INICIAR SESIÓNEntah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa
Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di
Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta
Ibuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran? Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang
Dua tahun lalu, aku dan dia pernah berjanji akan selalu bersama, saling menjaga, saling melindungi, dan saling menyayangi. Athar, laki-laki yang sering kusebut dalam doa agar aku dan dia perdisatukan dalam satu atap. Tuhan menjawab doaku. Kami sekarang tinggal dalam satu atap. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai saudara tiri. Sekarang dia membenciku dan aku pun benci karena harus menjadi adik tirinya. Bukan hanya karena aku adik tirinya, tetapi karena aku adalah anak dari perempuan yang merebut kebahagiaan keluarganya. Wajar jika dia tidak peduli seseorang merusak hidupku. Mungkin baginya, aku harus membayar harga atas perbuatan ibuku pada keluarganya. "Nurut aja deh, nanti juga kamu bakal minta lagi!" Aku terpejam dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Berontak sekuat tenaga, tapi tubuhku tak seberapa jika dibandingkan mereka bertiga. Mereka menyeretku ke toilet pria, menyumpal mulutku dengan kain dan memegangi tanganku sangat kencang. Salah satu dari mereka membuk
Kenapa harus aku yang jadi anak pelakor? Kenapa aku harus mendapatkan sanksi sosial dari perbuatan ibuku di masa lalu? Bahkan sanksi itu berdampak pada kehidupan pribadiku saat ini. Andai bisa memilih, aku tidak ingin lahir sebagai anak pelakor. ----- Pagi hari keluarga ini begitu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seperti biasa, aku lebih dulu bangun dan membantu di dapur. Meski Om Ronal sering melarang karena aku sudah dianggap anaknya, tidak lantas membuatku nyaman jika ikut dilayani dan diam tanpa aktivitas. Aku lebih senang memasak bersama Bi Inah karena memang terbiasa dengan pekerjaan dapur. Lagi pula, aku juga cukup sadar diri. Tidak mau dibilang numpang makan dan tidur di rumah mewah. Terlebih, ada Athar dan Afrin sebagai anak pemilik rumah yang selalu memusuhiku. "Sini, Non, biar Bibi saja yang lanjutin masak. Non Dira mau ke kampus, kan?" Bi Inah mengambil alih masakan yang sudah hampir selesai. "Makasih, Bi, aku mandi dulu." Kutinggalkan Bi Inah dan ber







