepetin. Nggak akan berhasil.”
“Kalau berhasil gimana, Pak?”
Pertanyaan Livia tak Arka jawab. Ia mengambil ponsel miliknya yang ada di nakas, kemudian mencari list kontak yang tertera. Beberapa saat kemudian ponsel milik Livia berdering, pertanda ada panggilan masuk.
Dahi gadis itu berkerut saat sebuah nomer asing menghubunginya. Kemudian mengarah pada Arka.
“Sudah, kan,” ujar Arka.
Senyuman sembringah langsung menghiasi wajah Livia. “Ini beneran, ya?”
“Yasudah, kalau nggak mau saya blok lagi.”
“Eh ... jangan dong, Pak. Masa baru dapat udah main blok aja.”
“Jangan disebar. Kalau disebar, langsung saya blok ya. Anggap saja bentuk terimakasih saya.”
Livia mengangguk cepat, tapi kemudian senyumannya langsung pudar. Menatap Arka penuh dengan tatapan penasaran. Saking girangnya dapat kontak pribadi Arka, sampai lupa dengan keadaan dosennya ini.
“Bapak sakit apa?”
“Demam,” jawab Arka singkat.
“Bohong banget. Bapak kira aku ini bocah esde yang bisa diakalin,” balas Livia.
“Lalu, menurutmu apa?”
Livia menggeleng cepat. “Nggak mau nebak ah, soalnya tebakan saya agak buruk. Jadi, anggap saja benar kalau bapak demam.”
Ya lagian demam apaan situasinya sudah kayak orang sekarat gitu. Ia sampai takut saat Arka kesakitan dan napas sesak begitu. Sampai masuk ICU lagi, separah itukah demamnya? Sekarang saja bisa ia lihat di ruangan ini beberapa alat bantu pernapasan yang bukan dipergunakan untuk umum. Ruangannya juga terlihat lebih diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit berat. Ini saja selang oksigen masih dia pake loh.
“Sana pulang.”
“Malah diusir,” gerutu Livia.
“Bukan mengusir, tapi karena sudah malam ada baiknya kamu pulang. Bukankah kamu bilang ada tugas juga.”
“Oiya, lupa. Kalau gitu saya balik dulu, Pak.”
Arka menyerahkan kunci mobil miliknya pada Livia. “Nanti kamu berikan saja pada satpam di depan, minta tolong antar ke sini. Daripada kamu bolak balik.”
“Tapi, Pak ...”
“Apalagi?”
“Serius nggak ada orang lain di sini? Takut ...”
“Takut?”
“Pak, kalau ada suster ngesot gimana? Mana lorong yang harus dilewati jauh banget lagi,” jelas Livia membayangkan kalau beneran ketemu sama suster ngesot. Masalahnya ini sudah malam loh.
“Tadi kenapa kamu berani?”
“Sebenarnya takut, tapi maksa berani aja,” balasnya.
“Ya sudah, sekarang lakukan hal yang sama. Atau ... mau saya yang antar?”
“Hah? Eh, nggak usah nggak usah, Pak. Makasih. Biar saya sendiri saja.”
Dengan keberanian sepenuh hati, Livia akhirnya memilih untuk berlalu pergi. Yakali minta anterin Arka, dia saja ngedrop begitu.
“Bye, Pak. Cepat sembuh, ya.”
“Hem ...”
Memasang kembali penutup wajahnya, kemudian keluar dari ruangan itu. Baru juga keluar, suasana dingin nan mencekam langsung menusuk kulitnya. Malah ini make celana pendek lagi.
Seperginya Livia, Arka kembali merebahkan badannya perlahan. Menarik napasnya panjang, kemudian memejamkan matanya. Ya, hanya sekadar memejamkan mata. Bukan berarti benar-benar tidur. Terkadang untuk menghindari sebuah obrolan yang menurutnya malas ia bahas.
Terdengar pintu dibuka dari arah luar. Revan dan Selvi datang. Berbarengan dengan Rinda dan Zian.
“Tidur ternyata,” ujar Selvi saat mendekati Arka, kemudian membenarkan posisi tangan putranya itu.
“Kamu bilang tadi gadis itu ke sini, Rin. Mana?” tanya Selvi. Karena tadi Rinda bilang Livia—gadis yang membawa Arka ke rumah sakit ada di sini.
“Kayaknya udah langsung pulang deh, Ma. Udah malam gini juga, kan. Dia bilangnya tadi juga keluar rumah diam-diam karena kalau izin dulu, takut nggak dikasih izin sama mamanya,” jelas Narinda.
“Sepertinya mama kalau nggak ngasih kamu izin pergi juga gitu, ya. Jadi kabur-kaburan,” balas Selvi.
“Mama kan paham aku kemana. Masalahnya mamanya Livia nggak begitu. Ah, susah dijelaskan. Pokoknya mama dia itu emak-emak yang egois.”
“Jangan menjelekkan seseorang yang kamu nggak kenal. Apalagi seorang ibu. Siapa tahu memang kepribadiannya begitu karena sebab sesuatu,” sahut Zian yang mendengar obrolan Rinda dan Selvi.
“Eh, aku kenal loh Mas sama mamanya. Pernah beberapa kali ketemuan juga. Livia kan suka main bareng aku dan Jeje. Kita suka jalan dan hang-out bareng kok kalau pas kelas sama-sama kosong,” terang Narinda.
“Lah, bisa gitu. Kamu semester 6 dia bukannya masih junior?” tanya Selvi.
“Jadi sebenarnya pertama aku kenal Livia itu pas dia kelas 2 SMA, Ma. Ada lomba sains dulu kalau nggak salah, yang ngadain kampus kita. Dia pesertanya juga. Tiap ada lomba, pasti dia ikut,” jelas Rinda sedikit mengungkap siapa Livia.
“Berarti pinter dong?”
“Lebih pinter daripada aku malah,” tawa Rinda mengakui secara jujur. “Livia itu seru diajak ngobrol. Seru juga diajakin nggak masuk kelas alias bolos. Tipenya tuh ceria, riang dan ...” Menghentikan kata-katanya.
“Dan apa?” tanya Revan penasaran dengan kelanjutan perkataan putrinya.
“Naksir berat sama Kak Arka, Pa,” lanjut Rinda tertawa lagi.
“Jangan menyebar berita yang tidak-tidak,” sahut Arka pada perkataan Rinda.
“Heh, sejak kapan kamu bangun, Kak?”
“Sejak kamu bicara nggak jelas,” jawab Arka.
“Apanya yang nggak jelas. Kan memang benar kalau Livia naksir sama kamu, Kak. Tapi kamu malah ogah-ogahan gitu.”
“Arka sepertinya tipe gadis impiannya itu seperti Prisha yang kalem dan tenang,” respon Selvi. “Begitu kan, Ar?”
Narinda memutar bola matanya jengah dengan balasan mamanya. Seperti biasa, karena memang sudah lama kenal Prisha. Jadinya seolah wanita yang cocok sebagai pasangan Arka hanya Prisha. Padahal Arka saja seolah tak memiliki ketertarikan pada wanita itu.
“Ma, Kak Prisha itu memang cewek kalem, tenang dan dewasa. Tapi kalau menurutku, nggak cocok sama Kak Arka yang bawaannya juga begitu. Laksana es krim ketemu es serut. Jadi makin dingin lah, Mama. Kapan cairnya. Minimal salah satunya harus lebih hangat, biar nggak diam kayak patung,” jelas Rinda panjang lebar.
Tahu kan, debat sama emak-emak kayak gimana. Nggak mau kalah.
“Kamu lihat mama sama papa, kan. Cocok cocok aja kok,” balas Selvi tak mau kalah pada penjelasan Rinda.
“Mama merasa sebagai cewek kalem kah? Ketawa banget aku kalau iya,” ujar Rinda langsung tertawa puas.
Arla saja mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tawanya tak ikutan lepas kendali.
“Kamu ngeledek mama, ya,” oceh Selvi pada Narinda.
“Ya mama, sih. Mama berkaca aja deh sama aku. Begituloh bentukan mama. Yakali emaknya seheboh mama, akunya kalem,” balas Rinda langsung kabur menjauh dari ocehan mamanya dan menghampiri Zian.
Selvi memasang muka jutek dengan kelakuan putri semata wayangnya yang suka sekali bikin heboh. Kemudian kembali pada Arka.
“Gimana, Nak?”
“Apanya, Ma?”
“Prisha gimana menurut kamu?”
“Ma, aku sudah jelaskan dari jauh-jauh hari, kan. Aku nggak akan pernah membuka hati untuk siapapun termasuk Prisha.”
“Arka ..”
“Mama juga harus menghormati keputusan yang aku ambil,” sergahnya. “Bahkan jika kondisiku normal pun, Prisha juga nggak akan pernah ku masukkan dalam posisi wanita yang akan ku beri perasaan berlebih. Dia anak dari kilen bisnis papa, yaudah hanya sekadar itu saja,” lanjutnya menegaskan.
“Kenapa? Dia kurang apa, sih, Nak?”
“Ma, bukan dia yang kurang. Tapi aku. Aku yang banyak kurangnya, jadi aku nggak mau kalau kekuranganku mengubah alur kehidupan anak orang jadi lebih buruk.”
“Ma, Kak Prisha itu terlalu kaku dan serius kalau mau mama sandingkan dengan Kak Arka. Aku kalau bicara sama Kak Prisha saja berasa sungkan sebadan-badan. Saking kalemnya. Mau bercanda jadi mikir panjang, takut salah tema,” terang Rinda.
“Ih, Rinda ...”
“Ya mama dengar sendiri kakak bilang apa, kan. Aku kan cuman menambahkan.”
“Rinda...,” lerai Zian pada tingkah Rinda.
Narinda malah memberengut, tapi langsung pulih saat rangkulan Zian membuat juteknya langsung pudar.
Rinda langsung bergeser, merengkuh Livia dari sisi lain hingga gadis itu kini terkunci di antara dua pelukan yang hangat.“Dengar ya, Livi. Kamu nggak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari siapa pun,” bisik Rinda, suaranya bergetar menahan geram sekaligus pedih. “Kamu berhak merasa aman. Kamu berhak dilindungi di dalam rumahmu sendiri.”“Tapi... beliau Mamaku, Kak,” cicit Livia di sela tangisnya yang mulai membasahi kaus Hagia. Kalimat itu terdengar seperti sebuah pembelaan putus asa, cara Livia menghibur dirinya sendiri agar tidak membenci darah dagingnya sendiri.“Dan kamu anaknya, Vi,” sahut Rinda tegas, menangkup kedua pipi Livia yang basah agar gadis itu menatapnya. “Hubungan darah itu seharusnya membuat kamu disayangi dan didekap, bukan dijadikan samsat pelampiasan amarah.”Tangis Livia pecah semakin hebat. Pertahanan egonya lebur total. Jeje, yang biasanya memegang rekor paling cerewet, kini hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Tangannya bergerak ritmis, m
“Pak Arka kenapa?”Pertanyaan Livia seketika memotong sisa tawa di udara. Rinda mengembuskan napas panjang, bahunya merosot seolah beban berat baru saja diletakkan di sana. Di sebelahnya, Jeje memilih bungkam, memberikan ruang penuh bagi Rinda untuk mengambil alih kendali pembicaraan.Hagia pun ikut terdiam di sudut tempat tidur. Gadis itu awalnya hanya berniat mampir untuk memastikan keadaan sahabatnya pasca-insiden, tetapi atmosfer ruangan yang mendadak berubah pekat membuatnya terseret ke dalam pusaran obrolan yang jauh lebih serius.“Vi, aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu,” ujar Rinda, memajukan tubuhnya dengan tatapan mengunci manik mata Livia.“Apa, Kak?” Livia berkedip polos.“Kamu benar-benar suka sama Kak Arka?”Livia sempat kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Pertanyaan macam apa ini? pikirnya. Bukankah selama ini dia sudah sekampung memperlihatkan ketertarikannya pada dosen super-menyebalkan itu? Bahkan Rinda sendiri yang paling sering menjadikannya bahan ledekan.
Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran
Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b
Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi
Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa







