共有

Masih Seperti Dulu

作者: Aisyah Ais
last update 公開日: 2026-09-11 21:51:40

Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.

Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara.

"Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.

Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!"

Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur.

"Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."

Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa Valerie ke rumahnya? Tapi ya sudahlah, itu bukan urusanku lagi.

Aku hanya merasa, baru saja aku berkenalan dengan Bu Imas. Baru juga aku berpikir akan jadi menantunya. Namun ....

"Terlebih cewek yang mau lo deketin itu, anak seorang ...." Athar tidak melanjutkan perkataannya, tapi terlihat jelas bahwa ia memang ingin mengejek.

"Ngapain lo ikut campur urusan kami, sih? Lo itu nggak ada hak buat ngurusin Dira, apa lagi ngurusin gue! Lo itu bukan siapa-siapanya Dira!"

"Lo bilang gue bukan siapa-siapanya? Tapi kenapa dia tinggal di rumah gue, ya? Dia juga pakai fasilitas yang sama, sama gue, loh!"

"Terus lo mau bilang kalau lo kakaknya Dira, gitu?"

"Gue bukan kakaknya!" Athar langsung berdiri, dia kelihatan tersinggung dengan ucapan Dimas.

Dia memang tidak pernah mengakui aku sebagai adiknya meski orang tua kami sudah menikah. Aku paham perasaannya. Aku juga tidak ingin menjadi adiknya.

"Terus, kenapa lo kepo banget sama urusan kami? Kenapa? Lo cemburu, gue deketin Dira lagi? Iya?"

Mata Athar menyipit, dadanya kembang kempis seperti menahan sebuah gelombang besar yang akan meledak.

"Lo nggak suka gue deketin Dira lagi karena lo masih nggak rela dia dekat sama laki-laki lain, kan? Lo masih mau kuasai Dira, sementara lo udah jadi saudara tirinya? Lo—"

"Diam!" bentak Athar dengan suara bergetar dan rahangnya yang mengeras. "Nggak usah bacot, lo! Lo nggak ngerti apa-apa tentang gue!"

Kedua laki-laki itu saling bertatap muka dengan ekspresi mereka yang tegang dan terlihat tidak bersahabat. Kalau dibiarkan, bisa-bisa akan terjadi baku hantam di antara mereka.

"Kenapa? Yang gue bilang bener, kan?"

Athar semakin maju mendekat dan tangannya sudah memegang baju bagian atas Dimas.

"Ngomong lagi, gue hajar, lo!" Tangan kanan Athar yang membentuk tinju sudah mengambang di udara.

"Cukup!" potongku cepat.

Aku menatap Athar yang kini juga menoleh dan menatapku tajam dengan napasnya yang masih memburu, dia dengan cepat melepaskan tangannya.

Aku lalu beralih kepada Dimas yang juga sama, terlihat menahan amarah.

"Sudah, jangan bikin ribut. Sebentar lagi kelas dimulai. Ayo pergi."

Athar masih memandangi Dimas, begitu juga Dimas yang masih menatap tajam Athar saat aku menarik Dimas menjauh.

Dimas tampak tersenyum sekilas saat dia berjalan bersamaku. Aku pun sempat menoleh dan melihat Athar meninju tembok.

Apa mungkin, yang dibilang Dimas itu benar. Bahwa dia sebenarnya masih menyimpan rasa padaku, dan dia cemburu pada Dimas?

Apa pun itu, aku nggak seharusnya memikirkannya. Bukankah keadaan ini sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Aku juga sudah berhenti memikirkannya.

"Ra, jadi kamu mau maafin aku, kan?" Dimas kembali bertanya.

"Maksud kamu apa, Dim? Kan aku udah ngomong dengan jelas, kita udah putus. Nggak perlu lagi kamu bahas ini."

"Tapi kenapa kamu tarik aku, tadi? Kenapa kamu belain aku di depan Athar? Itu karena kamu milih aku dari pada Athar, kan?"

"Kamu ngomong apa, sih? Milih kamu dari pada Athar gimana maksudnya? Gini ya, Dim, aku jelasin. Aku dan kamu sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi, kita sudah selesai. Kamu sendiri yang minta kita putus. Terus yang kedua, aku dan Athar adalah saudara tiri, meski dia nggak mengakuinya."

"Tapi kamu lebih milih ngajak aku dari pada dia," sahut Dimas.

"Ini yang ketiga, dengerin. Aku bawa kamu itu bukan karena aku milih kamu ataupun Athar. Aku bawa kamu pergi karena aku tahu, Athar itu ahli bela diri. Kamu bakalan habis, kalau dia sudah marah."

Dimas terlihat kecewa.

"Tapi kamu tahu, kan, kenapa dia marah?"

"Aku kurang paham," jawabku.

"Nggak usah pura-pura nggak tahu, Ra. Dia marah bukan hanya gara-gara aku deketin kamu lagi. Dia marah karena dia nggak mau dibilang kakak tiri kamu. Dia nggak suka jadi kakak tiri kamu."

"Ya, aku tahu kok. Dia memang nggak pernah mau jadi kakak tiriku. Aku juga nggak ingin jadi adik tirinya, Dim. Andai aku bisa, aku akan cegah ibuku nikah sama Om Ronal. Aku memang pantas dibenci sama dia."

"Bukan itu maksudku, Ra."

Aku mengerutkan dahi. "Maksud kamu?"

"Dia benci karena kamu adik tirinya. Tapi dia juga benci karena dia nggak berdaya."

"Yang jelas. Aku nggak ngerti kata-katamu barusan."

"Dia masih ingin seperti dulu. Kamu masih jadi yang dia inginkan. Bukan kamu yang jadi adiknya seperti sekarang ini. Dia masih sayang sama kamu, Ra, tapi bukan sebagai adiknya. Kamu paham sekarang?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Bab 10. Lagi-lagi Dihina Anak Pelakor

    "Lucu banget! Hari ini ternyata ada adegan lucu banget. Lumayan lah ya, buat hiburan. Ha ha."Kuseka air mata yang baru menggenang di pelupuk mata. Aku akan semakin malu jika Athar melihat aku menangis."Awas, aku mau lewat." Aku melangkah, tapi Athar menghalangiku."Kenapa? Malu, ya? Seisi cluster ngetawain kamu, ya? Yaa resiko, sih." "Aku tahu kamu benci aku, Athar. Aku tahu aku memang selalu salah. Tapi aku juga punya hati!" Tak sanggup lagi menahan semua gejolak yang ada dalam dada, aku menumpahkannya. Terserah jika dia ingin menertawakanku, aku tidak peduli. Tangisku pecah. Aku memegangi dada yang terasa begitu sesak dan penuh.Athar terdiam melihat reaksiku. Mungkin ini terlihat berlebihan, tapi terserah pemikirannya.Aku mulai menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan, lalu mengusap air mata ini. Athar masih membeku. Kulihat matanya menyimpan sesuatu yang lain. Aku tidak tahu apakah itu rasa kasihan, atau hanya sekedar perasaan tak peduli."Tolong minggir, aku mau lew

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Bab 9. Kehebohan

    Aku benar-benar heran dengan pemikiran dan sikap ibuku. Bisa-bisanya dia malah begitu ingin memperlihatkan semua yang dimilikinya kepada Tante Diana, wanita yang telah dia sakiti hatinya sebegitu parahnya. Aku sungguh malu dengan tingkah ibuku."Ibu nggak serius, kan? Jangan, gila, Bu." "Aku memang gila. Kenapa? Dulu dia sangat merendahkan aku di depan banyak orang. Meski aku merebut suaminya, harusnya dia sadar diri kenapa Mas Ronal lebih memilih aku. Lagian, dulu dia sendiri yang milih pisah. Padahal Mas Ronal sudah beri dia pilihan untuk menjadikan aku madunya. Harusnya dia bersyukur, tapi dia malah memilih mundur. Bukan salah aku, dong. Aku nggak pernah merebutnya, aku bahkan rela berbagi suami dengannya. Dia saja yang sok-sokan." Ibuku semakin parah. Pemikirannya malah semakin kacau. Jelas-jelas dia yang menjadi akar masalah, tapi malah menyalahkan Tante Diana."Ibu benar-benar nggak bisa diselamatkan. Pemikiran Ibu benar-benar gila!""Sudahlah, Dira. Kamu nggak perlu ikut camp

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Merasa Malu

    Aku masih berharap semua yang aku dengar tadi hanyalah kebohongan. Aku nggak mau mengakui ucapan Dimas tadi itu benar. "Itulah kenapa dia nggak suka aku deketin kamu lagi. Dia merasa aku adalah saingannya. Aku juga tahu, kamu masih bimbang dengan perasaan kamu ke aku meskipun kita sudah pacaran setahun. Makanya kamu biasa aja saat kemarin aku minta putus. Iya, kan, Ra?"Ya, yang Dimas bilang itu memang benar. Perasaanku padanya memang masih ambigu. Meskipun aku menjalaninya selama setahun, tapi perasaanku padanya lebih ke ingin menjalani hidup apa adanya, layaknya seorang perempuan yang memiliki pacar, lalu melanjutkan ke jenjang pernikahan.Aku hanya ingin memiliki hidup yang semestinya. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan seseorang yang bisa menerima dan menemaniku setiap saat.Namun, entah mengapa hatiku memang tidak merasakan cinta yang mendalam pada Dimas, seperti perasaanku terhadap Athar, dulu. Dulu aku penuh kekaguman, juga merasa begitu bahagia walau hanya mendengar naman

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Seperti Dulu

    Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Mengharap

    Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Hamil

    Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status