Share

Tragis

Author: Aisyah Ais
last update publish date: 2026-08-13 21:43:02

Kenapa harus aku yang jadi anak pelakor? Kenapa aku harus mendapatkan sanksi sosial dari perbuatan ibuku di masa lalu? Bahkan sanksi itu berdampak pada kehidupan pribadiku saat ini. Andai bisa memilih, aku tidak ingin lahir sebagai anak pelakor.

-----

Pagi hari keluarga ini begitu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seperti biasa, aku lebih dulu bangun dan membantu di dapur. Meski Om Ronal sering melarang karena aku sudah dianggap anaknya, tidak lantas membuatku nyaman jika ikut dilayani dan diam tanpa aktivitas.

Aku lebih senang memasak bersama Bi Inah karena memang terbiasa dengan pekerjaan dapur. Lagi pula, aku juga cukup sadar diri. Tidak mau dibilang numpang makan dan tidur di rumah mewah. Terlebih, ada Athar dan Afrin sebagai anak pemilik rumah yang selalu memusuhiku.

"Sini, Non, biar Bibi saja yang lanjutin masak. Non Dira mau ke kampus, kan?" Bi Inah mengambil alih masakan yang sudah hampir selesai.

"Makasih, Bi, aku mandi dulu."

Kutinggalkan Bi Inah dan bergegas mandi. Setelah selesai, aku turun ke bawah untuk sarapan. Om Ronal sudah duduk di meja makan sambil membenarkan dasi, sementara Ibu di sampingnya menyendokkan nasi untuknya. Afrin dan Athar sudah makan dengan lahap, duduk berdampingan.

Sungguh, aku merasa asing, tidak nyaman, dan sungkan untuk ikut sarapan bersama mereka. Kuputuskan untuk langsung pergi ke kampus saja. Namun, baru saja melangkah, Om Ronal memanggilku.

"Sarapan dulu, Ra."

Aku menoleh sambil tersenyum. "Nggak usah, Om, aku buru-buru."

"Buru-buru pun harus tetap sarapan. Jangan pergi dari rumah sambil menahan lapar. Nanti dikira Papa nggak kasih kamu makan, lagi."

Om Ronal memang selalu baik padaku. Dia memintaku memanggilnya "Papa", tapi Afrin melarangku.

"Dia kan lagi cari muka, biar diperhatiin! Kayak nggak tahu wataknya aja! Sarapan sih sarapan aja, ngapain pakai drama pagi-pagi!" Athar menyahut tanpa menoleh, masih dengan menyuap nasi ke dalam mulutnya.

"Kak Athar! Ngomong yang bener, nggak usah bikin Dira sedih, dong." Afrin menyahut, seakan sedang membelaku.

"Kamu itu kenapa sih, Thar? Nadira itu sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Kamu nggak seharusnya ngomong begitu. Harusnya kamu contoh adikmu Afrin, dia lebih bersikap dewasa dari pada kamu!" Papa Ronal terdengar menasehati anaknya.

Kulihat Athar hanya tersenyum sinis. "Keluarga apaan! Hanya tukang bikin rusuh!"

Aku menghela napas berat. Keberadaanku memang tidak diinginkan. Dan Ibu, dia hanya sibuk melayani suaminya, nggak menoleh padaku.

"Dira, jangan dengerin kakak kita yang dingin ini, ayo duduk dan makan. Nanti kita ke kampus bareng aja," ujar Afrin setelah menggeser tempat duduk untukku.

"Udah deh, cepet sarapan, nanti terlambat." Ibu akhirnya bersuara.

Dengan langkah pelan, aku menuju meja makan dan duduk hati-hati, kemudian mengambil piring. Belum sempat menyendok nasi, suara derit kursi dan sendok yang dibanting mengagetkanku.

"Drama!"

Athar berdiri dengan kesal dan meninggalkan meja makan. Dia terlihat kesal padaku setelah aku ikut duduk. Tahu begitu, lebih baik tadi aku langsung ke kampus saja.

"Athar! Hei, Athar! Dasar susah diatur!" Om Ronal ikut kesal dan mencebik.

"Selesaikan sarapan kalian, Papa pergi ke kantor dulu. Nanti kalian baik-baik ya sampai di kampus."

Om Ronal mengelap mulutnya dengan tissue, kemudian keluar bersama Ibu yang mengantarnya. Suasana sarapan pagi berubah jadi kacau setelah aku ikut bergabung. Benar-benar nggak nyaman.

"Jangan lo pikir, gue beneran mau ngajak lo ke kampus, ya. Ogah banget gue jalan bareng anak pelakor!" Afrin berdiri setelah meneguk segelas jus jeruk, kemudian mengibaskan rambutnya padaku.

Seperti biasa, dia selalu berperan sebagai saudara tiri yang baik ketika ada Om Ronal. Namun, setelah itu dia akan bersikap kasar padaku saat papanya itu tidak melihatnya.

Aku tahu, ibuku memang salah karena telah merebut papa mereka. Wajar jika mereka benci ibuku. Tapi aku, apa salahku? Tentu saja aku salah. Aku salah karena aku anaknya Wulan, si perebut laki orang yang selalu dibicarakan orang-orang.

Aku keluar setelah sarapan. Sarapan pagi yang terasa susah untuk ditelan. Padahal, masakan itu aku yang memasaknya, tapi rasanya sangat hambar dan tidak enak sama sekali.

"Mau ke kampus? Afrin sudah berangkat naik mobil. Bukannya kamu mau bareng dia?" Aku berpapasan dengan Ibu.

"Aku naik bus saja, Bu," kataku sembari mencium tangannya.

"Kenapa kamu ngalah, sih? Harusnya ikut aja, lagian papamu sudah bilang kalian harus bareng ke kampus! Anak itu memang kurang ajar, nggak ada sopan-sopannya sama aku! Biar gimanapun, aku ini juga ibunya, harusnya dia lebih sopan dan baik juga sama kamu!"

"Bu!" potongku cepat. "Ibu sadar nggak sih, Ibu yang sudah menghancurkan hidup Afrin dan Athar! Ibu yang udah rebut papa mereka dan pisahin mereka dari Tante Diana! Wajar mereka kayak gitu ke kita, Bu! Kenapa Ibu nggak ngerasa bersalah, sih?"

"Kamu tuh ngomong apa, sih! Nggak usah ikut campur urusan orang tua, dan nggak usah ungkit-ungkit masalah itu, ya! Kamu nggak tahu apa-apa, Dira! Kamu anak kecil, nggak akan paham! Sudah, cepetan pergi ke kampus!" Ibu mengusirku dengan wajah kesal dan tidak merasa bersalah.

Sebelum aku pergi, Ibu sudah berlalu dari sana. Aku hanya menghela napas panjang. Aku sudah benar-benar nggak tahan berada di rumah ini. Tapi mau ke mana lagi jika bukan di sini. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain Ibu.

Setelah naik bus dan sampai di kampus, aku bergegas menuju kelas. Setelah kelas selesai, aku masih harus mengerjakan tugas dari dosen baru yang sepertinya memang selalu menyusahkanku.

Setelah selesai, kampus sudah sepi. Aku berjalan menuju ke toilet, tiba-tiba ada tiga anak laki-laki yang mendekat padaku. Aku pikir mereka hanya lewat. Namun, mereka malah menghadang di depanku.

"Maaf, aku mau lewat. Tolong minggir, ya," pintaku sopan. Namun, mereka malah tersenyum sinis.

"Ini ya, yang katanya anaknya pelakor itu? Cantik juga sih, pasti ibunya juga sangat cantik." Salah satu dari mereka menunjukku.

"Ibunya nggak hanya cantik, Kak, tapi sudah profesional di ranjang, ha ha ha." Satunya lagi ikut menimpali.

Mereka bertiga menatapku dengan tatapan menakutkan, kemudian maju dan mengerubungiku

"Mau apa kalian? Jangan mendekat!" bentakku.

"Wuish! Cantik-cantik kok galak!"

"Pergi! Atau aku teriak!" tegasku lagi seolah mengancam, meski dalam hati aku sudah sangat ketakutan.

"Jangan takut, Cantik. Ibumu pandai goda laki orang, kamu pasti jauh lebih pandai nanti."

"Ya iyalah, kan belajar dari emaknya."

Tapi sebelum itu, kita harus buat dia belajar yang bener dulu, dari kita. Biar bisa buat pengalaman, gitu! Ha ha ha."

Mereka memegangi tanganku, aku memberontak sekuat tenaga. Karena aku melawan, mereka malah menyeretku.

"Tolong lepasin! Aku mohon, Kak, lepasin aku! Tolong ...! To--" Aku berteriak, tapi mereka menutup mulutku.

Di saat aku hampir putus asa saat tubuhku diseret, kulihat sesosok laki-laki di balik tembok berdiri sambil menghisap rokok. Dia Athar. Dia sangat tenang melihatku diseret paksa seperti ini.

Aku tahu, dia pasti tidak akan menyelamatkanku. Dia sangat benci padaku, pasti tidak peduli jika hal buruk menimpaku. Ya Tuhan, beginikah akhirnya nasibku ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Seperti Dulu

    Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Mengharap

    Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Hamil

    Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Konflik Besar

    Ibuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran? Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Tak Dianggap

    Dua tahun lalu, aku dan dia pernah berjanji akan selalu bersama, saling menjaga, saling melindungi, dan saling menyayangi. Athar, laki-laki yang sering kusebut dalam doa agar aku dan dia perdisatukan dalam satu atap. Tuhan menjawab doaku. Kami sekarang tinggal dalam satu atap. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai saudara tiri. Sekarang dia membenciku dan aku pun benci karena harus menjadi adik tirinya. Bukan hanya karena aku adik tirinya, tetapi karena aku adalah anak dari perempuan yang merebut kebahagiaan keluarganya. Wajar jika dia tidak peduli seseorang merusak hidupku. Mungkin baginya, aku harus membayar harga atas perbuatan ibuku pada keluarganya. "Nurut aja deh, nanti juga kamu bakal minta lagi!" Aku terpejam dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Berontak sekuat tenaga, tapi tubuhku tak seberapa jika dibandingkan mereka bertiga. Mereka menyeretku ke toilet pria, menyumpal mulutku dengan kain dan memegangi tanganku sangat kencang. Salah satu dari mereka membuk

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Tragis

    Kenapa harus aku yang jadi anak pelakor? Kenapa aku harus mendapatkan sanksi sosial dari perbuatan ibuku di masa lalu? Bahkan sanksi itu berdampak pada kehidupan pribadiku saat ini. Andai bisa memilih, aku tidak ingin lahir sebagai anak pelakor. ----- Pagi hari keluarga ini begitu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seperti biasa, aku lebih dulu bangun dan membantu di dapur. Meski Om Ronal sering melarang karena aku sudah dianggap anaknya, tidak lantas membuatku nyaman jika ikut dilayani dan diam tanpa aktivitas. Aku lebih senang memasak bersama Bi Inah karena memang terbiasa dengan pekerjaan dapur. Lagi pula, aku juga cukup sadar diri. Tidak mau dibilang numpang makan dan tidur di rumah mewah. Terlebih, ada Athar dan Afrin sebagai anak pemilik rumah yang selalu memusuhiku. "Sini, Non, biar Bibi saja yang lanjutin masak. Non Dira mau ke kampus, kan?" Bi Inah mengambil alih masakan yang sudah hampir selesai. "Makasih, Bi, aku mandi dulu." Kutinggalkan Bi Inah dan ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status