"Kamu itu anak pelakor! Nggak pantas sama anakku!" "Jadi dia anaknya si pelakor itu, ya? Kamu putusin, dia! Mama nggak mau punya calon menantu anaknya pelakor!" Anak Pelakor. Begitulah orang-orang selalu menyebutku. Ya, memang tidak dipungkiri sih, hal itu benar adanya. Tapi mengapa? Mengapa aku jadi anak pelakor? Aku juga nggak mau menjadi anak dari wanita yang merebut suami orang. Kenapa harus aku yang jadi anak pelakor. Kenapa aku harus mendapatkan sanksi sosial dari perbuatan ibuku di masa lalu? Bahkan sanksi itu berdampak pada kehidupan pribadiku. "Ra, maafin aku, ya. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan ini. Ibu memintaku putus sama kamu. Sekali lagi, aku minta maaf. Mungkin ... kita bukan jodoh. Aku harap kamu mau mengerti dan relakan aku pergi," kata Dimas seraya melepaskan genggaman tangannya. "Baiklah, aku ngerti, kok. Kamu nggak perlu minta maaf, Dim. Mungkin aku yang salah." Kucoba melengkungkan senyum meski terpaksa. Dimas meminta bertemu di cafe dekat kampu
Last Updated : 2026-08-11 Read more