Malik menoleh, melotot kaget. "Eh, Bang Malik?! Bang Malik, ya, kan?!" seru perempuan itu kegirangan. Tangannya bahkan langsung mengalung mesra ke lengan kekar Malik. "Eh, Sania, lepaskan," tolak Malik dengan halus, sambil berusaha melepaskan genggaman tangan sania. Rupanya suara bising Sania terdengar oleh Sheila dan sang mertua. "Ada apa lagi itu di luar berisik banget!" ketus Ratih, ibu Aris, melangkah sambil bersungut-sungut diikuti oleh Sheila. "Loh, Malik!" ujar Ratih tak kalah kaget. Malik memang tegang, tapi ia berusaha bersikap biasa saja. "Iya, Bu Ratih, apa kabar?" salam Malik pada Ratih. Sudah kadung ketahuan, pikirnya. Otaknya bergerak cepat memikirkan alasan apa yang bisa disampaikan pada ibu dari sahabatnya itu. "Ngapain ada di sini, Bang?" ucap Sania lagi. Wajahnya makin mepet ke tubuh Malik. Sheila yang melihat itu menatap datar dengan tangan dilipat di dada, namun tatapan matanya tak bisa membohongi Malik. "Em, aku kerja di sini, Bu. Tadi Nyonya Shei
Last Updated : 2026-09-07 Read more