Malik membulatkan mata. Tangan yang masih mencengkeram pintu gerbang itu meremas kuat besi dingin di hadapannya. Ia menunduk dalam, menahan rasa malu yang seketika membanjiri dirinya. Entah Sheila mendengar seluruh hinaan Maya atau tidak, Malik benar-benar merasa malu berada di hadapan perempuan itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu kecil, begitu rendah, seolah harga dirinya telah diinjak-injak tanpa sisa. Dengan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Malik kembali menegakkan tubuh. Ia membuka gerbang, lalu melangkah masuk dengan perasaan yang tak karuan. Ada marah, malu, kecewa, sekaligus sakit hati yang bercampur menjadi satu. Aneh, tatapan Sheila justru membuatnya salah tingkah dan bingung setengah mati. Sementara Maya dengan segala tetek bengek hinaannya mendadak tak berpengaruh apa-apa padanya. "Ah, sial!" umpatnya sambil meninju pintu yang masih tertutup. Brak! Suara bedebam nyaring terdengar. Tangan Malik langsung memerah, terlihat lebam dan sedikit berdarah, ta
Last Updated : 2026-09-03 Read more