Share

Hamil

Author: Aisyah Ais
last update publish date: 2026-08-18 14:01:04

Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu.

Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain.

Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.

Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku.

"Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar.

"Iya, Bi."

Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk.

"Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebentar kemudian mengambil segelas air putih dan meneguknya.

Afrin terlihat tenang tanpa bicara, sementara Ibu dari tadi terlihat sumringah dan sesekali tersenyum menoleh pada Om Ronal.

Kami mulai makan malam. Tidak ada banyak obrolan, hanya suara denting sendok beradu dengan piring yang terdengar nyaring di telinga. Sesekali Afrin meminta diambilkan ini dan itu padaku, aku hanya nurut.

Selesai makan, aku membantu Bi Inah membawa piring-piring kotor ke dapur. Saat akan mencucinya Bi Inah melarang. "Biar Bibi saja, Non. Tadi Ibu sudah berpesan."

"Berpesan apa, Bi?"

"Non Dira kembali aja ke ruang tengah. Katanya ada yang akan disampaikan," papar Bi Inah.

Aku pun mengelap tangan yang basah dan menuju ruang tengah.

"Dira, cepat ke sini. Ibu punya kabar bagus!" Ibu kelihatan bersemangat dan memintaku duduk.

Bersebelahan dengan Athar, aku pun duduk. Ibu dan Om Ronal duduk berdampingan, tangan mereka selalu bertautan. Sementara itu, Afrin seolah tidak peduli dan malah asyik mengutak-atik ponselnya.

"Begini, Ibu mau bilang sesuatu, kabar yang bagus. Ibu sedang hamil. Sudah lima minggu," kata Ibu dengan mata berbinar.

Hal yang pertama kulihat adalah ekspresi Afrin. Dia kaget, ponselnya jatuh begitu saja. Sementara di sampingku, Athar terlihat mencebik dan melipat tangannya. Namun, berbeda dengan Om Ronal yang terlihat begitu senang.

"Kamu yakin, Lan?"

"Iya, Mas. Aku sudah periksa. Kita bakal punya bayi."

"Tapi umurku sudah tua."

"Meskipun sudah tua, artinya kamu masih hebat, kan, Mas?"

Om Ronal terlihat bangga, lalu mengelus perut Ibu.

"Dasar sampah!" Athar membuang bantal sofa dan pergi dari ruang tengah.

"Athar!" teriak Om Ronal, tapi tidak dihiraukan oleh Athar.

"Apa dia nggak suka, Mas?"

"Biarin aja, anak itu memang susah diatur."

Afrin terlihat sedih, tangannya menggenggam ujung sofa dengan kuat dan seperti menahan tangis. Aku tahu, dia pasti sangat sedih.

"Aku akan punya anak lagi di usiaku? Rasanya masih nggak percaya. Kalian bakal punya adik lagi," ujar Om Ronal padaku dan Afrin.

"Besok kita akan rayakan kehamilan ini agar semua orang tahu. Sekarang, kita istirahat dulu biar bayinya baik-baik saja." Om Ronal menggandeng Ibu ke kamar.

Afrin berlari ke belakang, kulihat matanya memerah. Aku mengikutinya, dan dia duduk sambil memeluk lutut di taman belakang. Dia menangis tersedu-sedu, sesekali mengusap air mata itu.

Aku nggak tega. Kudekati dia dari belakang dan kusentuh pundaknya. "Frin," panggilku lembut.

Dia menoleh dengan wajahnya yang merah dan air mata memenuhi wajah cantiknya. Dia menatapku nyalang, lalu menepis tanganku di pundaknya.

"Ngapain lo!" teriaknya langsung berdiri menghadap ke arahku.

"Frin, kamu tenang dulu, aku hanya mau nemenin kamu," bujukku.

"Pergi lo, Ra! Gue nggak butuh lo! Lo pasti seneng, kan, nyokap lo hamil sekarang? Lo seneng, kan, bakal punya adik dari bokap gue? Biar kalian bisa lebih sesukanya di rumah gue, semakin banyak yang bisa kalian nikmati dari bokap gue. Iya, kan?" teriak Afrin.

"Aku nggak mikir gitu, Frin. Aku tahu ibuku memang salah sama kamu, sama keluarga ini. Tapi aku nggak tahu kalau Ibu bakal hamil anak papa kamu."

Afrin masih berdiri dengan napas memburu, menatapku dengan tatapan tajam dan sesekali menyeka air mata yang terus mengalir.

"Kamu tenang dulu ya, aku temenin kamu di sini. Aku cuma nggak mau kamu sedih."

Aku berusaha menggapai tangannya dan berniat mengajaknya duduk, memeluknya, lalu mengelus pundaknya untuk menenangkannya. Namun, dia menepis tanganku.

"Nggak usah sok baik, lo! Ini semua gara-gara lo yang nggak bisa jaga ibu lo yang jalang itu! Gue benci lo, Dira! Gue benci lo, gue benci ibu lo! Gue benci sama semua yang berhubungan sama lo!"

Afrin maju dan tangannya menarik rambutku. Dia sangat emosional, tapi aku nggak nyangka dia bakal sebrutal ini. Rambutku ditariknya kuat, rasanya sakit.

"Stop, Frin. Lepasin!"

Athar datang dan menarik tangan adiknya dari rambutku. Aku terlepas dan jatuh karena dorongan Afrin.

Athar memeluk Afrin yang kini menangis sesenggukan. "Kamu yang tenang ya, jangan gegabah. Jangan kayak gini, Afrin. Kakak tahu kamu sedih, Kakak juga sedih, tapi nggak harus kayak gini."

Afrin melepas pelukan itu dan mendorong dada kakaknya menjauh darinya.

"Kakak juga mau belain dia? Gila! Pakai pelet apa sih, lo, Ra! Bahkan kakak gue juga belain lo dan nggak peduli sama gue!" Tangan Afrin menunjuk ke arahku.

"Semuanya udah lo rebut, Dira! Apa lagi sekarang yang mau lo ambil dari gue!" Dengan suara bergetar, Afrin menangis tersedu-sedu seraya membentakku.

Aku begitu sedih melihatnya menangis seperti itu.

"Afrin, tenang dulu."

"Nggak! Aku nggak bisa tenang karena Kakak juga belain dia! Kakak mau coba melindungi Dira sekarang. Iya, kan? Kenapa? Kakak masih sayang, sama dia? Kakak kasihan lihat dia aku marahin? Kakak masih cinta sama dia? Jawab, Kak!"

Athar hanya diam saja dan menatapku, lalu kembali menatap adiknya lagi. Apa benar, dia masih sayang sama aku. Sekilas aku melihat Athar yang dulu aku kenal sebelum akhirnya menjadi seperti orang asing.

"Kamu salah paham, Frin. Kakak bukan mau melindungi dia. Kakak cuma nggak mau kamu berlarut-larut sedih dan marah. Kamu marah pun percuma karena semua sudah terjadi. Yang terpenting sekarang, kamu jangan sedih-sedih lagi. Di sini masih ada Kakak yang selalu ada dan akan terus melindungi kamu. Kakak janji," ujar Athar, menakup pipi adiknya yang masih sesenggukan.

"Tapi Papa bakal punya bayi, Kak. Dia pasti bakalan lebih sayang sama bayi itu nantinya. Gimana kalau Papa nggak sayang dan nggak mau lagi sama Afrin?"

"Kamu masih punya Kakak. Lagian kita masih ada Mama yang jauh lebih sayang sama kita. Kalau di sini kamu nggak dapat yang kamu mau, kita ke rumah Mama aja."

"Tapi aku nggak mau ninggalin rumah ini. Ini rumah kita, Kak. Rumah yang ada dari aku lahir. Orang lain yang hanya numpang, nggak berhak enak-enakan menguasai rumah ini." Afrin menoleh padaku, seakan kata-kata itu tertuju padaku.

"Kamu tenang aja, Kakak bakal lakuin apa pun yang bikin kamu bahagia."

"Terus, kenapa tadi Kakak belain dia?" Afrin menunjuk ke arahku, Athar hanya tersenyum sinis.

"Dia itu orang yang nggak perlu dipedulikan. Aku cuma nggak mau kamu habisin tenaga buat orang nggak penting!" kata Athar menoleh padaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Bab 10. Lagi-lagi Dihina Anak Pelakor

    "Lucu banget! Hari ini ternyata ada adegan lucu banget. Lumayan lah ya, buat hiburan. Ha ha."Kuseka air mata yang baru menggenang di pelupuk mata. Aku akan semakin malu jika Athar melihat aku menangis."Awas, aku mau lewat." Aku melangkah, tapi Athar menghalangiku."Kenapa? Malu, ya? Seisi cluster ngetawain kamu, ya? Yaa resiko, sih." "Aku tahu kamu benci aku, Athar. Aku tahu aku memang selalu salah. Tapi aku juga punya hati!" Tak sanggup lagi menahan semua gejolak yang ada dalam dada, aku menumpahkannya. Terserah jika dia ingin menertawakanku, aku tidak peduli. Tangisku pecah. Aku memegangi dada yang terasa begitu sesak dan penuh.Athar terdiam melihat reaksiku. Mungkin ini terlihat berlebihan, tapi terserah pemikirannya.Aku mulai menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan, lalu mengusap air mata ini. Athar masih membeku. Kulihat matanya menyimpan sesuatu yang lain. Aku tidak tahu apakah itu rasa kasihan, atau hanya sekedar perasaan tak peduli."Tolong minggir, aku mau lew

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Bab 9. Kehebohan

    Aku benar-benar heran dengan pemikiran dan sikap ibuku. Bisa-bisanya dia malah begitu ingin memperlihatkan semua yang dimilikinya kepada Tante Diana, wanita yang telah dia sakiti hatinya sebegitu parahnya. Aku sungguh malu dengan tingkah ibuku."Ibu nggak serius, kan? Jangan, gila, Bu." "Aku memang gila. Kenapa? Dulu dia sangat merendahkan aku di depan banyak orang. Meski aku merebut suaminya, harusnya dia sadar diri kenapa Mas Ronal lebih memilih aku. Lagian, dulu dia sendiri yang milih pisah. Padahal Mas Ronal sudah beri dia pilihan untuk menjadikan aku madunya. Harusnya dia bersyukur, tapi dia malah memilih mundur. Bukan salah aku, dong. Aku nggak pernah merebutnya, aku bahkan rela berbagi suami dengannya. Dia saja yang sok-sokan." Ibuku semakin parah. Pemikirannya malah semakin kacau. Jelas-jelas dia yang menjadi akar masalah, tapi malah menyalahkan Tante Diana."Ibu benar-benar nggak bisa diselamatkan. Pemikiran Ibu benar-benar gila!""Sudahlah, Dira. Kamu nggak perlu ikut camp

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Merasa Malu

    Aku masih berharap semua yang aku dengar tadi hanyalah kebohongan. Aku nggak mau mengakui ucapan Dimas tadi itu benar. "Itulah kenapa dia nggak suka aku deketin kamu lagi. Dia merasa aku adalah saingannya. Aku juga tahu, kamu masih bimbang dengan perasaan kamu ke aku meskipun kita sudah pacaran setahun. Makanya kamu biasa aja saat kemarin aku minta putus. Iya, kan, Ra?"Ya, yang Dimas bilang itu memang benar. Perasaanku padanya memang masih ambigu. Meskipun aku menjalaninya selama setahun, tapi perasaanku padanya lebih ke ingin menjalani hidup apa adanya, layaknya seorang perempuan yang memiliki pacar, lalu melanjutkan ke jenjang pernikahan.Aku hanya ingin memiliki hidup yang semestinya. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan seseorang yang bisa menerima dan menemaniku setiap saat.Namun, entah mengapa hatiku memang tidak merasakan cinta yang mendalam pada Dimas, seperti perasaanku terhadap Athar, dulu. Dulu aku penuh kekaguman, juga merasa begitu bahagia walau hanya mendengar naman

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Seperti Dulu

    Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Mengharap

    Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Hamil

    Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status