LOGINIbuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran?
Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang enak. "Tolong minggir, Frin," pintaku lagi, dia pun akhirnya menjauh. "Loe habis jatuh di selokan, ya?" "Anggap aja begitu." "Dih, sok misterius. Anggap aja begitu! Kalaupun loe jatuh di selokan, gue malah seneng dengernya." Dia tertawa. "Eh, enggak deh! Jangan bilang, loe habis dibawa cowok baru loe ke tempat sepi, ya," bisiknya padaku. Aku menatapnya tajam. Selama ini aku hanya diam saat dia berkata kasar dan memakiku. Namun, kali ini dia sangat keterlaluan. Dia nggak tahu gimana rasanya aku saat ini, yang hampir saja kehilangan mahkota yang selalu aku jaga. Aku butuh ditenangkan, aku butuh pelukan dan dukungan, bukan malah dituduh sekotor itu. "Aku nggak serendah itu, Frin. Kamu boleh maki-maki aku, kamu boleh marahin aku, kamu boleh lampiasin rasa kesalmu gara-gara perbuatan ibuku itu ke aku, tapi jangan pernah ngatain aku serendah itu!" tegasku. Afrin menatapku lama dan terdiam, tetapi kemudian dia tertawa sambil memegangi perutnya dan lalu menunjukku. "Lo pikir, lo nggak kayak nyokap lo yang jalang itu? Lo nggak ada bedanya, Ra, lo itu sama kayak dia!" "Aku nggak sama!" sahutku cepat dan sedikit berteriak. Dia terdiam dan menghentikan tawanya begitu melihatku berkata dengan nada lebih tinggi dari biasanya. Aku capek, aku lelah diremehkan. "Aku mau masuk," ujarku pelan kemudian, dan Afrin akhirnya menggeser tubuhnya. Aku nggak tahu apa yang Afrin pikirkan, dan aku hanya ingin istirahat. Aku segera masuk ke kamar setelah Afrin memberiku jalan. Biarlah, dia berkata sesuka hatinya. Aku nggak akan sakit hati padanya karena dia lebih sakit hati dari pada aku. Aku hanya capek begini terus. Aku sayang sama dia, masih sayang seperti dulu. Andai ibuku nggak merebut papanya, aku dan Afrin tetap bersahabat. Dulu aku dan dia kerap pergi ke taman dan makan bersama ketika hari libur. Tante Diana, ibunya, adalah orang yang membuat aku dan Ibu akhirnya punya tempat tinggal. Tante Diana sangat baik, bahkan menganggapku seperti anaknya sendiri. Setiap kali dia dari perjalanan bisnis, aku selalu mendapatkan oleh-oleh yang sama seperti Afrin. Aku sering diajak menginap dan dimasakkan banyak makanan. Sayang sekali, Ibu merasa iri dengan Tante Diana yang memiliki segalanya. Suami tampan dan kaya, rumah mewah, karir sukses, dan keluarga harmonis. Ibu ingin menjadi nyonya rumah dan mendapatkan semua yang Tante Diana miliki. Ibu menginginkan hal yang bukan miliknya dan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkannya. Malam itu, Tante Diana mengetahui kelakuan suaminya dan ibuku. Di depan aku, Afrin, dan Athar, Tante Diana diusir oleh suaminya. Mereka bertengkar hebat. "Tega, kamu, Mas! Aku yang menemani kamu dari kamu bukan siapa-siapa. Aku yang mendukungmu sebelum kamu punya segalanya. Aku yang selama ini berjuang untuk keluarga ini. Atas dasar apa kamu mengusirku dari rumahku?" Tante Diana menangis keras malam itu. Suaminya membawa koper dan memasukkan baju-baju Tante Diana, lalu menaruhnya di samping Tante Diana yang sedang terduduk di lantai. "Kamu jahat, Mas. Kamu khianati pernikahan kita, kamu khianati aku dan anak-anak. Kamu menghancurkan rumah yang kita bangun bertahun-tahun!" "Aku juga nggak mau ini, Diana, tapi kamu yang maksa. Kamu yang keras kepala dan nggak mau ngalah." "Ngalah katamu, Mas? Aku harus ngalah dari perempuan jalang itu?" tunjuknya pada Ibu yang juga berada di sana. "Memangnya dia itu siapa, Mas, sampai aku harus ngalah dari dia? Dia itu cuma sampah yang aku pungut dari jalanan. Aku yang kasih dia pakaian, aku yang kasih dia makanan, dan aku yang kasih dia tempat tinggal!" teriak Tante Diana dengan napas memburu dan air mata yang mulai mengering. "Kamu jangan kurang ajar, Diana, dia itu sahabat kamu." "Ha ha ha, sahabat?" Tante Diana berdiri dengan tawa dan tangis yang bercampur jadi satu. "Sahabat macam apa yang meniduri suami sahabatnya? Dia itu perempuan jalang yang rela jual tubuhnya pada laki-laki nggak punya akal sehat." "Cukup, Mbak, ada anak-anak." Ibu menyela. "Diam! Kamu nggak ada hak, untuk bicara!" Tatapan Tante Diana sangat menakutkan. "Kamu nggak berhak melarang ku bicara, ini bukan rumah kamu. Kamu pikir kamu siapa, Wulan? Kamu nggak pantas ngomong sama aku. Kamu itu kotor, menjijikkan, kamu lebih hina dari anjing!" "Cukup, Diana! Jangan menyalahkan Wulan. Dia hanya butuh perlindungan. Dia sendirian, dia hanya ingin aku menjaganya," sahut Om Ronal. "Ha ha ha, butuh perlindungan, apa butuh belaian? Kalian berdua memang sangat cocok. Kamu mau melindungi dia, kan? Terus kamu biarin aku hancur, begitu? Kamu anggap aku ini apa, Mas? Kamu pikir aku nggak punya hati?" teriak Tante Diana lagi. Om Ronal memegangi pundak istrinya. "Sudahi semuanya, Diana. Aku masih bisa kasih kamu waktu untuk berpikir. Asal kamu bisa terima Wulan, aku nggak akan usir kamu dari rumah ini. Kalian berdua kan teman baik. Apa salahnya aku bantu dia? Kali ini kalau kamu mau ngalah dan menuruti kemauanku, kita bisa jalani seperti biasanya." Om Ronal berkata dengan yakin. Tante Diana langsung tertawa sampai memegangi perutnya. "Aku nggak gila kayak kamu, Mas. Aku nggak butuh! Aku nggak sudi sama bekas gigitan anjing! Kamu pikir, kamu pantas buat direbutin? Kamu nggak layak! Aku minta cerai!" Tante Diana kemudian mencari Athar dan Afrin, mengajaknya untuk pergi dari sana. "Kamu nggak bisa bawa mereka, mereka itu anak-anakku." Om Ronal mencengkeram erat tangan Tante Diana. "Kamu nggak bisa misahin aku dari anakku. Aku yang lahirin mereka, bukan kamu!" Tante Diana nggak terima. "Kalau kamu minta cerai, kamu nggak akan bisa ketemu anak-anak!"Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa
Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di
Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta
Ibuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran? Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang
Dua tahun lalu, aku dan dia pernah berjanji akan selalu bersama, saling menjaga, saling melindungi, dan saling menyayangi. Athar, laki-laki yang sering kusebut dalam doa agar aku dan dia perdisatukan dalam satu atap. Tuhan menjawab doaku. Kami sekarang tinggal dalam satu atap. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai saudara tiri. Sekarang dia membenciku dan aku pun benci karena harus menjadi adik tirinya. Bukan hanya karena aku adik tirinya, tetapi karena aku adalah anak dari perempuan yang merebut kebahagiaan keluarganya. Wajar jika dia tidak peduli seseorang merusak hidupku. Mungkin baginya, aku harus membayar harga atas perbuatan ibuku pada keluarganya. "Nurut aja deh, nanti juga kamu bakal minta lagi!" Aku terpejam dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Berontak sekuat tenaga, tapi tubuhku tak seberapa jika dibandingkan mereka bertiga. Mereka menyeretku ke toilet pria, menyumpal mulutku dengan kain dan memegangi tanganku sangat kencang. Salah satu dari mereka membuk
Kenapa harus aku yang jadi anak pelakor? Kenapa aku harus mendapatkan sanksi sosial dari perbuatan ibuku di masa lalu? Bahkan sanksi itu berdampak pada kehidupan pribadiku saat ini. Andai bisa memilih, aku tidak ingin lahir sebagai anak pelakor. ----- Pagi hari keluarga ini begitu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seperti biasa, aku lebih dulu bangun dan membantu di dapur. Meski Om Ronal sering melarang karena aku sudah dianggap anaknya, tidak lantas membuatku nyaman jika ikut dilayani dan diam tanpa aktivitas. Aku lebih senang memasak bersama Bi Inah karena memang terbiasa dengan pekerjaan dapur. Lagi pula, aku juga cukup sadar diri. Tidak mau dibilang numpang makan dan tidur di rumah mewah. Terlebih, ada Athar dan Afrin sebagai anak pemilik rumah yang selalu memusuhiku. "Sini, Non, biar Bibi saja yang lanjutin masak. Non Dira mau ke kampus, kan?" Bi Inah mengambil alih masakan yang sudah hampir selesai. "Makasih, Bi, aku mandi dulu." Kutinggalkan Bi Inah dan ber







