แชร์

Tak Dianggap

ผู้เขียน: Aisyah Ais
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-15 17:05:04

Dua tahun lalu, aku dan dia pernah berjanji akan selalu bersama, saling menjaga, saling melindungi, dan saling menyayangi. Athar, laki-laki yang sering kusebut dalam doa agar aku dan dia perdisatukan dalam satu atap. Tuhan menjawab doaku. Kami sekarang tinggal dalam satu atap. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai saudara tiri.

Sekarang dia membenciku dan aku pun benci karena harus menjadi adik tirinya. Bukan hanya karena aku adik tirinya, tetapi karena aku adalah anak dari perempuan yang merebut kebahagiaan keluarganya.

Wajar jika dia tidak peduli seseorang merusak hidupku. Mungkin baginya, aku harus membayar harga atas perbuatan ibuku pada keluarganya.

"Nurut aja deh, nanti juga kamu bakal minta lagi!"

Aku terpejam dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Berontak sekuat tenaga, tapi tubuhku tak seberapa jika dibandingkan mereka bertiga.

Mereka menyeretku ke toilet pria, menyumpal mulutku dengan kain dan memegangi tanganku sangat kencang. Salah satu dari mereka membuka sabuk dan resleting celana, yang dua memegangi tanganku.

Tawa mereka menggema mengisi seluruh ruangan toilet yang sudah sepi, air mataku semakin deras mengalir ke pipi. Aku benar-benar sudah putus asa. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah dengan keadaan ini. Sepertinya hidupku akan hancur setelah ini.

"Dasar bedebah!"

Suara teriakan dan benturan terdengar saat aku menutup mata. Dengan kasar mereka melepaskan pegangannya pada tanganku. Saat aku membuka mata kembali, Athar sudah berdiri di ambang pintu dan salah satu dari mereka tersungkur.

Dengan brutal, Athar menghajar mereka dengan tangan kosong. Aku akui dia memang jago bela diri. Dulu aku sering ikut dengannya ke tempat latihan bela diri yang sudah dijalaninya dari SMA. Menghadapi ketiga laki-laki yang sepertinya tidak begitu bisa bela diri itu, tentulah sangat mudah bagi Athar.

Berkali-kali mereka bangun, berkali-kali itu pula Athar melayangkan bogem mentahnya ke arah mereka. Hidung dan mulut Mereka berdarah, mereka jatuh dan tidak ada yang berani bangun lagi.

"Pergi! Atau aku buat kalian hancur di sini!" teriak Athar dengan napas memburu.

Terlihat sekali kemarahan di wajah laki-laki berparas tampan itu. Wajahnya kemerahan, rambutnya yang agak panjang itu berantakan dan menutupi sebagian wajahnya.

Mereka merangkak di bawah kaki Athar dan salah satu dari mereka menyeret temannya karena tidak kuat untuk bergerak.

Aku sedikit bernapas lega ketika mereka sudah menghilang dari pandangan. Ku hembuskan napas panjang dan berucap istighfar mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Namun, juga bersyukur karena semuanya tidak terlambat.

Setelah mereka pergi, Athar membenarkan jaket kulit yang dipakainya, kemudian menghampiriku. Ku tatap wajah itu. Dia menarik rambutnya yang menutupi wajah itu ke belakang, lalu berjongkok di hadapanku.

Kemarahan yang tadi kulihat, kini telah menghilang. Aku sudah berburuk sangka padanya. Ternyata dia masih peduli padaku dan malah menyelamatkanku.

"Gimana? Seru, nggak? Pasti kamu kecewa karena aku datang mengacau, kan?"

Kutatap wajahnya lagi. Ia tersenyum sinis, seperti sedang mencemoohku. Aku heran dengan pertanyaannya.

"Kenapa? Nggak usah berterima kasih! Aku nggak butuh kata terima kasih dari kamu, soalnya aku nggak terima kata-kata apa pun dari anak pelakor!" katanya dengan sinis.

Athar berdiri lagi, kemudian mengambil sebatang rokok dari celananya dan menghidupkannya dengan korek. Asap mengepul ke udara, dia setengah tertawa.

"Sekarang kamu tahu, kan, gimana orang-orang memandang kamu?"

Dengan sisa tenaga yang ada, aku paksakan untuk berdiri meski tubuh terasa lemas dan masih ada ketakutan karena kejadian ini. Aku berjalan dua langkah untuk mendekatinya, lalu menatapnya lekat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada dalam kepala Athar tentang aku.

"Aku tahu, aku nggak pantas kamu selamatkan, tapi kenapa kamu mau nolongin aku? Dan meskipun kamu nggak mau aku bilang makasih, tapi aku tetap akan bilang makasih karena sudah menyelamatkan aku. Aku sangat bertemu kasih, Kak Athar," kataku dengan tulus.

Wajah tampan itu terlihat begitu dingin, tidak lagi seperti dulu yang senyum hangatnya selalu diberikan untukku. Dia tidak mau menoleh, hanya diam saja. Meski mulutnya selalu mencibir, ternyata dia masih punya hati nurani.

"Udah deh, nggak usah sok terima kasih. Lagian aku lakuin ini bukan karena aku peduli sama kamu. Siapa pun yang diperlakukan seperti tadi, aku pasti nggak akan biarin karena aku juga punya adik perempuan!" tegas Athar.

Puntung rokok dibuang di lantai, kemudian diinjaknya kasar. Dia menoleh, kemudian berucap, "Kalau nggak mau ada hal kayak gitu lagi, mending cepetan pulang! Kalau mereka datang lagi, aku nggak jamin bisa bantu lagi."

Athar keluar dari toilet, aku menyandarkan punggung di tembok. Rasanya masih kaget dan berusaha menenangkan diri dulu saja. Kubasuh wajah dengan air agar lebih segar. Setelah itu, aku ambil tasku yang berceceran dan bergegas keluar dari sana.

Di luar semakin sepi, Athar sudah tidak kelihatan. Mungkin dia memang tidak akan pernah peduli padaku. Ternyata aku yang terlalu berharap. Berharap masih ada sisa kepedulian, berharap masih ada kesempatan untuk menjadi seperti dulu.

Entah harapan apa ini. Aku dan dia sekarang menjadi saudara tiri setelah ibuku dinikahi oleh papanya. Namun, setidaknya aku masih ingin melihat dia tersenyum untukku, meski hanya sebatas senyum kakak untuk adiknya.

"Ayo naik, Neng, sudah nggak ada bus yang lewat. Nunggu taksi juga pasti lama banget." Seorang bapak-bapak menghampiriku menggunakan motor maticnya.

"Bapak tukang ojek?"

"Iya, ayo!" Bapak ojek itu memberikan jaket sweater berwarna ungu dan helm padaku.

"Kok sama jaket, Pak?" tanyaku keheranan.

Kalau helm, itu sudah biasa diberikan tukang ojek untuk penumpangnya, tapi ini ada jaket juga.

"Tadi Bapak habis dapat jaket gratis dari penumpang langganan, orangnya jualan baju. Jadi, Bapak dikasih satu. Jaketnya buat Neng saja, soalnya anak Bapak laki-laki, nggak mungkin dikasih ke dia," paparnya.

Aku hanya mengangguk dan berterima kasih pada tukang ojek itu kemudian menaiki motornya. Sepanjang perjalanan, aku masih kepikiran tentang kejadian tadi. Rasanya aku masih takut dan cemas.

Setelah sampai di rumah, aku turun dan mengembalikan helmnya pada tukang ojek itu.

"Hati-hati, jaga diri baik-baik. Bapak sering berada di dekat kampusmu. Nanti kalau butuh ojek, cari saja Pak Woyo, pada kenal," pesannya.

"Makasih banyak, Pak."

Aku segera masuk ke rumah setelah Pak Woyo pergi. Hari sudah hampir petang, seluruh anggota keluarga sepertinya sudah berada di rumah.

"Ngapain aja sih, kok jam segini baru pulang? Habis dari mana, sih?" Ibu berjalan sedikit lebih cepat untuk menghampiriku yang baru membuka pintu.

"Bukannya cepet pulang, malah keluyuran!" tambahnya lagi.

Bukannya bertanya apa yang terjadi padaku, Ibu malah langsung menghakimi keterlambatanku pulang. Dari dulu Ibu memang selalu begitu. Tidak mau tahu apa pun penjelasanku, hanya mengatakan apa yang menurutnya benar.

"Sudahlah, biarkan Dira masuk kamar dulu. Dia pasti capek," sahut Papa Ronal.

Ibu hanya mendengkus kesal, lalu berkata, "Sana mandi dulu, nanti kita makan malam bareng. Ada yang mau Ibu sampaikan sama kalian semua."

Aku mengangguk dan berlalu menuju ke kamar. Sampai di depan kamar, Afrin menghadangku.

"Dari mana aja lo? Ini baju siapa yang lo pakai, Ra? Pemberian cowok, kan? Dapet baru lagi?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Nggak heran sih, lo emang banyak belajar dari nyokap lo yang jalang itu!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Merasa Malu

    Aku masih berharap semua yang aku dengar tadi hanyalah kebohongan. Aku nggak mau mengakui ucapan Dimas tadi itu benar. "Itulah kenapa dia nggak suka aku deketin kamu lagi. Dia merasa aku adalah saingannya. Aku juga tahu, kamu masih bimbang dengan perasaan kamu ke aku meskipun kita sudah pacaran setahun. Makanya kamu biasa aja saat kemarin aku minta putus. Iya, kan, Ra?"Ya, yang Dimas bilang itu memang benar. Perasaanku padanya memang masih ambigu. Meskipun aku menjalaninya selama setahun, tapi perasaanku padanya lebih ke ingin menjalani hidup apa adanya, layaknya seorang perempuan yang memiliki pacar, lalu melanjutkan ke jenjang pernikahan.Aku hanya ingin memiliki hidup yang semestinya. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan seseorang yang bisa menerima dan menemaniku setiap saat.Namun, entah mengapa hatiku memang tidak merasakan cinta yang mendalam pada Dimas, seperti perasaanku terhadap Athar, dulu. Dulu aku penuh kekaguman, juga merasa begitu bahagia walau hanya mendengar naman

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Seperti Dulu

    Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Mengharap

    Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Hamil

    Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Konflik Besar

    Ibuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran? Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Tak Dianggap

    Dua tahun lalu, aku dan dia pernah berjanji akan selalu bersama, saling menjaga, saling melindungi, dan saling menyayangi. Athar, laki-laki yang sering kusebut dalam doa agar aku dan dia perdisatukan dalam satu atap. Tuhan menjawab doaku. Kami sekarang tinggal dalam satu atap. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai saudara tiri. Sekarang dia membenciku dan aku pun benci karena harus menjadi adik tirinya. Bukan hanya karena aku adik tirinya, tetapi karena aku adalah anak dari perempuan yang merebut kebahagiaan keluarganya. Wajar jika dia tidak peduli seseorang merusak hidupku. Mungkin baginya, aku harus membayar harga atas perbuatan ibuku pada keluarganya. "Nurut aja deh, nanti juga kamu bakal minta lagi!" Aku terpejam dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Berontak sekuat tenaga, tapi tubuhku tak seberapa jika dibandingkan mereka bertiga. Mereka menyeretku ke toilet pria, menyumpal mulutku dengan kain dan memegangi tanganku sangat kencang. Salah satu dari mereka membuk

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status