Share

Masih Mengharap

Author: Aisyah Ais
last update publish date: 2026-09-11 16:49:15

Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.

Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku.

"Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf."

"Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Dira! Lo udah hancurin semuanya! Lo dan ibu lo yang jalang itu, seharusnya nggak pernah datang di hidup kami. Harusnya Mama biarin aja kalian mati, di jalanan!" teriak Afrin.

Hatiku perih. Rasanya sesak dalam dada. Tapi aku tahu Afrin lebih merasakan sakit yang teramat sangat dari pada aku. Dia menyaksikan perpisahan kedua orang tuanya dan harus berpisah dari ibu kandungnya. Yang lebih menyakitkan lagi, dia juga harus tinggal dan melihat setiap hari orang yang merusak keutuhan keluarganya.

Benar. Jika kami nggak datang ke keluarga ini, mereka nggak akan menjadi seperti ini. Keluarga mereka nggak akan hancur, mereka nggak akan kehilangan peran kedua orang tua.

"Mungkin benar, harusnya kami dibiarkan saja di jalanan. Seharusnya Tante Diana nggak nolongin kami. Seharusnya aku nggak berada di sini, di rumah kalian. Maaf, Afrin, maaf. Aku minta maaf atas semua yang terjadi."

Tak terasa air mata ini menetes begitu saja. Air mata kesedihan, penyesalan, juga ketidakberdayaan. Aku lelah harus hidup dimusuhi dan selalu disalahkan. Aku lelah, hidup bersama dengan mereka yang terus-menerus mencaciku.

"Air mata buaya! Nggak usah merasa tersakiti! Kamu seneng, kan, lihat keluarga ini hancur? Aku akui, ibumu itu memang hebat. Bisa membuat papaku luluh dan membuatnya patuh. Tapi bukan berarti kalian berhasil menguasai semuanya. Kami masih ada dan selama itu, kalian nggak akan bisa kuasai semuanya!" kata Athar tegas.

Aku nggak bisa melarang ibuku untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Dan aku juga nggak bisa memaksanya untuk mengikuti keinginanku. Namun, aku bisa melakukan apa yang aku bisa. Aku harus pergi dari rumah ini. Ke mana pun itu, asal bisa hidup dengan nyaman.

Athar dan Afrin melangkah masuk meninggalkan aku yang masih terisak. Aku terduduk dan menangis melampiaskan rasa sedih ini. Aku sendirian. Tak ada pelukan, tak ada yang peduli dengan perasaanku.

Sudahlah, semua ini memang salah Ibu. Dan salah Ibu akhirnya menjadi salahku juga.

Malam ini aku tidur dengan mata sembab. Ketika bangun, mataku sedikit bengkak. Aku coba menutupi dengan bedak dan eyeshadow warna coklat agar nggak begitu kelihatan. Namun, tetap saja Bi Inah tahu kalau aku semalam habis nangis.

"Jangan sedih ya, Non. Masih ada Bibi."

"Menurut Bibi, aku orang yang jahat ya, Bi?"

"Enggak lah, Non Dira itu anak yang baik, suka membantu pekerjaan rumah dan rajin. Hanya saja ...." Ucapan Bi Inah tergantung.

"Hanya saja apa, Bi?"

"Maaf ya, Non. Hanya saja ibunya yang kurang baik," lanjut Bi Inah.

Aku menghela napas panjang sembari melanjutkan memotong bawang merah.

"Aku sudah coba menasehati Ibu, Bi. Aku sudah bilang bahwa apa yang dilakukan itu salah, tapi Ibu nggak mau dengar. Sebelum Tante Diana tahu, aku sudah curiga sama kedekatan Om Ronal dan Ibu. Aku sudah memperingatkan Ibu agar jaga jarak. Ibu hanya bilang iya, tapi tiba-tiba malah semuanya jadi runyam." Aku berusaha mengingat semuanya.

"Bukan salah Non."

"Aku merasa bersalah, Bi. Aku nggak bisa menjaga Ibu. Aku juga merasa nggak pantas berada di rumah ini. Kesannya aku bahagia di atas derita orang lain. Mungkin akan lebih baik kalau aku tinggal di tempat lain."

"Jangan ngomong begitu, Non. Memangnya mau ke mana? Non Dira nggak salah. Non Afrin dan Den Athar cuma salah paham saja sama Non. Dulu kan kalian teman baik. Bibi yakin suatu saat kalian akan baikan lagi."

"Ya, semoga saja, Bi."

Seperti biasa, pagi setelah masakan tersaji, aku mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Hari ini aku nggak ikut sarapan. Aku bilang bahwa sudah membawa bekal dan buru-buru ke kampus.

Sekilas kulihat Athar hanya diam dan tidak bereaksi. Sementara Afrin, dia hanya melirikku sesaat sebelum aku pergi.

Sampai di kampus, aku menuju kantin untuk membeli roti dan air mineral. Sebenarnya bekal yang kusebutkan tadi hanyalah kebohonganku. Sebelum kelas dimulai, aku memakannya sambil membaca buku. Sampai seseorang duduk di sampingku dan aku menoleh.

"Ra, aku mau ngomong." Dimas menatapku.

Aku tidak mempedulikannya dan kembali memakan rotiku.

"Ra, please dengerin aku. Aku tahu aku salah karena mutusin kamu, tapi aku masih cinta sama kamu," ujarnya lagi, hingga akhirnya aku menolehnya.

Melanjutkan makan roti, aku hanya menolehnya sekilas. Setelah roti habis, kuteguk air mineral yang tadi kubeli.

"Kamu mau masuk?" Dimas bertanya saat aku berdiri dan merapikan tas.

"Iya." Aku tidak menghiraukannya dan berjalan menjauh.

"Tunggu, Ra!" Ia mencekal tanganku.

"Mau apa lagi, Dim? Kita udah putus, jadi nggak usah cari-cari aku lagi!" tegasku.

"Ra, aku tahu aku udah bikin kamu kecewa, tapi aku masih sayang sama kamu, Ra. Aku lakuin itu karena Ibu yang nyuruh."

"Ya, aku tahu, tapi aku nggak nyalahin ibumu, Dim. Dia sudah lakuin hal yang benar, dan kamu harusnya nurut sama ibumu. Jangan ganggu aku lagi!"

Dimas nggak mau melepaskan tangannya dariku. Cekalannya semakin kuat. "Lepas, Dim!"

"Nggak! Aku masih mau sama kamu, Ra." Dia tetap ngotot.

"Tapi ibumu nggak akan setuju. Please, Dim, jangan susahin aku lagi. Aku capek!"

"Kita bisa cari cara biar Ibu setuju," ucapnya dengan yakin.

"Nggak mau nggak usah dipaksa, kali!" Seseorang tiba-tiba menyahut dari arah depan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Bab 9. Kehebohan

    Aku benar-benar heran dengan pemikiran dan sikap ibuku. Bisa-bisanya dia malah begitu ingin memperlihatkan semua yang dimilikinya kepada Tante Diana, wanita yang telah dia sakiti hatinya sebegitu parahnya. Aku sungguh malu dengan tingkah ibuku."Ibu nggak serius, kan? Jangan, gila, Bu." "Aku memang gila. Kenapa? Dulu dia sangat merendahkan aku di depan banyak orang. Meski aku merebut suaminya, harusnya dia sadar diri kenapa Mas Ronal lebih memilih aku. Lagian, dulu dia sendiri yang milih pisah. Padahal Mas Ronal sudah beri dia pilihan untuk menjadikan aku madunya. Harusnya dia bersyukur, tapi dia malah memilih mundur. Bukan salah aku, dong. Aku nggak pernah merebutnya, aku bahkan rela berbagi suami dengannya. Dia saja yang sok-sokan." Ibuku semakin parah. Pemikirannya malah semakin kacau. Jelas-jelas dia yang menjadi akar masalah, tapi malah menyalahkan Tante Diana."Ibu benar-benar nggak bisa diselamatkan. Pemikiran Ibu benar-benar gila!""Sudahlah, Dira. Kamu nggak perlu ikut camp

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Merasa Malu

    Aku masih berharap semua yang aku dengar tadi hanyalah kebohongan. Aku nggak mau mengakui ucapan Dimas tadi itu benar. "Itulah kenapa dia nggak suka aku deketin kamu lagi. Dia merasa aku adalah saingannya. Aku juga tahu, kamu masih bimbang dengan perasaan kamu ke aku meskipun kita sudah pacaran setahun. Makanya kamu biasa aja saat kemarin aku minta putus. Iya, kan, Ra?"Ya, yang Dimas bilang itu memang benar. Perasaanku padanya memang masih ambigu. Meskipun aku menjalaninya selama setahun, tapi perasaanku padanya lebih ke ingin menjalani hidup apa adanya, layaknya seorang perempuan yang memiliki pacar, lalu melanjutkan ke jenjang pernikahan.Aku hanya ingin memiliki hidup yang semestinya. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan seseorang yang bisa menerima dan menemaniku setiap saat.Namun, entah mengapa hatiku memang tidak merasakan cinta yang mendalam pada Dimas, seperti perasaanku terhadap Athar, dulu. Dulu aku penuh kekaguman, juga merasa begitu bahagia walau hanya mendengar naman

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Seperti Dulu

    Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Masih Mengharap

    Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Hamil

    Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta

  • Mengapa Aku Anak Pelakor?    Konflik Besar

    Ibuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran? Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status